Rocky Gerung: Dua Belas Menit Setelah Prabowo Dilantik, Saya Kasih Kritik Pertama | Mukalama | DW | 12.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pemilu 2019

Rocky Gerung: Dua Belas Menit Setelah Prabowo Dilantik, Saya Kasih Kritik Pertama

Rocky Gerung gemar mempolarisasi. Jejaknya penuh kontroversi. Banyak yang menyangka dia sebagai pendukung Prabowo Subianto. Kepada DW dia mengaku siap beroposisi jika bekas menantu Soeharto itu berkuasa.

Di sebuah kedai kopi di seberang Taman Menteng, Jakarta, Rocky Gerung mengucap ramalan muram tentang Pemilu Kepresidenan 2019. Dia berpendapat, nihilnya keberanian untuk rekonsiliasi dari kedua kubu akan berujung pada konflik horisontal baru.

Untuk mendamaikan keduanya dibutuhkan poros ketiga yang kadung tergerus oleh dua kekuatan politik yang sedang bersaing di Senayan. Apakah Partai Demokrat yang dia maksud? Soal ini Rocky bergeming.

Dalam perbincangan dengan reporter DW Rizki Nugraha, Rocky mengaku tidak frustasi jika ucapannya sering disalahpahami. Dia menghayati peran antagonis tersebut, selama bisa memicu diskursus publik yang sehat.

Namun tidak sedikit yang menudingnya ikut merawat pola komunikasi dehumanis, lantaran acap melontarkan hinaan kasar yang melukai harkat dan merendahkan martabat. “Saya menikmati kedunguan mereka,” kata dia. Simak wawancara lengkapnya berikut ini:

DW: Bung Rocky, Anda lebih merasa sebagai pendukung Prabowo Subianto atau oposan Joko Widodo?

Rocky Gerung: Saya itu mendukung kepentingan masyarakat bebas. Karena Jokowi menutup ruang kebebasan makanya saya tidak memilih dia. Sering disebut saya mendukung Prabowo, saya tidak pernah mendukung Prabowo. Atau Rocky Gerung sedang menggelar karpet merah buat Prabowo, saya katakan nggak, saya nggak menggelar karpet merah, dia punya kapet sendiri silakan bawa ke istana warnanya macam-macam. Tapi supaya karpet baru di istana bisa digelar karpet merah di istana mesti digulung, saya mau gulung itu.

Kenapa 2019 butuh presiden baru?

Karena problem kita itu adalah membersihkan jalan dari 2019 ke 2024 untuk periode sekarang, yang tidak sempat kita lakukan pemerintahan sekarang karena ditahan oleh threshold 20 persen yang saya ajukan ke Mahkamah Konstitusi. Ini mengapa kita terjebak oleh fanatisme sekarang karena tidak ada alternatif, tidak ada jalan ketiga, tidak ada capres alternatif karena ditutup oleh pemerintah dengan strategi threshold itu. Makanya itu kita bawa ke Mahkamah Konstitusi, tapi MK menolak, bahkan diputuskan setelah kampanye sudah mulai. Itu kemungkinan akal demokrasi Mahkamah Konstitusi menjadi mahkamah konstipasi. Tidak bisa mengolah buah demokrasi karena dia sembelit melulu.

Menurut Anda masih ada tempat untuk poros ketiga?

Kalau sekarang sudah terlambat, karena fanatisme itu sudah mengeras, sudah mengkristal, itu akibatnya. Jadi salah pemerintah kenapa tidak membuka ruang itu sejak awal. Kenapa harus pasang threshold padahal sistem kita presidensial. Threshold itu sistem parlementer, kita presidensial jadi tidak pakai threshold. 'Kan dari awal memang ada kecurangan secara kelembagaan dan secara hukum, dengan memasang threshold itu sudah kecurangan pertama.

Jadi poros ketiga tidak memiliki tempat karena belum ada kesadaran politik?

Karena poros ketiga mesti ada outlet-nya, outlet-nya ditutup. Karena itu saya ingin 2019 mendatang buka outlet baru untuk generasi baru, sekarang sudah terlambat nggak ada peluang untuk membikin forum ketiga itu. Mungkin kita mesti bayangkan bahwa satu hari setelah quick count akan ada ketegangan baru dan itu mesti ada tokoh-tokoh alternatif yang berupaya untuk menjadi semacam juru bicara akal sehat. Saya membayangkan ada rektor di situ, ada ulama. Saya tidak di situ saya hanya mensponsori ruangan itu, jadi keterangan akademis untuk perlunya poros ketiga atau forum ketiga itu justru karena kita mendeteksi pengkubuan itu sudah sampai pada tingkat kristal. Mana rektor yang rada ada otak dan rada punya passion terhadap demokrasi, mana ulama yang dengan kualitas yang sama, mana LSM yang punya semangat untuk menahan konflik horizontal, tidak ada karena semuanya ada di istana. Supaya  gumpalan energi itu tidak berubah jadi perang jalanan, kita salurkan energi yang menggumpal itu melalui akal sehat LSM, akal sehat ulama, akal sehat kampus, dan itu yang tidak ada.

Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | Artikel lengkap

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait