WHO Akhirnya Tetapkan Status Darurat Global Terkait Virus Corona | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 31.01.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Virus Corona

WHO Akhirnya Tetapkan Status Darurat Global Terkait Virus Corona

WHO sebut penetapan status darurat global terkait virus corona, demi melindungi negara-negara berkembang. Namun WHO mengatakan penetapan ini tidak berpengaruh pada kegiatan perjalanan dan perdagangan internasional.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (30/01) menetapkan status darurat global terkait virus corona. WHO menyebut keadaan darurat ini sebagai perisitiwa luar biasa karena dampak penyebaran virus corona (2019-nCov) juga dirasakan oleh orang-orang di negara-negara lain di luar Cina. Virus telah menyebar hingga ke 20 negara dan menyebabkan sedikitinya 200 orang tewas.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan: "Alasan utama penetapan ini bukan karena apa yang terjadi di Cina tetapi karena apa yang terjadi di negara lain. Kekhawatiran terbesar kami adalah potensi penyebaran virus ini ke negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah, yang tidak siap untuk menghadapinya. "

‘’Kita semua saling berkaitan dan kita hanya bisa menyelesaikannya secara bersama-sama," ujar Tedros.

Ia juga mengatakan penetapan status ini bertujuan meningkatkan kerja sama global untuk membantu negara-negara berkembang, mengumpulkan bantuan dana, upaya untuk segera menemukan vaksin, serta meninjau rencana kesehatan global.

Namun, WHO mengatakan urusan bisnis dan perjalanan harusnya tetap berjalan seperti biasa.

‘’Kami tidak merekomendasikan adanya pembatasan perdagangan dan perjalanan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tindakan pembatasan itu berpotensi menimbulkan gangguan yang tidak diperlukan.

Tonton video 00:31

WHO declares coronavirus a global health emergency

AS dan Jerman tetap keluarkan imbauan perjalanan

Namun nyatanya, beberapa negara tetap mengeluarkan imbauan agar warganya agar tidak berpergian sementara ke Cina.

Pada Kamis (30/01) malam, Amerika Serikat (AS) mengeluarkan imbauan larangan berpergian sementara ke Cina. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS telah memperbarui anjuran perjalanan dan mendesak agar masyarakat mempertimbangkan kembali rencana perjalanan mereka ke Cina.  

Pemerintah AS juga telah memerintahkan evakuasi terhadap warganya yang berada di Wuhan, kota yang menjadi pusat penyebaran virus corona.

Senada dengan AS, Kemenlu Jerman juga mengeluarkan imbauan yang sama. Kemudian pada Jumat (31/01) pemerintah Jepang juga meningkatkan status peringatan perjalana ke tingkat dua, yang menyebutkan bahwa warganya perlu menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke Cina. 

AS juga mengonfirmasi penularan antar manusia

Seorang pria di Chicago, AS, dikonfirmasi tertular virus corona dari istrinya yang berusia 60 tahun. Sang istri diketahui terinfeksi virus corona setelah kembali dari Wuhan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintah melakukan semua tindakan pencegahan yang diperluka untuk menghentikan penyebaran wabah.

"Kami bekerja sangat erat dengan (Cina) dan banyak orang lain, serta negara-negara lain," sebut Trump saat menghadiri rapat umum di Michigan. "Kami pikir kami mampu mengendalikannya dengan sangat baik. Tidak terlalu banyak masalah saat ini.‘‘

Baca juga:Kenapa WHO Urung Tetapkan Darurat Kesehatan Global pada Virus Corona? 

WHO disebut sempat menganggap remeh

Pekan lalu, WHO mengatakan terlalu dini untuk menaikkan status terkait virus corona menjadi darurat global. Kala itu jumlah kematian akibat virus corona masih di bawah 50 orang. Namun WHO ketika angka kematian semakin bertambah banyak, WHO mengakui menyesal karena sebelumnya hanya menyebut risiko virus corona dalam tingkat ‘‘moderat‘‘.

WHO mengakui masalah ini perlu dievaluasi kembali setelah infeksi antar manusia mulai terjadi di luar Cina. Penularan pertama virus corona dari manusia ke manusia pertama kali dilaporkan terjadi di Jerman. Namun Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, Vietnam, dan Korea Selatan kini juga telah melaporkan hal serupa.

pkp/rap (dpa, Reuters, AP)