1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Menyoal Penghargaan Penulis

11 September 2021

Di Indonesia penghargaan untuk para penulis sangat kurang, apalagi jika dibandingkan untuk bidang kewirausahaan dan olahraga. Apa pentingnya penghargaan bagi penulis? Simak opini Feby Indirani.

https://www.dw.com/id/menyoal-penghargaan-penulis/a-59155044
Indonesia pernah jadi  tamu kehormatan Frankfurt Book Fair tahun 2015
Buku-buku Indoensia di Pameran Buku Internasional di Frankfurt tahun 2015Foto: DW/R. Nugraha

Pada Agustus 2021, dunia kepenulisan Indonesia diramaikan dengan penganugerahan Indonesian Writers Guild's Awards dari Satupena kepada 12 penulis.  Ketua Umum (ketum) Satupena periode 2017-2021, Nasir Tamara menjelaskan di berbagai media bahwa penghargaan ini adalah ‘dari penulis untuk penulis'. Sejumlah media dan pelaku industri turut merayakan pemberian penghargaan ini. Namun jika kita cermati saksama, kita akan dengan segera menemukan keanehan-keanehannya.

Pertama, salah satu penerima penghargaan untuk kategori nonfiksi adalah Nasir Tamara sendiri. Sedangkan penerima penghargaan untuk kategori lifetime achievement adalah anggota Satupena, Denny JA, yang kemudian menduduki posisi ketum menggantikan Nasir Tamara.  Sehingga Nasir Tamara dan Denny JA seperti sedang saling menggaruk punggung satu sama lain dengan menganugerahkan penghargaan kepada diri mereka sendiri.

Feby Indirani, penulis fiksi dan nonfiksi. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Jerman dan Jepang.
Penuliis kolom: Feby Indirani Foto: Graham Crouch

Kedua, masih di bulan yang sama, sejumlah media memberitakan bahwa Satupena sebagai perkumpulan sedang mengalami konflik internal yang berujung pada Rapat Umum Luar Biasa (RULB) dengan lebih dari 100 anggota. Salah satu hasilnya adalah demisionernya kepengurusan Nasir Tamara.  Artinya penghargaan diberikan atas nama organisasi tapi dilakukan oleh ketum demisioner, yang sudah tak sah lagi dalam tata kelola organisasi.  

Khalayak tak mendapat informasi cukup tentang apa persisnya karya dari ke-12 penulis yang mendapat penghargaan itu, bagaimana kriteria dan proses seleksinya serta siapa jurinya. Sebelum lebih lanjut menyoal Indonesian Writers Guild's Awards, saya ingin membahas pertanyaan yang mendasar, yaitu apa sih pentingnya penghargaan bagi penulis?

Fungsi Penghargaan 

Di berbagai negara maju, penghargaan kepada penulis menjadi salah satu program yang lazim. Suatu penghargaan dianggap bergengsi biasanya terkait pada kredibilitas organisasi pemberi penghargaan,  berapa besaran hadiahnya dan siapa saja tim jurinya, Maka tak heran, untuk penghargaan tahunan bergengsi seperti The German Book Prize dengan total hadiah 37,5 ribu euro mengumumkan nama-nama para juri  kepada publik sebelum mereka memulai proses seleksi. 

Secara kualitatif, program penghargaan adalah salah satu tolok ukur mutu karya tulis yang layak dibaca, dipercakapkan dan dikaji khalayak pembaca.  Tim juri yang kompeten dan independen berikut transparansi nama-nama mereka kepada publik menjadi ukuran kredibilitas suatu penghargaan.Pengumuman kepada publik ini juga menjamin tidak terjadi nama-nama juri yang berulang dari waktu ke waktu yang memungkinkan terjadinya konflik kepentingan dan dominasi cita rasa tertentu. 

Hal yang juga menjadi referensi penting pembaca adalah kajian kritikus sastra. Ketetapan juri penghargaan dan kritikus, kerap tak sejalan seperti ketika para kritikus—juga pelaku industri lainnya--  mengkritisi keputusan juri Booker Prize 2019 yang memutuskan dua pemenang yaitu Margaret Atwood dan Bernardine Evaristo.        

Berbeda dengan yang kerap dipersepsi masyarakat Indonesia, kritik beda dengan mencela dan tidak berbicara tentang suka atau tidak sukanya si kritikus pada suatu karya.  Umumnya orang Indonesia akan berkomentar, jangan main kritik, bikin karya sendiri saja sana! Padahal tulisan kritik adalah suatu karya yang termasuk genre nonfiksi, dan biasanya memiliki kompetisi dan penghargaan tersendiri.  Melalui tulisannya, seorang kritikus menawarkan perspektif dan analisisnya tentang suatu karya dan relevansi serta signifikansinya dalam bingkai yang lebih besar. Tulisan kritik membangun pengetahuan dan mengasah daya berpikir kritis pembacanya.

Sedangkan dari sisi kuantitatif terkait dengan angka penjualan buku dan perputaran uang di industri, penghargaan  biasanya berkorelasi siginifikan dengan meningkatnya penjualan buku. Jangankan pemenang, yang masuk finalis pun biasanya langsung melonjak popularitasnya, berada di rak depan toko-toko buku dan secara berkala dicetak ulang karena sudah masuk daftar ‘klasik' para penerbit. Baik di dalam negeri maupun internasional melalui jembatan penerjemahan,buku-buku yang masuk daftar nominasi penghargaan biasanya laris dan jadi tolok ukur karya bermutu.

Negara-negara Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat memiliki puluhan hingga ratusan penghargaan untuk penulis berbagai genre dan level yang membantu mendongkrak kemajuan industri buku dari sisi ekonomi, kesejahteraan penulisnya,  juga mutu karya dan percakapan publik.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Situasi di Indonesia berbeda jauh.  Penghargaan untuk para penulis sangat kurang, apalagi jika dibandingkan untuk bidang kewirausahaan dan olahraga. 

Ajang penghargaan yang ada pun -baik yang diselenggarakan swasta maupun pemerintah-- kerap tidak transparan. Pengumuman seleksi tak tersebar luas. Proses pengumpulan karya tak ramah pada penulis-penulis dari luar Jawa yang harus mengatasi ongkos kirim mahal.  Kita nyaris tak penah tahu siapa barisan juri sebelum akhirnya hasil akhir diumumkan, bahkan mungkin tak pernah tahu sama sekali. Kita sulit mengukur kompetensi juri, atau seberapa inklusif mereka terhadap kelompok-kelompok minoritas seperti perempuan dan LGBTQ.  Sering juga terjadi barisan juri adalah nama yang sama, berulang setiap tahunnya. Siapa pun yang mengkritisi, rentan dianggap iri hati  (Ingat, masyarakat Indonesia tak suka kritik!). 

Yang lazim terjadi adalah perkoncoan yang mendominasi simpul-simpul wacara dan proses kuratorial, dengan berbagai derajatnya. Kondisi diperparah dengan amat minimnya kritik sastra, karena kritik cenderung selalu dipersepsi sebagai sesuatu yang buruk.  Jadilah suatu perpaduan mematikan yang memperburuk mutu karya tulis di Indonesia : mekanisme penghargaan yang bertumpu pada perkoncoan dan sekaratnya kritik sastra. Yang terjadi adalah adu keras bicara di ruang publik – melalui media sosial yang efektik untuk glorifikasi diri dan pers yang juga menurun mutunya sehingga kerap percaya begitu saja omongan narasumber tanpa cek dan ricek.  

Minimnya kelembagaan di bidang sastra Indonesia juga membuat sebagian pihak mudah dengan mendaku diri sebagai ‘sesuatu’ selama mereka memiliki modal yang cukup untuk membuat sejumlah pihak setuju dengannya.    Jauh sebelum ramai denganpenghargaan sastra di 2021 ini, Denny JA pun pernah menjadi kontroversi di kalangan penulis pada 2014 ketika namanya masuk ke dalam buku ‘33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’ yang dikeluarkan tim kurator dengan ketua Jamal D Rahman.  

Denny JA yang tak pernah dikenal publik sebagai penulis sastra tiba-tiba masuk ke dalam daftar tersebut bersama nama-nama legendaris seperti Marah Rusli, Goenawan Mohamad dan NH Dini.  Ia dianggap berpengaruh   setelah sebelumnya mengklaim dirinya sebagai pembuat genre baru dalam sastra Indonesia yaitu ‘puisi-esai’ dan membayar sejumlah penulis untuk menulis karya yang bisa diklaim sebagai ‘puisi esai’. Para penulis ini banyak yang tak tahu bahwa sedang dimanfaatkan untuk menegaskan pendakuan diri Denny JA sebagai pembuat genre baru. Sebagian dari mereka kemudian mengembalikan honor tersebut.     

Bisa dibayangkan ketika daftar penghargaan dan pengakuan yang bersifat klaim dan pendakuan diri  semacam buku 33 tokoh sastra itu dipakai sebagai rujukan bagi masyarakat luas, itu tentu akan merusak tatanan sejarah dan pengetahuan di bidang sastra.  Mengabaikan sejarah sastra begitu saja, tidak ada standar yang jelas, tidak ada ukuran pencapaian yang objektif dan ketat. Semata bertumpu pada modal kapital dan lobi-lobi individu. 

Bahaya Indonesian Writers Guild's Awards 2021 dan Sejenisnya

Tentu kita mafhum, tak ada satupun penghargaan yang  ‘paling adil’, ‘paling objektif’  dan  sepenuhnya ‘bebas bias’. Namun proses seleksi dalam penghargaan penulis, termasuk di dalamnya seleksi juri dan transparansi proses, menjadi krusial. Barangkali hanya sesama penulis saja yang mengkritisi   Indonesian Writers Guild's Awards yang rumpang ini.  Kebanyakan orang tentu tak tahu menahu rekam jejak masa lalu, konflik internal organisasi dan lobi-lobi di balik suatu proses. Sedangkan pada percakapan publik melalui media dan sosial media, apresiasi pada penghargaan itu mengudara, seolah ia adalah sesuatu yang patut dirayakan. Bahkan tak mungkin dijadikan referensi oleh pelajar dan komunitas. 

Padahal kita sedang menyaksikan suatu proses yang tak jujur, merendahkan logika dan merusak ekosistem kepenulisan di Indonesia. ***

Feby Indirani, penulis fiksi dan nonfiksi. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Jerman dan Jepang.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.