Studi: Ekosistem Amazon Bisa Hancur Sepenuhnya Kurang dari 50 Tahun | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 11.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

Studi: Ekosistem Amazon Bisa Hancur Sepenuhnya Kurang dari 50 Tahun

Studi terbaru menyebut ekosistem hutan hujan Amazon dan terumbu karang raksasa Karibia dapat rusak lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Peneliti mengatakan manusia tidak punya banyak waktu untuk mencegahnya.

Gambar udara penebangan hutan ilegal di hutan Amazon (AFP/R. Alves)

Gambar udara penebangan hutan ilegal di hutan Amazon

Penelitian terbaru menyebutkan bahwa ekosistem yang berukuran besar seperti hutan hujan Amazon dan terumbu karang raksasa Karibia terancam rusak lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Hasil penelitian yang diterbitkan pada Selasa (10/03) ini mengatakan bahwa ekosistem yang lebih besar berpotensi rusak lebih cepat dibandingkan ekosistem yang lebih kecil. Ekosistem yang berukuran besar memang membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai titik kritisnya. Namun, begitu titik itu tercapai, kerusakan akan terjadi lebih cepat dibanding ekosistem yang lebih kecil.

‘‘Pesan-pesan dalam penelitian ini sangat jelas. Kita perlu mempersiapkan perubahan ekosistem planet kita, lebih cepat dari yang kita bayangkan sebelumnya,’’ ujar Profesor John Dearing dari University of Southampton, ketua peneliti yang penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.

Brasilien Symbolbild illegale Brandtrodung (AFP/C. de Souza)

Gambar udara yang menunjukkan penebangan hutan di wilayah Amazon barat.

Menurut penelitian ini, setelah melewati ambang batas, maka hutan hujan Amazon bisa hancur sepenuhnya dalam waktu 49 tahun mendatang. Sedangkan terumbu karang Karibia akan mati kurang dari 15 tahun. Penyebab utama hancurnya hutan hujan Amazon adalah deforestasi besar-besaran. Sedangkan hancurnya terumbu karang Karibia akibat polusi dan pengasaman yang mempengaruhi kesehatan karang.

‘’Temuan ini adalah ajakan untuk menghentikan kerusakan yang sedang terjadi pada lingkungan alam kita yang memaksa ekosistem mencapai batasnya,’’ ujar Dearing.

Para peneliti ini mempelajari 42 ekosistem yang berbeda-beda dari segi ukurannya, termasuk ekosistem darat, laut, dan air tawar. Namun, ada pula peneliti yang mengritik bahwa penelitian ini tidak cukup karena tidak ada hutan hujan tropis yang termasuk dalam ekosistem terestrial yang diteliti.

‘‘Sangat tidak mungkin, jika bukan para penganut distopia, untuk mengharapkan bahwa wilayah setengah ukuran Eropa akan mengalami perubahan vegetasi total hanya dalam 50 tahun,‘‘ sebut Erika Berenguer, peneliti senior di Universitas Oxford, kepada kantor berita Reuters.

‘‘Meskipun tidak disangkal bahwa Amazon memang berada pada risiko besar dan titik kritisnya, namun klaim seperti itu tidak membantu ilmu pengetahuan atau pembuat kebijakan,‘‘ tambahnya.

Sementara, para penulis penelitian itu mengatakan bahwa umat manusia perlu mempersiapkan diri terhadap perubahan yang mungkin akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Peneliti mengatakan hutan hujan Amazon dapat mencapai titik kritisnya pada awal tahun depan.

pkp/rap (Reuters, AFP)