Studi: Indonesia Berhasil Tekan Deforestasi, Tapi Masih Tiga Besar Dunia  | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

Studi: Indonesia Berhasil Tekan Deforestasi, Tapi Masih Tiga Besar Dunia 

Dalam laporan World Resources Institute, Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia menjadi tiga negara teratas yang mengalami kehilangan hutan primer terbesar di dunia.

Kebakaran hutan di Indonesia, di Kahayan Hilir Kalimantan (picture-alliance/AP/F. Chaniago)

Foto ilustrasi kebakaran hutan di Indonesia

Laporan terbaru World Resources Institute (WRI), yang dirilis Selasa (02/06) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2019 dunia kehilangan tutupan pohon hutan primer seluas 11,9 juta hektar. Hampir sepertiga dari angka tersebut -3,8 juta hektar- terjadi di hutan primer tropis. Jika dianalogikan, berarti dunia kehilangan hutan primer tropis seluas satu lapangan sepak bola setiap enam detik.  

Laporan ini dibuat berdasarkan data dari University of Maryland yang dirilis dalam proyek Global Forest Watch (GFW), yang bertujuan untuk memberikan data spasial kehutanan kepada pemerintah global yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengawasan hutan di wilayah mereka.  

Para peneliti telah melakukan survei ini sejak dua dekade. Dari data tersebut diketahui persentase kehilangan hutan primer tropis meningkat 2,8% dibanding tahun sebelumnya. Brasil menjadi negara yang mengalami kehilangan terbesar hutan primer (1.361.000 hektar), disusul Republik Demokratik Kongo (475.000 hektar), dan Indonesia (324.000 hektar). 

"Kami prihatin bahwa tingkat kehilangan begitu tinggi, terlepas dari semua upaya berbagai negara dan perusahaan untuk mengurangi deforestasi," kata ketua peneliti Mikaela Weisse, manajer proyek GFW di World Resources Institute (WRI). 

Aktivitas manusia seperti penebangan dan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan menjadi penyebab utama hilangnya hutan primer global. Hal ini diperparah dengan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Hutan merupakan tempat “penguncian” karbon, sehingga kehilangan hutan berarti sama dengan melepaskan karbon ke atmosfer. Sedikitnya 1,8 Gg CO2e dilepas ke atmosfer sepanjang tahun 2019, setara dengan emisi tahunan 400 juta kendaraan bermotor. 

"Dibutuhkan waktu puluhan tahun atau bahkan berabad-abad bagi hutan-hutan ini untuk kembali ke keadaan semula,” Weisse menambahkan. 

Menurun di Indonesia 

Meski menempati urutan ketiga negara dengan deforestasi tertinggi di dunia, Indonesia dinilai berhasil meredam laju penggundulan hutan, yang angkanya turun 5% dibanding tahun 2018. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut Indonesia mampu menekan angka kehilangan hutan primer. 

Dalam laporan tersebut dituliskan bahwa kebijakan pemerintah Indonesia turut berkontribusi dalam penurunan ini. Kepada DW Indonesia, Senior Manajer Hutan dan Iklim WRI Indonesia, Arief Wijaya, mengatakan, perbaikan tata kelola hutan dan lahan yang dilakukan pemerintah Indonesia mulai membuahkan hasil. 

“Pertama, mulai dari penegakan hukum, aktor-aktor yang disinyalir atau bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan itu diseret ke pengadilan. Kedua restorasi gambut menjadi fokus. KLHK juga punya dirjen PPKL yang untuk restorasi gambut, kemudian pemerintah membetuk BRG (Badan Restorasi Gambut) juga yang bertanggung jawab untuk merestorasi 2,6 juta hektar lahan gambut yang terdegradasi di 7 provinsi prioritas,” jelas Arief saat dihubungi DW Indonesia, Rabu (03/06). 

Selain itu, program-program CSR dari perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia  dan moratorium hutan yang diterbitkan pada tahun 2011 juga turut andil dalam penurunan angka kehilangan hutan primer. “Konversi hutan primer dan lahan gambut sekarang sudah tidak boleh. Ada juga moratorium sawit, jadi pemberian izin baru untuk perluasan lahan sawit juga sudah tidak diperbolehkan,” Arief menambahkan. 

Sebagai negara yang “masih menggantungkan ekonominya terhadap sumber daya alam,” Arief mengatakan secara umum degradasi hutan dan lahan di Indonesia disebabkan karena beralih fungsinya hutan dan lahan menjadi perkebunan untuk kepentingan industri. “Harusnya kegiatan itu bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik,” imbuh Arief. 

Bahwa Indonesia menempati  peringkat ketiga negara yang kehilangan hutan primer terbanyak di dunia, Arief berpendapat hal tesebut tidak luput dari faktor total luasan hutan yang dimiliki suatu negara. “Kalau mau lebih fair penilaiannya itu tidak hanya dilihat dari total deforestasi, tapi dibandingkan juga dengan berapa total luas hutan yang ada di negara tersebut,” tegasnya. 

Lebih lanjut Arief menyampaikan beberapa rekomendasi seperti perbaikan tata kelola lahan, ketersediaan data dan peta spasial yang akurat, penyelesaian konflik kepemilikan lahan, dan penegakan hukum yang tidak “runcing ke bawah tumpul ke atas.” Ini diharapkan dapat terus menekan angka hilangnya hutan primer di Indonesia di waktu yang mendatang. 

“Kalau Indonesia sudah mampu mengurangi deforestasi, harapannya ke depan jadi zero deforestation. Kemudian hutan yang sudah rusak bisa kembali”. Jadi tidak hanya menurunkan deforstasi, melainkan juga mengembalikan hutan yang sudah hilang, pungkasnya. 

Bolivia melesat, Kolombia turun drastis 

Dalam laporan tersebut disebutkan, Bolivia mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2018, Bolivia kehilangan lebih kurang 154 ribu hektar hutan primer. Angka ini meningkat 80% di tahun 2019 menjadi 290 ribu hektar, menempatkan Bolivia di urutan keempat setelah Indonesia. 

 "Hutan Chiquitano yang memiliki keanekaragaman hayati sangat terpengaruh, dengan laporan bahwa hampir 12% dari wilayah hutan tersebut terbakar," kata laporan terbaru WRI. 

Kontras dengan Bolivia, Kolombia justru mengalami penurunan signifikan setelah pada tahun 2017 dan 2018 mencatat angka kehilangan hutan primer yang cukup tinggi. Di tahun 2019, Kolombia mencatat kehilangan sebanyak 115 ribu hektar, 62 ribu hektar lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. 

Tren ini menunjukkan bahwa pemerintah Kolombia serius dalam mememerangi deforestasi. Pada April 2019, Presiden Kolombia meluncurkan “Operasi Artemisa,” dengan menerjunkan militer, polisi dan entitas publik lainnya untuk menghentikan deforestasi. Meski operasi tersebut sempat dinilai kontroversial mengingat tindakan yang dilakukan pihak militer. Meski menurun, angka kehilangan hutan primer di Kolombia di tahun 2019 masih tergolong tinggi dalam rentang dua dekade terakhir. 

Peneliti WRI Frances Seymour juga menyoroti soal kepastian hukum atas hutan adat, yang dinilainya sudah “memberikan perlindungan hutan yang lebih baik.” 

“Kita tahu deforestasi lebih rendah terjadi di wilayah hutan adat,” katanya. 

Negara lainnya seperti Peru, Malaysia, Laos, Meksiko, dan Kamboja turut melengkapi daftar 10 negara dengan kehilangan hutan primer terbesar di seluruh dunia. 

rap/hp (dari berbagai sumber) 

Laporan Pilihan