Dinamika Lempeng Tektonik Pemicu Gempa Bumi | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 01.11.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Iptek

Dinamika Lempeng Tektonik Pemicu Gempa Bumi

Kerak bumi terpecah jadi sejumlah lempeng tektonik, yang mengambang di cairan magma panas. Pergerakan lempeng adalah pemicu gempa bumi. Cincin Api Pasifik adalah kawasan kegempaan paling aktif.

Tonton video 03:32

Dinamika Lempeng Tektonik Pemicu Gempa Bumi

Jika menatap bumi dari angkasa, kita tetap tidak bisa melihat bahwa permukaan bumi terpecah. Menjadi sejumlah lempeng besar dan kecil. 

Dan lempeng-lempeng itu terus bergerak. Iniah yang disebut lempeng tektonik. Adalah ilmuwan Jerman, Alfred Wegener yang menggagas teori lempeng tektonik pada 1911. Bahwa kerak bumi tidaklah masif, melainkan terpecah-pecah, terapung di atas cairan magma panas.

Di tengah Samudra Atlantik dua lempeng saling menjauh. Pergerakan itu didorong magma cair yang bergerak dari inti bumi yang panas ke permukaan. 

Batu-batuan panas itu kemudian mendingin dan menutup celah yang terbentuk antara kedua lempeng tektonik. Di beberapa lokasi, sebagian bebatuan panas ini muncul ke permukaan bumi. 

Misalnya di Islandia. Pulau itu tumbuh sekitar lima sentimeter setiap tahunnya, karena kedua lempengan saling menjauh. Dan itulah alasannya, mengapa di Islandia, hampir setiap hari terjadi gempa bumi. Untungnya hanya getaran ringan, sehingga tidak ada kerugian apapun. 

Penyebab gempa tektonik

Gempa lebih kuat terjadi di mana dua lempeng tektonik saling bertumbukan. Misalnya di benua Asia, 8.000 km dari Islandia. Di sini, lempeng tektonik India dan lempeng Eurasia saling bertumbukan. Ini menimbulkan kekuatan amat besar yang mendorong pembentukan pegunungan Himalaya. 

Akibatnya, di pinggiran kedua lempeng timbul tegangan tinggi. Tegangan yang terus bertambah akhirnya mencapai satu titik optimal dan energi dilepaskan yang menyebabkan gempa bumi.

Di negara kawasan Himalaya, Nepal, tahun 2015 gempa bumi berkekuatan 7,5 skala Richter menghancurkan ribuan rumah penduduk dan kuil tempat ibadah. Ribuan orang meninggal dunia.

Gempa laut picu tsunami

Di kawasan perairan dekat pantai Jepang juga dua lempeng bertumbukan dan juga saling menekan. Pinggiran kedua lempeng tektonik akhirnya tertekan ke bagian dalam bumi. Sebuah lempeng melengkung menyusup di bawah lempeng dengan berat jenis lebih tinggi.

Jika tegangan akibat tumbukan lempeng tektonik dilepaskan tiba-tiba, terjadilah bencana alam berupa gempa bumi hebat. Gempa bumi kuat di laut bisa memicu bencana lainnya. Tsunami

.

Itulah yang terjadi tahun 2011, ketika gempa berkekuatan 9.0 skala Richter di perairan Sanriku prefektur Miyagi memicu tsunami besar setinggi 38 meteryang melanda pantai timur Jepang.

Kawasan pantai di Fukushima luluh lantak, lebih dari 18.000 orang kehilangan nyawa dan 400.000 warga diungsikan. Tsunami juga menyebabkan meledaknya sebuah reaktor atom pembangkit listrik milik Daiichi.

Cincin api Pasifik

Gempa bumi juga mengancam pantai barat AS. Di sini penyebabnya adalah dua lempeng yang bergesekan di daerah yang disebut Patahan San Andreas. Panjang pinggiran lempeng yang bergesekan sekitar 1.000 kilometer.

Gesekan juga menyebabkan benturan. Kedua lempeng saat ini saling terkait. Sejak kaitan lempeng terbentuk, terhimpun tegangan besar. Para peneliti memperkirakan, seluruh kawasan ini terancam bencana alam yang bisa terjadi kapan saja.

Lempeng-lempeng tektonik di permukaan bumi selalu bergerak dinamis. Sehingga terutama di bagian pinggirnya kerap terjadi gempa bumi. Kawasan gempa bumi paling terkenal adalah yang disebut cincin api Pasifik, yang membentang dari Chile di Amerika Selatan melintasi pantai timur Amerika Utara, Jepang, Filipina, Indonesia hingga ke kawasan kepulauan Tonga.

(DW Inovator)

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait