WHO Kritik Simpang Siurnya Pemberitaan Terkait Virus Corona | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 03.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

virus corona

WHO Kritik Simpang Siurnya Pemberitaan Terkait Virus Corona

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, mengeluhkan kesimpangsiuran informasi seputar virus corona 2019-nCoV. Dari bawang putih hingga asap kembang api, mitos dan fakta bercampur-aduk.

Merebaknya wabah virus corona jenis baru 2019-nCoV telah juga disertai oleh "wabah informasi yang masif" demikian ungkap WHO di Jenewa, Swiss. Organisasi tersebut mengatakan bahwa beberapa informasi tentang virus corona baru memang benar adanya, namun banyak juga yang tidak benar.

Membanjirnya informasi juga membuat banyak orang sulit membedakan mitos dan fakta seputar virus corona,karena itu WHO meluncurkan kampanye informasi sosial media seperti Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya.

Pertanyaan yang dijawab WHO antara lain seperti: Apakah antibiotik efektif mencegah dan mengobati virus corona baru ini? Jawabnya: Tidak, antibiotik tidak bekerja melawan virus, hanya melawan bakteri. 

Pertanyaan yang juga banyak beredar yaitu apakah memakan bawang putih membantu melawan virus corona? Jawabnya: Tidak ada bukti terkait hal ini.

Asap kembang api juga tidak membantu melawan patogen, tulis WHO. Organisasi ini juga menegaskan bahwa penerimaan surat atau paket dari Cina tidak berbahaya karena virus tidak bertahan lama di benda-benda tersebut.

Di laman web terpisah, WHO antara lain menyarankan masyarakat untuk mencuci tangan secara teratur, bahkan jika tangannya tidak terlihat kotor. Bila bersin, tutup dengan saputangan atau kertas tisu dan buang ke tempat sampah yang tertutup. Apabila tidak ada saputangan, lipat lengan dan bersin di lekukan siku lengan.

Pasien yang terinfeksi virus corona jenis baru ditemukan di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis dan Filipina. WHO juga telah mendeklarasikan "Situasi Darurat Global" terkait virus ini.

Seberapa bahaya virus ini sebenarnya?

Bahkan jika para ahli berasumsi bahwa puluhan ribu orang di Cina telah terinveksi virus 2019-nCoV, bila dibandingkan dengan besarnya penduduk Cina yang mencapai 1,4 miliar, maka jumlah ini dinilai masih termasuk bisa ditangani.

Angka kematian yang pasti saat ini tidak dapat diukur secara pasti. Sejauh ini bisa dikatakan angka kematian berkisar sekitar dua persen dari total kasus orang yang terinfeksi.

Ini berarti bahwa wabah virus corona 2019-nCoV tidak lebih berbahaya bila dibandingkan dengan penyakit Sars dan Mers yang juga disebabkan oleh virus corona. 

Wuhan, Cina: Rumah sakit darurat (Imago/C. Min)

Rumah sakit darurat di Wuhan, Cina, yang dibangun selama 10 hari untuk menangani wabah virus corona. Foto udara diambil pada 20 Februari 2020.

Menurut angka resmi, jumlah penderita penyakit Sars atau Severe acute respiratory syndrome yang melanda tahun 2002/2003 mencapai 8096 orang. Sedikitnya 774 dari mereka akhirnya meninggal dunia dan kebanyakan tinggal di Cina dan Hong Kong. Ini berarti tingkat kematian akibat wabah Sars mencapai 9,5 persen.

Sedangkan wabah Mers atau Middle East respiratory syndrome coronavirus menyerang total 2.494 orang sejak September 2012, dan 858 orang di antaranya meninggal dunia. Ini berarti tingkat kematian akibat Mers mencapai 35 persen.

Namun selain itu, ada juga infeksi virus influenza yang jauh lebih umum daripada Sars, Mers, dan 2019-nCoV. Menurut lembaga penelitian pemerintah federal Jerman yang bertanggung jawab untuk pengendalian dan pencegahan penyakit yaitu Robert Koch Institute, dari sekitar 82 juta penduduk Jerman, setiap tahunnya ada sekitar 2-14 juta orang yang terserang penyakit flu musiman.

Wabah flu terburuk di Jerman dalam beberapa tahun terakhir terjadi tahun 2017-2018 dengan sekitar 25.000 korban jiwa. Di seluruh dunia, WHO memperkirakan bahwa antara 290.000 dan 650.000 orang meninggal akibat flu musiman setiap tahunnya.

ae/vlz (dpa, afp)