Presiden Jerman: Agama Jangan Digunakan untuk Kepentingan Politik | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 22.08.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Majelis Agama Dunia

Presiden Jerman: Agama Jangan Digunakan untuk Kepentingan Politik

Presiden Jerman, Frank Walter-Steinmeier dalam konferensi Majelis Agama Dunia ke-10 di Lindau, Jerman mengingatkan agar agama jangan sampai disalahgunakan sehingga memicu konflik.

Lagu paling terkenal dari musik pop abad ke-20,  yang kerap diulang-ulang ketika orang-orang memimpikan masa depan yang lebih baik, adalah  "Imagine" oleh John Lennon.  Sejak  tahun1971, lagu ini telah menggerakkan jutaan orang; tentu saja karena melodinya yang indah, tetapi juga karena teks visionernya, yang mengajak orang membayangkan semua orang hidup dalam damai. Demikian disampaikan Presiden Jerman, Frank Walter Steinmeier yang mengajak semua pihak bersatu membawa perdamaian bagi dunia.

Di hadapan ratusan perwakilan lintas agama di Majelis Agama Dunia ke-10 yang diprakarsai inisiatif Religion for Peace, di Lindau, Jerman, ia mengatakan:  ”Ini juga merupakan tantangan intelektual, politik, dan paling tidak kehidupan bagi mereka yang memiliki peran dalam agama mereka, yaitu, mereka yang bertanggung jawab atas bagaimana agama mereka memengaruhi kehidupan sehari-hari.”

Ia menambahkan, iman religius bisa menjadi kekuatan besar, sungguh luar biasa, yang dapat membentuk individu untuk seluruh hidupnya, yang dapat memberi kekuatan dan makna. "Namun iman dan agama juga bisa disalahgunakan. Sebagai motivasi pada dasarnya niat dan agama lebih dari tujuan politik.” Frank Walter-Steinmeier mengingatkan agar jangan sampai agama disalahgunakan sehingga memicu konflik.

10. Weltkonferenz von Religions for Peace (picture-alliance/dpa/K.-J. Hildenbrand)

Bekerja sama mengatasi konflik dan menciptakan perdamaian di dunia menjadi tujuan digelarnya Majelis Agama Dunia

Steinmeier juga menyebutkan bahwa hingga hari ini, di banyak tempat di dunia, kita menyaksikan bagaimana sentimen dan kepercayaan agama dapat berubah menjadi kekerasan terhadap orang-orang dari agama lain, baik di Myanmar, Nigeria, Mali, di Timur Tengah, Indonesia, atau di Pakistan: "Kita mengalami berkali-kali bagaimana agama - terutama melalui pengaruh pemimpin yang sinis dan tidak bermoral - dapat menjadi kekuatan yang mengerikan, tanpa ampun.”

Majelis Agama Dunia ke-10, kali ini mengangkat tema: "Peduli Masa Depan Kita Bersama — Meningkatkan Kesejahteraan Bersama."  Ratusan pemimpin agama, tokoh pemuda dan perempuan di sektor agama dari lebih dari 100 negara akan bergabung dengan perwakilan pemerintah, organisasi antar-pemerintah, dan kelompok masyarakat sipil untuk menjalin kemitraan dalam mengatasi konflik di dunia.

Pertemuan pertama  Religions for Peace berlangsung pada tahun 1970 di Kyoto, Jepang.  Lewat pertemuan tersebut, majelis ini kian berkembang menjadi koalisi multi-agama terbesar dan paling representatif di dunia.

Selain digelar berbagai dialog, acara spiritual bersama juga dilakukan di sekitar instalasi Ring for Peace, simbol Majelis Dunia ke-10. Ring for Peace adalah cincin kayu setinggi 7,5 meter dalam bentuk strip Moebius yang dibangun di Taman Luitpold. Cincin raksasa ini terbuat dari kayu dari berbagai wilayah dunia.

(Ed: ap/ts)

Laporan Pilihan