Baret Merah dan 40 Tahun Operasi Woyla | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 16.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Baret Merah dan 40 Tahun Operasi Woyla

Peringatan hari jadi Kopassus (Korps Baret Merah) ke 69 tahun ini, memiliki makna tersendiri, mengingat hampir bersamaan waktunya dengan 40 Tahun Operasi Woyla. Opini Aris Santoso.

Pasukan Kopassus

Gambar ilustrasi: Pasukan Kopassus

Secara kebetulan tanggal  dua peristiwa besar ini berdekatan: Kopassus dilahirkan pada 16 April 1952, sementara Operasi Woyla 31 Maret 1981.

Kopassus adalah satuan yang sudah terpandang sejak dilahirkan, salah satunya karena warna baretnya yang tipikal (merah). Dalam perkembangannya kemudian, ada beberapa satuan lain di jajaran TNI dan Polri,  yang juga memakai warna baret yang mirip, namun Baret Merah Kopassus tetap terlihat berbeda, semacam primus inter pares.

Performa Kopassus semakin membahana, ketika sukses dalam Operasi Woyla, sebuah serbuan kilat menumpas pelaku pembajakan pesawat maskapai Garuda di Bangkok, di bawah pimpinan Letkol Inf Sintong Panjaitan. Nama Operasi Woyla diambil dari nama badan pesawat  tipe DC-9 yang dibajak tersebut,  Woyla sendiri  adalah nama sebuah sungai di Aceh.

Operasi Woyla dan paralelisme sejarah

Saat pelaksanaan Operasi Woyla, sebenarnya satuan kontrateror Kopassus masih dalam fase rintisan, dengan pemimpin proyeknya adalah (dengan pangkat saat itu) Letkol (Inf) Sintong Panjaitan (Akmil 1963, terakhir letjen). Proses persiapan embrio satuan antiteror ini mendapat supervisi langsung dari Letjen Benny Moerdani, senior Baret Merah yang rasanya tidak perlu dijelaskan lagi. Peristiwa heroik tersebut begitu bermakna, sehingga  angka tahun peristiwa (1981), disematkan dalam nama satuan antiteror Satgultor (Satuan Penanggulangan Teror) 81 Kopassus.

Kebetulan pada tahun 1981 itu pula, dekat-dekat dengan pelaksanaan Operasi Woyla, telah dikirim dua perwira Kopassus ke Jerman, yakni Mayor (Inf) Luhut B Panjaitan (lulusan terbaik Akmil 1970) dan Kapten (Inf) Prabowo Subianto (Akmil 1974), untuk mengikuti pelatihan satuan antiteror. Sebagaimana diketahui, sejak dekade 1970-an, di Jerman (Barat) terdapat satuan antiteror GSG-9 , yang menjadi kiblat satuan serupa di banyak negara, termasuk Kopassus (Indonesia).

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

Penulis: Aris Santoso

Sepulangnya dari Jerman, keduanya melanjutkan pengembangan satuan yang sebelumnya sudah dirintis Sintong Panjaitan, ditandai dengan berdirinya Den (Detasemen)-81/Antiteror Kopassus. Dengan Luhut dan Prabowo, masing-masing ditunjuk sebagai Komandan dan Wakil Komandan. Saat Prabowo memimpin Kopassus (1995-1998), nama Den-81 sempat berganti nama menjadi Grup 5/Antiteror, sehingga angka penanda tahun (81) sempat hilang, namun itu hanya sementara.

Ketika zaman berganti, penanda 81 kembali muncul, ketika namanya berganti lagi menjadi Satgultor 81. Begitulah perjalana Satgultor 81 berjalan beriringan dengan nama besar satuan induknya. Memang Operasi Woyla  telah menjadi   sejarah, namun tetap selalu aktual, karena gerakan ekstremisme atau radikalisme selalu ada, bahkan skalanya semakin tinggi.

Paralelisme sejarah telah berlaku dalam operasi Kopassus. Ketika didirikan dulu, awalnya diniatkan untuk menumpas gerakan separatis DI/TII di wilayah Jawa Barat secara tuntas. Dalam Operasi Woyla, para pelaku pembajakan mengklaim diri sebagai Komando Jihad. Organisasi terakhir ini acapkali dianggap sebagai lanjutan perjuangan ideologis DI/TII di era sebelumnya.

Demikian juga ancaman teror kiwari, sebagian besar datang dari kelompok radikal atau fundamentalis berbasis  agama. Pada titik ini kita bisa mengingat kembali ungkapan Mayjen Tarub (Akmil 1965), mantan Komandan Kopassus dekade 1990-an awal, yang kira-kira berbunyi seperti ini: (kondisi) sekarang adalah ketidakpastian, yang membuat Kopassus harus lebih siap lagi.

Meski diucapkan hampir tiga dekade lalu, kiranya ucapan Mayjen Tarub tetap relevan sampai hari ini. Masyarakat kita sangat kompleks, baik karena faktor primordial, maupun karena disparitas kesejahteraan. Mungkin kita tidak pernah mengira, ketika demokrasi semakin maju pasca-reformasi, politik identitas justru muncul dan semakin menguat, sebuah fenomena yang bisa dibaca sebagai "ketidakpastian” yang pernah dimaksudkan Mayjen Tarub (terakhir Kasum ABRI, dengan pangkat letjen) dulu.

Meningkatnya skala ancaman teror, direspons negara dengan pembentukan dua lembaga, yaitu BNPT  (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dan Koopsus TNI (Komando Operasi Khusus TNI). Tentu saja ini adalah kebijakan negara, dan ada argumentasi tersendiri sehubungan pembentukan lembaga itu. Soal bagaimana jalur komando dua lembaga tersebut, terhadap satuan antiteror seperti Satgultor 81, bagi publik awam masih belum terlalu terang, mungkin  termasuk bagi prajurit  Kopassus sendiri. Karena bagi prajurit lapangan, yang lebih diutamakan adalah kemampuan teknis, dan sukses dalam menjalankan misi. Soal kebijakan, regulasi, dan alur perintah operasi, bebannya lebih pada pimpinan di level negara (termasuk parlemen),  bukan prajurit di lapangan.

Baret Merah dan Kekuasaan

Akhir Februari lalu, salah seorang perwira generasi pertama (generasi pelopor) Korps Baret Merah, yaitu Aloysius Sugiyanto telah berpulang. Almarhum Aloysius Sugiyanto adalah perwira intelijen sejati, begitu banyak perannya, tapi figurnya kurang dikenal, bahkan saat meninggal pun hampir luput dari liputan media. Singkatnya, Aloysius Sugiyanto adalah personifikasi dari Korps Baret Merah, yang sejatinya memang satuan intelijen (sandi yudha).

Nama Aloysius Sugiyanto tidak bisa dipisahkan dari embrio Kopassus, ketika dirinya yang ditugaskan Kolonel AE Kawilarang (Pangdam Siliwangi awal 1950-an), untuk melobi Mochammad Idjon Djanbi agar bersedia membantu Kodam Siliwangi yang berencana membentuk pasukan berkualifikasi komando. Saya kira publik sudah tak asing lagi dengan posisi Idjon Djanbi dalam pembentukan Kopassus.

Membahas kiprah Aloysius Sugiyanto, baik saat masih aktif (periode awal) di Kopassus, maupun saat bergabung dalam Opsus (operasi khusus) pimpinan Ali Murtopo, adalah bab tersendiri, yang penjelasannya tidak akan selesai dalam tulisan pendek seperti ini. Namun satu hal yang penting dicatat, Aloysius Sugiyanto bisa disebut sebagai purwarupa (prototype) perwira Baret Merah yang kemudian dekat dengan kekuasaan.

Keterlibatan purnawirawan Baret Merah dalam politik jelas tidak muncul dari ruang hampa, portofolio yang bersangkutan saat masih aktif tentu menjadi referensi publik.  Seperti juga Aloysius Sugiyanto, latar belakang dirinya sebagai ajudan Kolonel Ignatius Slamet Riyadi (perwira terkenal dari Solo). Slamet Riyadi,  meskipun tidak sempat menyaksikan Kopassus lahir dan berkembang, namanya akan tetap dikenang sebagai penggagas (bersama Kolonel AE Kawilarang) pembentukan satuan komando tersebut. Kemudian keberhasilan Aloysius Sugiyanto sebagai orang yang berhasil melobi Idjon Djanbi, tentu menjadi nilai tambah tersendiri.  Namanya mungkin saja  kurang dikenal di mata publik (awam), tetapi Aloysius Sugiyanto tetap memperoleh tempat spesial, utamanya bagi pihak yang ingin memahami lebih jauh soal keterlibatan eksponen Baret Merah dalam politik dan kekuasaan.

Secara kebetulan, nama-nama yang telah disebut di atas, terkait perjalanan satuan antiteror, seperti Sintong Panjaitan, Luhut B Panjaitan, dan Prabowo Subianto, sampai hari ini namanya masih beredar, dan telah menjadi ikonik pula. Jalan mereka menuju panggung kekuasaan, seolah lebih ringan, berkat rintisan beberapa figur senior, seperti Benny Moerdani dan Aloysius Sugiyanto.

Bahkan kini sudah berlanjut pada generasi berikut, melalui nama Lodewijk F Paulus (Sekjen Partai Golkar, Akmil 1981) dan Andogo Wiradi (Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Akmil 1981), yang saat masih aktif di Kopassus juga dibesarkan di satuan Den-81. Bahkan Lodewijk pada suatu masa pernah menjadi Komandan Satgultor -81, dan sempat pula menjadi Danjen Kopassus.

Seolah ada kemudahan bagi mantan perwira Baret Merah saat berniat terjun ke politik praktis. Segala privilese itu tentu saja tidak bisa dipisahkan dari nama besar Korps Baret Merah, sejak dilahirkan (tahun 1952) sampai hari ini. Antara dunia militer dan politik (praktis) merupakan ranah yang berbeda, oleh karenanya karakter tantangan juga berbeda.

Bila tantangan mereka di dunia militer telah paripurna, tantangan di ranah politik masih terus berjalan. Tantangan di ranah politik adalah bagaimana memenangkan hati rakyat, guna meraih simpati. Peta jalan menuju kejayaan politik, tentu  lebih kompleks ketimbang operasi tempur di belantara, atau pertepuran jarak dekat (PJD) di kawasan urban. Terlebih bila kita ingat kembali durasi Operasi Woyla, sangat praktis dan kilat, cuma tiga menit.

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Luangkan menulis pendapat Anda atas opini di atas di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

 

Laporan Pilihan