1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Joe Biden
Foto: Kevin Lamarque/Reuters
PolitikAmerika Utara

Opini: Presiden Baru Telah Terpilih, Tapi Ia Bukan Pemenang

Ines Pohl
7 November 2020

Setelah berhari-hari penghitungan suara, Joe Biden dari Partai Demokrat akhirnya diproyeksikan akan mengantongi suara terbanyak. Tetapi ia bukan pemenang, demikian menurut Ines Pohl.

https://www.dw.com/id/opini-presiden-baru-telah-terpilih-tapi-ia-bukan-pemenang/a-55522026

Sebagian besar wilayah di dunia menahan napasnya - dan kini perlahan dapat bernapas kembali. Butuh waktu lama (hampir), tetapi Joe Biden telah mengalahkan Donald Trump. Setelah hanya menjalani satu kali masa jabatan dan empat tahun yang panjang, presiden petahana ini harus meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari. Bahkan jika Presiden Trump mengumumkan bahwa dia akan menentang hasil tersebut secara hukum, Trump sepertinya tidak punya kesempatan. 

Kabar baik bagi pendukung multikulturalisme 

Kemenangan ini adalah kabar baik bagi dunia yang percaya pada nilai-nilai multikultural dan yang merindukan Amerika yang dapat diandalkan. Juga bagi mereka yang percaya akan makna NATO dan Perjanjian Iklim Paris. Para pebisnis yang membutuhkan aturan yang dapat diandalkan bagi usaha mereka. Dan juga bagi pihak-pihak yang masih yakin bahwa hubungan Transatlantik adalah penting bagi persatuan dan kekuatan demokrasi Barat. 

Ines Pohl, Kepala Biro DW di Washington D.C.
Ines Pohl, Kepala Biro DW di Washington D.C.Foto: DW/P. Böll

Meski demikian, hari-hari ketika Amerika Serikat bersedia dan siap memikul beban sebagai polisi dunia seorang diri telah berakhir. Adalah Barack Obama, dengan doktrinnya yakni "Memimpin dari belakang", yang menyatakan bahwa Eropa diharapkan lebih berkomitmen pada masalah militer, termasuk masalah keuangan yang berkaitan dengannya. Donald Trump telah memperluas perubahan strategi ini dan Joe Biden akan melanjutkannya. Tetapi mungkin dengan cara yang lebih diplomatis. 

Kembali ke Perjanjian Iklim Paris 

Seperti juga Presiden Obama yang pernah ia dampingi selaku wakil presiden, Joe Biden juga adalah seorang pendukung kerja sama Transatlantik. Ia menganggap Jerman dan Eropa sebagai mitra yang dapat diandalkan. Dia telah berjanji akan kembali bergabung ke dalam Perjanjian Iklim Paris, dan terus memenuhi kewajiban aliansi multilateral lainnya seperti NATO. 

Dengan Biden sebagai presiden, Amerika diharapkan akan kembali menjadi mitra yang dapat diandalkan.

Jalan kehancuran 

Di dalam negeri, pemilu itu sendiri dinilai kurang positif. Donald Trump telah menapaki jalan kehancuran. Pelaksanaan jabatannya dengan kebohongan yang disengaja telah merusak kepercayaan terhadap proses dan institusi demokrasi ini secara permanen. Banyak pemilih Trump akan terus mengklaim bahwa hasil pemilu telah dimanipulasi. 

Para pendukung Trump akan menyalahkan Joe Biden atas gejolak ekonomi yang akan dihadapi AS dalam beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun mendatang. Bahkan tentu saja, jika Donald Trump, dengan ketidakpeduliannya, juga turut bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi di AS akibat pandemi corona. 

Dalam empat tahun kepemimpinannya Trump telah mengubah negara itu. Demokrat mengharapkan kemenangan telak sebagai bukti bahwa mayoritas jelas-jelas menginginkan jalan yang berbeda. Tetapi bukan itu masalahnya. 

 

Seruan "America first" memang tidak memberikan Trump kemenangan yang ia harapkan. Tetapi reputasinya masih jauh dari pudar. Donald Trump telah mengizinkan banyak orang Amerika untuk secara terbuka menunjukkan sikap rasisme, xenofobia, dan misogini mereka. Dan mereka akan terus melakukannya. 

Joe Biden memang telah memenangkan pemilu. Tetapi kebencian yang ditaburkan Trump dan dalamnya perpecahan di negara itu belum diatasi oleh Demokrat. (ae/vlz)