Tenang, Pemilu Bukan Akhir Segalanya | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 16.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

kolom

Tenang, Pemilu Bukan Akhir Segalanya

Siapa pemenang pemilu 2019? Sesaat setelah pilpres berlalu, setengah dari penduduk negeri akan merasakan kekecewaan besar, ujar penulis dan kritikus Uly Siregar.

Pemilihan Umum (pemilu) 17 April 2019 sudah di ambang mata, para buzzer di media sosial makin nyaring bersuara, bawel, dan bikin pusing. Kandidat presiden dan wakil presiden yang berlaga di pilpres 2019 pun pol-polan tampil di masyarakat. Presiden Joko Widodo, misalnya, tiba-tiba doyan naik transportasi publik, dari kereta komuter KRL Jakarta-Bogor, hingga moda transportasi terbaru MRT. Dengan kalem, Jokowi menjajal naik MRT "sebagai penumpang biasa” (demikian klaimnya di Twitter) setelah sebelumnya naik bus Transjakarta, turun di depan Hotel Pullman, jalan kaki ke Stasiun Bundaran HI, lalu naik MRT ke Lebak Bulus.

Lawan Jokowi pun tak kalah gesit. Prabowo dan Sandi bertemu dengan segala jenis lapisan masyarakat. Memang sudah waktunya jor-joran kampanye. Pasangan capres-cawapres dari dua kubu Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno secara resmi memulai kampanye terbuka Minggu, 24 Maret lalu. Pasangan calon nomor urut 01 memulai kampanye Pilpres 2019 di Zona B, sementara paslon 02 mengawali kampanye di Zona A.

Penulis; Uly Siregar

Penulis; Uly Siregar

Sebenarnya pemilu yang digelar nanti tak hanya memilih presiden dan wakilnya. Pagelaran politik lima tahunan ini juga memilih sejumlah orang yang tak kalah pentingnya, yakni anggota DPR-RI, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota, dan anggota DPD. Hanya saja yang gampang terlihat, rakyat sepertinya paling bersemangat menunjukkan dukungan atau justru kebencian untuk urusan capres dan cawapres. Apalagi di jagat media sosial. Dari mulai perang tagar di Twitter, berbagi meme, hingga berita-berita yang tak jelas sumber dan kebenarannya disebar di grup WhatsApp. Doa-doa dan ucapan selamat pagi yang disampaikan di grup WhatsApp keluarga atau alumni sekolah pun dilengkapi dengan puja-puji kandidat presiden dan wapres yang didukung, bersaing dengan caci-maki yang dilempar pendukung saingan. Panggilan "cebong”, "kampret” berseliweran tak putus-putus.

Saat jelang pilpres ini, suasana memang makin panas. Perpecahan konflik antarwarga semakin banyak terjadi. Perbedaan pilihan politik yang kerap diwarnai politik identitas tak hanya menciptakan potensi konflik agama, tapi juga perpecahan dalam pertemanan, bahkan keluarga. Tahun 2014 dikabarkan angka perceraian tetiba melonjak tinggi menjelang pemilu, seperti dikemukakan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa pada acara rapat koordinasi Muslimah NU dan BKKBN di kantor BKKN saat itu. Meskipun mungkin ada juga sedikit kelegaan soal penyebab perceraian. Perceraian jelang pilpres tahun 2014, menurut laporan, tidak lagi didominasi kekerasan dalam rumah tangga atau perselingkuhan, tapi disebabkan oleh perbedaan politik.

Kawan atau Lawan

Dalam urusan pemilu, prinsip yang didukung para pendukung fanatik sederhana: Kalau tak satu kubu dengan saya dalam urusan politik, kita bermusuh! Di Facebook, tak jarang ditemui woro-woro: Kalau kalian tak suka dengan posting-an saya soal presiden pilihan saya, kalau bikin ribut di lapak saya dan bawel ngeledek jagoan saya, maaf, ya, akan saya unfriend, kalau perlu blokir!

Padahal dalam konteks kebebasan berbicara, sesungguhnya sangat penting mempertimbangkan pandangan dari mereka yang kontra dengan pandangan kita sendiri. Mensterilkan diri dari pandangan berbeda akan menumbuhkan sikap dogmatis, yang bila terus dipertahankan akan mengurangi kemampuan membentuk opini yang cerdas. Mereka yang hanya dikelilingi orang-orang yang memiliki pandangan senada seperti hidup dalam dunia yang tak nyata, terjebak dalam ilusi bahwa merekalah pemilik kebenaran tunggal.

Hanya sedikit hal yang layak menjadi alasan memutuskan hubungan pertemanan, apalagi keluarga. Kalau seseorang membuat hidupmu atau orang terkasih sengsara, bolehlah ia ditinggalkan sebagai kawan. Ikatan persaudaraan pun boleh dilupakan kalau ia merusak hidup. Namun, untuk pemilu yang hanya berlangsung lima tahun sekali di Indonesia, mungkin perlu kita renungkan lagi dalam-dalam. Apakah cukup beralasan memutuskan tali pertemanan hanya karena mereka menikmati memuja-muji Jokowi seakan ia serupa nabi kecil yang kiprahnya menyelamatkan Indonesia? Atau mengapa harus muak dengan mereka yang meyakini paslon 02 bisa membuat Indonesia jadi lebih maju daripada petahana?

Baiklah, mungkin yang bikin paling sebal adalah serangan bertubi-tubi dari lawan berbekal informasi tak akurat, bahkan cenderung hoaks. Sulit dibantah, hal ini memang sangat mengganggu. Kesal tentu rasanya melihat paman atau sepupu di grup WhatsApp keluarga begitu gencar mengirim hoaks soal Jokowi antek-antek PKI. Atau bagaimana Prabowo disebut-sebut bukan Muslim karena ikut berdansa-dansi dengan keluarga saat perayaan Natal. Sedikit-sedikit pendukung kedua kubu saling menyerang, entah untuk tujuan apa, karena toh bila sudah jadi pendukung masing-masing paslon rasanya sedikit sekali kemungkinan akan berubah pikiran.

Kalah Pemilu Bukan Tragedi

Sesaat setelah pilpres berlalu, bisa dibilang setengah dari penduduk Indonesia akan merasakan kekecewaan besar karena jagoannya kalah. Menjadi sangat penting untuk mengantisipasi kemungkinan berada dalam pihak yang kalah. Kecuali kita masih hidup di zaman Orde Baru, saat kemenangan Suharto dalam setiap pemilu adalah keniscayaan, di alam demokrasi Indonesia saat ini rasanya tak ada prediksi yang mutlak bisa meramalkan kemenangan pihak yang berlaga merebutkan kekuasaan. Tak hanya di Indonesia. Hillary Clinton, misalnya, yang diprediksi memenangkan pilpres melawan Donald Trump ternyata harus menelan kekalahan pahit.

Kita sekarang sangat beruntung, hidup di zaman yang dinamis dan penuh dengan optimisme. Coba pelajari lagi sejarah Orde Baru yang kelam dimana pemilu lebih merupakan acara lima tahunan penuh formalitas untuk mengesahkan pemimpin negara yang itu-itu saja plus antek-anteknya yang ikut melanggengkan kekuasaan. Sekarang situasi sudah sangat berbeda. Kalaupun jagoan kita kalah, lima tahun lagi akan muncul jagoan lain yang dengan sepenuh hati bisa kita dukung. Dan selama lima tahun menunggu memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan berikutnya, kita pun bebas mengawasi jalannya pemerintahan dengan melemparkan kritik paling pedas. Harus diakui, tak gampang lolos dari pengawasan masyarakat yang kian hari kian kritis dan sulit dipuaskan. Pemimpin zaman sekarang harus jauh lebih berhati-hati dalam bertindak dan sebisanya memuaskan hati warganya bila tak ingin dikecam habis-habisan.

Jadi, meskipun survei berseliweran di sana-sini, memenangkan kandidat yang kita cintai atau justru memvonis jagoan kita bakal kalah, jangan lupa memberi ruang di hati untuk siap-siap akan kemungkinan kalah. Atau menang. Yang pasti, lunakkan hati, dan hadapi pemilu dengan tenang. Rayakan kebebasan menggunakan hak pilih dengan riang gembira. Datangi TPS pada waktunya dan coblos surat suara untuk paslon yang Anda pikir layak memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan. Setelahnya, syukuri dan terima apapun hasilnya. Percayalah, Indonesia akan tetap berdiri tegar meskipun dipimpin oleh mereka yang datang dari kubu lawan. Puk-puk-puk…

@sheknowshoney bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Anda dapat berbagi opini di kolom komentar di bawah ini.

Laporan Pilihan