BUGI: Dari Jerman Bantu Tanah Air, Modal Utamanya Komitmen! | NEGERI ORANG: Kisah unik warga Indonesia di Jerman | DW | 13.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

pembangunan

BUGI: Dari Jerman Bantu Tanah Air, Modal Utamanya Komitmen!

Membangun toilet umum di lahan yang kerap amblas dan kotorannya dijadikan pupuk, inilah salah satu proyek komunitas Indonesia di Jerman yang dilaksanakan di tanah air.

 BUGI Proyek di Semarang

Membangun MCK di Semarang

Didirikan di Hannover, Jerman, BUGI (Bildung und Gesundheit für Indonesien) e.V adalah organisasi nirlaba yang mendorong kerja sama pembangunan dan mendukung perbaikan sistem kesehatan dan pendidikan di Indonesia.“Kami berjuang untuk sistem pendidikan dan kesehatan yang lebih baik di Indonesia, dengan tujuan menciptakan kesempatan pendidikan dan perawatan kesehatan yang merata di seluruh Indonesia,“ ujar salah satu anggota BUGI, Anindya Krishna Siddharta.

BUGI pertama kali dirintis pada tahun 2012 sebagai ide yang datang dari segelintir mahasiswa Indonesia yang tinggal di Jerman. Konsepnya adalah mengorganisir proyek-proyek yang akan mendukung kebutuhan di tanah air, dengan mengutamakan bidang kesehatan dan pendidikan. Sejak saat itu BUGI terus berkembang hingga terealisasikan pada Agustus 2014. Jaringannya tersebar di berbagai kota di Jerman.

Salah satu program yang mereka lakukan adalah pembangunan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) di Semarang. “Kami bekerja sama dengan Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan LPUBTN di Semarang, tepatnya di Tambak Lorok, desa nelayan di pantai utara, Yang kami bangun di sana sejak tahun 2018 adalah program community development bersama masyarakat yang menyasar sanitasi,“ papar Anindya.

“Sebelum memiliki MCK mereka biasa buangair besar di sungai atau pinggir laut atau yang mereka sebut helikopter, atau sebagian ada juga yang  memiliki MCK tetapi pembuangannya tidak  punya memakai septic tank alias dibiang ke sungai,“ ujar Isti Sumiwi, pengurus LPUBTN.

Mengapa begitu lama masyarakat di kampung nelayan itu tidak memiliki MCK sesuai standar, dijelaskan oleh Anindya: “Profil tanah di daerah tersebut labil, setiap saat tanah turun, amblas, tahun ini turun hingga 11 cm sehingga rumah-rumah di sana tidak punya septic tank. Jadi kami bangun toilet ituyang bisa mengatasi masalah struktur mereka sejak tahun lalu.“

Aktivis sosial, Anindya Krishna

Anindya Krishna, BUGI

Kotorannya diolah buat dijadikan pupuk

Juli 2020, proyek pembangunan MCK di Tambak Lorok akhirnya terselesaikan. Namun MCK yang dibangun di lokasi ini bukan sekadar toilet, melainkan terintegrasi dengan pengolahan biogas dan menghasilkan pupuk. “Apapun yang masuk ke situ keluarnya sebagai pupuk cair atau padat dan biogas. Uniknya lagi, reaktor pembuatan pupuknya ini inputnya bukan dari MCK saja, tapi  dari luar, kotoran ternak juga masuk,” jelas Anindya.

Isti Sumiwi, pengurus LPUBTN mengatakan masyarakat di kampung nelayan itu cukup positif menerima kehadiran MCK komunal tersebut, terutama kegunaannya begitu terasa ketika masa banjir atau air pasang, di mana MCK pribadi mereka tidak bisa dipakai dan harus menggunakan MCK komunal. “Mereka bisa menggunakan MCK tanpa mencemari lingkungan sekitar dan mulai menggunakan pupuk hasil dari biogas MCK komunal,” tambah Isti.

Menggunakan jalur budaya untuk kumpulkan bantuan

Menjalin kerja sama antar anggota masyarakat Indonesia di Jerman dan melaksanakan proyek bersama, menurut Anindya bukan perkara mudah. “Tantangannya komitmen ya, kami sukarela untuk melakukan ini, tidak ada satu pun yang dibayar. Tentu saja tiap orang prioritas hidupnya beda-beda.Ada yang masuk kemudian tiga bulan lagi keluar atau kalau ada konflik sedikit mungkin... ah sudahlah keluar saja. Komitmen yang paling jadi kendala,“ demikian curhat Anindya.

Namun BUGI mendapatkan dukungan untuk proyek semacam ini di antaranya dari Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), badan bantuan di bawah Das Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung (BMZ), kementerian Jerman untuk kerja sama luar negeri dalam bidang ekonomi dan perkembangan ekonomi.“78% dananya ditanggung GIZ, sisanya kami cari secara mandiri. Untuk itu BUGI juga melakukan konser amal atau kerja sama dengan lembaga-lembaga dari luar,“ ujar Anindya.

Tahun 2019, BUGI bekerja sama dengan Pesona Indonesia and Friends, grup tari Indonesia di Frankfurt untuk mengumpulkan bantuan  lewat pertunjukan tari.  Berjumlah 40 orang lebih menjadi relawan dalam pertunjukan tersebut. Mereka berlatih dari November 2018 hingga pagelaran April dan Oktober 2019, “Kami semua menjadi sukarelawan.  Tapi mereka semua mau berkontribusi. Dengan bekerja sama bisa menghasilkan sesuatu yang juga bisa membantu orang lain,“ kata Anindya yang juga ikut menjadi penari dalam pertunjukan tersebut. Dana yang berhasil dikumpulkan membantu menutupi kekurangan dana yang dibutuhkan untuk proyek BUGi.

Tahun 2021 BUGI sudah punya rencana baru, membangun fasilitas pengolahan sampah yang sehat,“Karena itu juga bagian dari kesehatan lingkungan juga. Di sana kita bangun fasilitas pengolahan limbah organik yang ujungnya jadi pupuk juga,” pungkas Anindya.