1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Mayjen TNI Mohamad Hasan - Danjen Kopassus
Foto: privat

Danjen Kopassus: Kita Jaga Alam, Alam Akan Jaga Kita

Prihardani Ganda Tuah Purba
15 November 2020

DW mewawancarai Mayjen TNI Mohamad Hasan, sosok penggerak utama upaya pemulihan di Telaga Saat yang merupakan lokasi titik 0 dari Sungai Ciliwung. Bersama para relawan, gerakan pemulihan ia mulai pada 2018 lalu.

https://www.dw.com/id/danjen-kopassus-cerita-pemulihan-titik-0-sungai-ciliwung/a-55592411

Mayjen TNI Mohamad Hasan yang saat ini menjabat sebagai Danjen Kopassus adalah sosok di balik dimulainya gerakan pemulihan di Telaga Saat yang terletak di kawasan puncak Bogor, Jawa Barat.

Telaga yang menjadi titik 0 dari Sungai Ciliwung itu awalnya tertutup gulma dan sedimentasi hingga 80% sehingga mempengaruhi kualitasnya sebagai kawasan tangkap hujan. Baru kemudian pada tahun 2018, Hasan yang masih menjabat sebagai Danrem 061/Suryakencana merintis gerakan pemulihan dengan melibatkan ribuan relawan.

Dua tahun berselang, Telaga Saat yang kondisi awalnya mengkhawatirkan telah berubah menjadi lokasi destinasi wisata eksotis bagi warga. Namun, pekerjaan rumah belum selesai. Perlu ada penghijauan yang maksimal agar Telaga Saat dapat tetap lestari. 

Mengapa pemulihan telaga ini penting untuk dilakukan dan bagaimana cerita pemulihannya sejak 2018 lalu, DW secara ekslusif mewawancarai Danjen Kopassus Mayjen TNI Mohamad Hasan terkait hal ini.

DW Indonesia: Boleh diceritakan gagasan awal revitalisasi di Telaga Saat ini seperti apa pak? 

Mayjen TNI Mohamad Hasan: Awalnya dulu waktu pertama menjabat sebagai Danrem Bogor waktu itu di 2018, itu saya langsung menghadapi berbagai macam bencana. Di mana waktu itu Bogor masuk musim penghujan, sehingga saya berpikir bahwa ini harus ada satu langkah yang signifikan untuk bagaimana mencegah terjadinya kembali banjir di Bogor yang setiap tahun melanda Bogor sampai dengan ke Jakarta.

Sehingga saat itu saya melihat bahwa ada satu titik yang sudah lama terbengkalai, dan itulah yang akhirnya menjadi pusat perhatian saya ternyata bahwa karakter Ciliwung ini memang bermula dari berbagai macam situ dan telaga yang ada di atasnya, mengalir sampai ke bawah berkumpul kemudian juga mengalir sampai ke Jakarta. Nah, salah satu titiknya itu, titik 0 Ciliwung itu yang di Telaga Saat. 

Itulah saya mulai mencari data kemudian juga melakukan survei dan akhirnya saya mencoba membuat gerakan untuk membuat Telaga Saat ini berfungsi kembali sebagai penampung air pertama dari air Ciliwung ini.

Siapa saja yang terlibat dan apa saja upaya pemulihan yang dilakukan?

Jadi setelah saya survei saya lihat, wah ini kok danau yang luasnya hampir 6 hektar ternyata tertutup hampir 80-85%. Airnya yang harusnya bisa menampung 5 juta kubik air, itu terlihat airnya cuman 15% atau mungkin kurang dari 15%. Sehingga waktu itu saya mengambil kesimpulan bahwa ini harus kita ini [revitalisasi]. Setelah saya tanyakan ke beberapa tokoh masyarakat ternyata pernah digali, pernah direvitalisasi tapi tidak maksimal.

Telaga Saat
Kondisi awal Telaga Saat, tertutup gulma dan sedimentasi hingga 80%.Foto: privat

Mulailah saya membuat gerakan, mengumpulkan hampir 1.500 orang waktu itu di Telaga Saat. Itu 1.500 orang dari hampir 100 sekian komunitas yang menjadi penggerak awal, baik komunitas alam maupun komunitas pemuda saya ajak semua, saya apelkan disana dan ya alhamdulillah bisa bekerja dengan baik waktu itu. Walaupun manual dulu waktu itu, tidak pakai alat [berat], ada cangkul kita bawa cangkul, ada perahu kita bawa perahu. Jadi hampir 1.500 orang saya gerakkan ke Telaga Saat waktu itu.

Intinya yang ingin saya tunjukkan adalah inilah titik 0 Ciliwung sehingga harus dijaga. Sehingga waktu itu gerakan saya hanya bagaimana membuka kembali ataupun minimal menormalkan kembalilah dengan cara manual dulu waktu itu. Saya kasih perahu karet, cangkul segala macam, saya kerahkan juga anggota-anggota saya dan dari kepolisian, berbagai unsur TNI Polri juga terlibat disitu melakukan gerakan awal yang kami beri nama ‘Ngalokat Sirah Cai Ciliwung’, artinya mengembalikan kepala air dari Ciliwung itu dalam bahasa Sundanya. Saya koordinasi dengan mereka dan juga kita ada sedikit acara adat disitu ya untuk minta izinlah dan alhamdulillah waktu itu terbuka sedikit.

Jadi gerakan pertama itu hanya membuka dan membuka mata oranglah untuk menunjukkan “Ini lho, titik 0 Ciliwung supaya kamu tahu”. Sekaligus menyadarkan ke masyarakat untuk bisa memelihara situ di Bogor yang sudah hampir hilang. Dulu ada sekitar 200-an situ dan telaga di Bogor itu, sekarang tinggal 96.

Mayjen TNI Mohamad Hasan - Danjen Kopassus
Bersama ribuan relawan, gerakan pemulihan Telaga Saat dimulai pada 2018.Foto: privat

Mengapa pemulihan Telaga Saat ini menjadi penting pak?

Hakikat awalnya bahwa itu tadi Ciliwung ini berasal dari berbagai macam sumber mata air, yang berasal khususnya dari Gede Pangrango. Di Bogor ini ada dua, ada Gede Pangrango dengan Halimun Salak. Gede Pangrango itu titik air awalnya adalah Ciliwung, kalau Halimun Salak itu Cisadane. Nah, ini dua sungai besar inilah yang sebenarnya menghidupi Jakarta dan Banten sebenarnya, yang berawal dari Kota Bogor.

Niat awal saya membuka Telaga Saat berarti membuka seluruh mata orang bahwa itulah yang harus dikerjakan, bagaimana mengembalikan fungsi situ-situ dan hutan sekitarnya supaya air itu betul-betul tertampung dan juga bisa mengalir dengan baik, sehingga debit air di bawah itu tidak akan besar kalau situ-situ terpelihara, hutan-hutan terpelihara.

Sekaligus juga kita membuat semacam penyadar kepada masyarakat bahwa sungai itu satu hal yang penting untuk kita pelihara. Dari sungai itulah kita bisa hidup sebenarnya. Dan hakikat orang Padjajaran, orang Sunda, orang Jawa Barat itu kan sebenarnya hidup dari sungai. Semua desa, semua kampung di sana pakai nama Ci semua kan, Ci itu artinya air. 

Tentu pekerjaan rumah belum selesai pak, Apa lagi upaya pemulihan yang akan terus dikerjakan untuk melindungi Telaga Saat ini pak?

Nah itulah sebenarnya yang kemarin kami tekankan, saya waktu itu dengan Kepala BNPB ke sana menekankan bahwa ini tetap dipelihara, tetap dilestarikan karena masih ada pekerjaan yaitu bagaimana aliran sungai ini betul-betul sampai ke bawah dan melewati jalur yang benar. Air hujan yang turun dari langit itu tidak langsung berada di permukaan tapi menyerap ke tanah kemudian menjadi mata air sehingga kita butuh di sekitar Telaga Saat itu penghijauan, penghijauan yang maksimal.

Dan daerah-daerah konservasi yang ada di sekitar Gede Pangrango dikembalikan fungsinya lagi karena kalaupun kelihatan masih hijau, tetapi ada beberapa spot yang disurvei oleh relawan saya itu sudah gundul, sudah ada villa-nya, sudah ada segala macamlah disitu, nah itu yang perlu kita sadarkan lagi.

Saya punya prinsip bahwa alam ini jangan dikapitalisasi. Jangan diambil profitnya, tapi ambil benefitnya. Manfaatnya kita ambil bukan keuntungan dari alam itu kita ambil. Karena kalau kita ambil keuntungan, kita akan merusak alam. Tapi kalau mengambil manfaat dari alam itu kita akan sama-sama menjaga alam itu supaya tetap bermanfaat. Dan kita pun bisa memanfaatkan itu untuk masyarakat sekitarnya. 

Karena saya lihat masyarakat sekarang ini sudah mulai enak. Ada yang jadi operator rakit di situ, ada yang menjadi guide, fotografer, bahkan ada yang memanfaatkan untuk berwisata di situ. Dan alhamdulillah sekarang, Telaga Saat itu hari biasa sekitar 200-300 orang yang datang. Hari libur bisa 1.500 yang datang ke situ katanya.  

Tolong pelihara. Jangan buang sampah sembarangan. Tolong yang kesana yang mau camping bawa pohon tanamlah disitu. Nah itu mungkin pesannya untuk program pemulihan berikutnya.

Indonesien Armee | Kopassus | Privatbilder von Mohamad Hasan
Potret Telaga Saat usai direvitalisasi. Masih perlu penghijuan yang maksimal untuk membuatnya tetap lestari.Foto: privat

Apa pesan Anda bagi masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan?

Pesan yang paling pentingnya, sesuai dengan tagline yang sering kita hembuskan ya. Ya kita jaga alam, alam jaga kita. Maknanya apa, bahwa itu tadi seperti saya sampaikan di awal tolong alam jangan dikapitalisasi, tapi manfaatnya kita ambil dari situ. Sehingga masyarakat yang berada di sekitarnya itu mengerti bahwa hutan ini harus dipelihara karena sumber kehidupan mereka. Kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang selalu menghargai alam sebenarnya.

Saya bukan orang Sunda tapi saya orang Minang. Saya diberikan pemahaman oleh orang tua saya bahwa alam itu adalah guru kita. Ada semboyan di Minang itu alam terkembang jadi guru. Sehingga ya kita belajar dari alam, karena alam itu adalah ayat-ayat Tuhan yang tersirat semua, sehingga harus dipelihara.

Hutan, sungai, danau, telaga itu semua adalah infrastruktur alam yang sebenarnya kalau kita pelihara akan menjaga kita. Kalau sungai dihancurkan, ya kita akan kena banjir, kalau hutan digunduli kita akan kena longsor, demikian juga kalau telaga tidak kita pelihara ya airnya akan tersumbat. Sehingga kata-kata yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat ya kita jaga alam, alam akan jaga kita. Dalam agama apapun pasti kita disuruh untuk memelihara alamdengan sebaik-baiknya.

Kita terus menggelorakan semboyan ini, kita jaga alam, alam akan jaga kita. Karena itulah yang akan menjadi kekayaan kita ke depan. 

Wawancara untuk DW Indonesa dilakukan oleh Prihardani Ganda Tuah Purba dan telah diedit sesuai konteks.