Menkeu Jerman: Pemilu AS Kirimkan Sinyal ′Peringatan Mendesak′ Bagi Jerman | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 09.11.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

Menkeu Jerman: Pemilu AS Kirimkan Sinyal 'Peringatan Mendesak' Bagi Jerman

Pemilu Presiden AS 2020 telah mengungkap perpecahan yang mendalam di seantero negara itu – menjadikannya sebagai peringatan bagi Jerman, ujar Menteri Keuangan Olaf Scholz.

Warga Chicago rayakan proyeksi kemenangan Biden-Harris pada Pemilu Presiden AS 2020

Warga Chicago rayakan proyeksi kemenangan Biden-Harris pada Pemilu Presiden AS 2020

Setelah mengamati gaya kampanye pemilihan umum Amerika Serikat yang sempat membuat was-was banyak kalangan, Jerman harus memastikan bahwa negaranya tidak berakhir di posisi serupa. Demikian Menteri Keuangan yang juga Wakil Kanselir Jerman, Olaf Scholz, memperingatkan pada Minggu (08/11).

"Penghitungan suara di AS tidak hanya pertunjukkan panggung politik yang mencekam selama berhari-hari, tetapi ini juga adalah peringatan yang mendesak. Sebuah peringatan bagi kita di Jerman, tentang ke mana hal itu dapat mengarah jika masyarakat membiarkan diri terpecah-belah," tulis Scholz dalam sebuah opini untuk surat kabar Jerman, Bild am Sonntag.

Scholz menyampaikan ucapan selamatnya kepada Joe Biden dan Kamala Harris setelah mereka pada hari Sabtu (07/11) diproyeksikan memenangkan Pemilu Presiden 2020. Namun ia menegaskan bahwa pekerjaan di AS baru saja dimulai. 

Dia menunjuk pada perpecahan sosial yang terjadi tidak hanya antara warga di komunitas yang lebih kaya dan yang lebih miskin, tetapi juga perpecahan di perkotaan dan pedesaan. Perpecahan di AS memang bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh Presiden AS Donald Trump, menurut Scholz, tetapi ini adalah sesuatu yang "telah dieksploitasi dan diperdalam tanpa ampun" selama masa jabatannya.

Belajar dari Amerika Serikat

Scholz mencatat bahwa perpecahan ini juga dapat dilihat di Jerman. Beberapa orang merasa diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, sementara yang lainnya merasa "lebih baik dari orang lain."

"Perkembangan ini buruk, karena komunitas kita hanya berfungsi dengan baik dalam jangka panjang jika kita melihatnya sebagai tujuan bersama," kata politisi dari Partai SPD yang berhaluan kiri-tengah itu.

"Mari kita belajar dari AS dan menghindari kesalahan yang menyebabkan kerugian besar."

Pernyataan ini ditulis saat Jerman akan menghadapi pemilihan umum pada tahun depan dan mulai mempersiapkan era selepas pemerintahan Angela Merkel. Setelah 14 tahun menjabat, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan tidak akan mencalonkan diri lagi pada tahun depan dan membuat banyak orang bertanya-tanya siapa yang akan menjadi penggantinya. (ae/vlz)

Laporan Pilihan