Peneliti Jerman Dikecam Sebar ″Informasi Salah″ Virus Corona | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 06.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

virus corona

Peneliti Jerman Dikecam Sebar "Informasi Salah" Virus Corona

Informasi yang dikeluarkan peneliti Jerman bahwa virus corona dapat ditularkan individu yang bebas gejala penyakit dianggap "salah dan menyesatkan publik".

Para ilmuwan di Ludwig Maximilian University (LMU) di München, Jerman, dalam sebuah tulisan yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (NJEM), mengklaim bahwa penyakit virus corona dapat ditularkan oleh orang-orang yang "tidak menunjukkan gejala" penyakit. Namun peneliti lain mengkritik klaim itu yang dianggap telah berkontribusi pada meluasnya kepanikan dan intimidasi sosial.

Makalah yang ditulis oleh beberapa dokter di LMU dan diterbitkan di jurnal ilmiah NJEM itu menyebutkan bahwa penyebaran virus corona di Jerman disebabkan oleh seorang perempuan dari Cina yang berkunjung ke Jerman dan secara tidak sadar membawa virus itu ketika menghadiri konferensi kerja di sebuah perusahaan. Perempuan itu disebut "tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala infeksi" pada saat penularan.

Namun klaim itu sekarang dikecam para peneliti lain karena dianggap menguatkan anggapan bahwa seseorang dapat tertular virus corona dari orang yang tidak menunjukkan gejala virus.

Selama ini, para ilmuwan di Cina sudah mengeluarkan pernyataan serupa seperti tim dokter di München, namun para ahli berpendapat, anggapan itu masih terlalu dini dan belum ada bukti-bukti ilmiah yang mendukungnya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat menyatakan belum menemukan bukti bahwa jenis virus corona dapat ditularkan oleh orang yang tidak menunjukkan gejala. Lembaga kesehatan AS itu mengkritik tulisan di NJEM, karena menyebutkan juga bahwa virus dapat menyebar dari orang yang terinfeksi namun tanpa gejala dan menularkannya kepada kontak dekat mereka.

Peneliti di Jerman juga berupaya menemukan vaksin anti virus corona (picture-alliance/dpa/F. Rumpenhorst)

Peneliti di Jerman juga berupaya menemukan vaksin anti virus corona

Hasil penelitian dianggap menyesatkan

Lembaga penelitian Robert Koch Institute (RKI) yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Jerman mengatakan kepada DW hari Rabu (5/2), bahwa studi dari München itu memang sangat menyesatkan.

"Berbeda dengan yang tertulis dalam makalah itu, wawancara yang baru-baru ini dilakukan oleh otoritas kesehatan di negara bagian Bayern mengungkapkan bahwa dia (kolega kerja asal Cina) mungkin memiliki gejala ringan yang tidak spesifik."

Badan Kesehatan Masyarakat di Swedia melontarkan kecaman lebih keras terhadap tim dokter di München dan mengatakan, para dokter di LMU "tidak punya cukup dukungan ilmiah" untuk argumen mereka, dan temuan mereka "mengandung kelemahan dan kesalahan besar."

Jurnal ilmiah "Science" melaporkan, para peneliti di LMU tidak berbicara langsung dengan perempuan yang membawa virus corona ke Jerman, sebelum mempublikasikan temuan mereka. Tim peneliti hanya mengandalkan informasi dari empat pasien lain yang tertular.

"Mereka memberi tahu kami bahwa pasien dari Cina tampaknya tidak memiliki gejala apa pun," kata Michael Hoelscher dari Pusat Medis LMU,  menurut Science. Michael Hoelscher mengatakan kepada Science: "Hari ini, saya mungkin akan mengatakannya secara berbeda".

LMU yang dihubungi DW tentang kasus ini mengatakan, universitas tidak punya tanggapan langsung terhadap kritik dan kecaman yang muncul saat ini dan mengatakan, para ilmuwan yang menulis dan mempublikasikan studi di NJEM adalah orang-orang yang kapasitasnya diakui dan sering bertugas di seluruh dunia. (hp/ha)

Laporan Pilihan