1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Warga Harus Waspada Kala Gempa Kembali Terasa

26 Januari 2018

Gempa susulan kembali terasa di Jakarta pasca gempa 6.4 SR, Selasa (23/01). Kepala Gempa Bumi BVMBG ungkapkan ke DW, warga tak perlu panik, karena gempa susulan hal yang wajar. Namun, adakah yang perlu dikhawatirkan?

https://p.dw.com/p/2rYwU
Erdbeben Seismograf Symbolbild
Foto: Getty Images/AFP/S. Yeh

Gempa berkekuatan 5,2 Skala Richter kembali dirasakan di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Pandeglang sekitar pukul 11.48 WIB, Jumat (26/01). Laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa tersebut berpusat di laut 79 kilometer barat daya Lebak.

Indonesien - Erdbeben: Sri Hidayati
Kepala Gempa Bumi BVMBG Sri HidayatiFoto: S. Hidayati

Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG), Sri Hidayati mengatakan gempa gempa susulan yang terjadi selama tiga detik di Lebak tersebut sebagai dampak dari gempa berkekuatan 6,4 SR yang terjadi Selasa lalu (23/01). Warga pun dianjurkan untuk tak perlu khawatir.

"Mengenai gempa yang sekarang masih sering terjadi di lokasi yang sama, itu karena (lempeng tektonik) masih mencari ‘kestabilan‘," kata Sri Hidayati, Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG) ketika dihubungi DW Indonesia.

Baca juga: Dinamika Lempeng Tektonik Pemicu Gempa Bumi

Gempa susulan pada periode transisi terjadi karena pelepasan energi gempa karena lempeng tektonik mencari keseimbangan sistem lempeng. Namun, gempa susulan tersebut tidak berlangsung dalam waktu panjang.

"Gempa susulan ini biasanya magnitudonya lebih kecil dari gempa utama. Biasanya juga jumlahnya akan menurun dengan waktu," imbuh Sri Hidayati menambahkan.

Indonesien - Erdbeben: Lebak, West Java
Puluhan rumah di Kabupaten Lebak, Banten dilaporkan rusak pascagempa 6,4 SR Selasa (23/1). Foto: S. Hidayati

Perlukah warga khawatir?

Tak dimungkiri sebagai konsekuensi posisi Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia yakni lempeng Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia, maka gempa kerap terjadi. Meski sering 'langganan' gempa, namun warga kerap tak siap menghadapinya. 

Ketika gempa susulan terjadi Jumat (26/01), tak sedikit warganet yang menyuarakan kerisauan mereka dan kembali mempertanyakan mengapa gempa susulan sering terjadi.

Tingginya potensi gempa bumi di Indonesia menurut Sri Hidayati harus menjadi fokus pemerintah untuk kembali memprioritaskan sosialisasi untuk mengantisipasi gempa, agar korban akibat kepanikan pasca bencana dapat dihindari.

"Kalau ada gempa yang terasa cukup kuat, sebaiknya memang keluar gedung. Dan sebaiknya jangan panik, tapi saya paham kalau masih banyak yang panik, apalagi yang bekerja atau tinggal di gedung-gedung tinggi," ungkap Sri Hidayati mengingatkan. "Kenapa seharusnya jangan panik? Karena kepanikan ini kadang-kadang bisa menimbulkan korban juga."

Selasa (23/01), para karyawan di gedung perkantoran di pusat kota Jakarta sempat panik ketika gempa terasa. Kepanikan terutama terjadi karena tak sedikit tangga gawat darurat yang dirasa sempit, dan banyaknya jumlah karyawan yang menyelamatkan diri sekaligus. Di rumah sakit RSCM, para pasien bahkan ada yang berjalan langsung menyelamatkan diri. 

 (ts/vlz)