BioNTech Mulai Produksi Vaksin di Pabrik Baru di Marburg, Jerman | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 11.02.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

BioNTech Mulai Produksi Vaksin di Pabrik Baru di Marburg, Jerman

Pengembang vaksin BioNTech mulai memproduksi vaksin Covid-19 di pabrik barunya di Marburg, Jerman. Fasilitas baru ini akan meningkatkan pasokan vaksin secara signifikan, terutama untuk Uni Eropa.

Pabrik baru di Marburg akan memproduksi 250 juta dosis vaksin Covid-19 sampai Juni 2021

Pabrik baru di Marburg akan memproduksi 250 juta dosis vaksin Covid-19 sampai Juni 2021

Pabrik baru BioNTech di Marburg direncanakan memproduksi sampai 250 juta dosis vaksin Covid-19 pada paruhan pertama 2021. Vaksin pertama yang diproduksi di sana dijadwalkan untuk didistribusikan pada awal April.

Langkah pertama adalah produksi mRNA, yang merupakan bahan aktif farmasi dari vaksin, yang dikembangkan BioNTech yang bermitra dengan rakasasa farmasi AS, Pfizer. Satu batch mRNA saat ini cukup untuk menghasilkan sekitar 8 juta dosis, kata BioNTech dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Rabu (10/2).

Jika sudah beroperasi penuh, pabrik di Marburg akan memiliki kapasitas produksi tahunan hingga 750 juta dosis, demikian mengutip pernyataan BioNTech itu. Pabrik di Marburg akan menjadi "salah satu situs manufaktur mRNA terbesar di Eropa."

Fasilitas produksi dan riset baru BioNTech di Marburg

Fasilitas produksi dan riset baru BioNTech di Marburg

Negosiasi vaksin BioNTech diwarnai skeptisisme

Dokumen rahasia Komisi Eropa yang dilihat oleh tim media Jerman menunjukkan, mayoritas negara anggota UE menginginkan vaksin "tradisional" dan "sangat sedikit tertarik" pada vaksin jenis baru dari BioNTech-Pfizer dan Moderna yang berbasis rekayasa mRNA.

Vaksin mRNA itu pada awalnya didukung "hanya oleh sebagian kecil negara anggota", kata laporan tim jurnalis dari stasiun siaran Jerman NDR dan WDR, serta dari harian Süddeutsche Zeitung.

Mula-mula banyak negara Uni Eropa menentang vaksin mRNA, terutama dari BioNTech, karena menggunakan teknik baru dan memerlukan pendinginan ekstrim hingga minus 70°C selama transportasi dan penyimpanan.

Selain itu, para penasehat ilmiah Uni Eropa sampai Oktober tahun lalu "sangat skeptis" terhadap semua bentuk penggunaan metode mRNA. Argumen lebih lanjut yang santer disebut-sebut di Jerman adalah, dibandingkan dengan vaksin dari AstraZeneca dari Inggris, vaksin mRNA Biontech harganya lebih mahal.

Pfizer menuntut dibebaskan dari kewajiban ganti rugi

Media di Jerman menggambarkan para negosiator Uni Eropa juga bertujuan untuk mendapat hasil yang optimal dalam negosiasi yang dimulai Juni lalu. Tetapi situasi berubah ketika mitra BioNTech dari Amerika Serikat, Pfizer, melibatkan diri dalam negosiasi itu.

Negosiasi pengadaan vaksin itu dilakukan oleh "dewan pengarah" Uni Eropa yang dipimpin DirekturJenderal Komisi Kesehatan, Sandra Gallina dari Italia dan Clemens Auer dari Austria.

Clemens Auer mengatakan, perusahaan farmasi AS itu menuntut agar Uni Eropa membebaskan mereka dari kewajiban apa pun jika terjadi kesalahan dalam pengembangan vaksin, seperti yang terjadi dalam tragedi skandal Thalidomide pada 1960-an, yang menyebabkan kasus cacat lahir. Namun Uni Eropa menolak persyaratan tersebut, sementara Inggris bersedia menerimanya.

Perkembangan laju infeksi Covid-19 di beberapa negara sampai 10 Februari 2021

Perkembangan laju infeksi Covid-19 di beberapa negara sampai 10 Februari 2021

"Kami mulai bernegosiasi dengan BioNTech, dan pada titik tertentu Pfizer terlibat, dan kemudian tiba-tiba ada pengacara Amerika di meja perundingan," kilah Clemens Auer. "Itu tidak membuat negosiasinya lebih mudah."

Uni Eropa mengingatkan, pengembang vaksin seperti BioNTech dan AstraZeneca telah menerima bantuan ratusan juta euro untuk pengembangan dan produksi sebelum kontrak ditandatangani dengan Uni Eropa.

hp/as  (dpa, rtr)

Laporan Pilihan