1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Vaksin Lemah Bisa Picu Mutasi Virus

28 Januari 2021

Strain virus corona mutasi bisa lolos dari respons kekebalan tubuh yang lemah, dan membuatnya makin agresif. Pasien COVID-19 yang sudah sembuh bisa terinfeksi ulang. Artinya vaksin perlu aktualisasi.

https://p.dw.com/p/3oTyp
virus corona SARS-CoV-2 pemicu COVID-19
Citra virus corona SARS-CoV-2 pemicu COVID-19 di bawah mikroskop elektronFoto: Imago/NIAID-RML

Kasus di kota Manaus, Brasil bisa jadi contoh nyata kecepatan luar biasa mutasi virus SARS CoV-2. Teorinya, setelah lebih 75% warga terinfeksi Agustus 2020, harusnya terbentuk "herd immunity." Tapi bulan Desember tahun lalu, rumah sakit kembali dipenuhi pasien positif corona.

Pemicunya, diduga varian virus mutasi P.1. Strain ini bisa "lolos" dari respons imunitas orang yang sembuh COVID-19 dan menyebabkan infeksi ulang. Kejelasan dari fenomena ini diharap diperoleh dari sequencing sampel virus dari pasien.

Apa yang disebut fenomena "Immune Escape" ini merupakan ancaman serius, karena pasien COVID-19 yang sudah sembuh bsa terinfeksi ulang. Juga vaksin yang sudah mendapat izin, bisa kehilangan keampuhannya dan harus terus menerus diperbarui agar tetap ampuh.

Walau begitu, sejauh ini varian virus mutasi tidak menunjukkan resistensi terhadap vaksin baru yang sudah mendapat izin, dan disuntikkan pada jutaan orang di seluruh dunia. Demikian diungkapkan Philip Krause, ketua kelompok kerja vaksin  COVID-19 Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Namun ada kabar kurang baiknya, kecepatan evolusi virus ini mengindikasikan, varian ini juga bisa secepat kilat mengembangkan fenotipe yang resisten, di luar perhitungan kita," ujar Krause dalam jurnal ilmiah Science.

Evolusi varian virus

Seperti sudah diketahui, untuk berkembang biak, virus menyusupkan informasi genetikanya ke sel inang. Dan pada setiap reproduksi virus, muncul kesalahan kecil "copy" kode genetikanya. Artinya virus mengalami mutasi.

Vaksin yang sekarang digunakan untuk meredam pandemi, memberikan tekanan evolusi pada virusnya. Dengan itu varian virus melakukan seleksi alamiah dan tetap mampu melakukan reproduksi, lewat mutasi yang mampu meloloskan diri dari sistem kekebalan tubuh.

Ini tidak berarti virus yang melakukan seleksi alamiah menjadi lebih mematikan. Pasalnya, virus yang membunuh inangnya terlalu cepat akan sulit melakukan reproduksi dan akan musnah. Sementara varian virus yang lebih jinak bisa terus berkembang biak.

Walau begitu data dari New and Emerging Virus Threats Advisory Group di Inggris menyebutkan, varian virus mutasi yang mula-mula ditemukan di Inggris, 70% lebih cepat menyebar, melainkan juga kemungkinan bisa lebih mematikan. Tapi data yang disodorkan, sejauh ini terlalu lemah.

Efek samping vaksin lemah

Juga vaksin yang "lemah" atau penangguhan pemberian dosis kedua vaksin, bisa memicu efek samping yang berlawanan dengan yang diharapkan. Pakar virologi Andrew Read dari Pennsylvania State University sudah memperingatkan kemungkinan efek samping merugikan itu. Risetnya dengan virus ayam pada 2001 memberikan kesimpulan, vaksin dengan keampuhan lemah, pada kondisi tertentu justru menguntungkan varian virus yang berbahaya.

Karena itu kebijakan penangguhan pemberian dosis kedua vaksin COVID-19, seperti yang saat ini diterapkan di Inggris, dan kemungkinan menyusul diterapkan di AS, diamati dengan kritis. Orang yang sudah mendapat dosis pertama vaksin, memang mengembangkan imunitas, namun belum sepenuhnya membangun respons kekebalan tubuh yang kuat. Tubuh berjuang lebih lama melawan virusnya, dan memberikan waktu kepada virus untuk lolos dari kematian akibat vaksin. Jika varian virus semacam itu menginfeksi orang yang belum divaksin, dampaknya bisa fatal.

Penangguhan pemberian dosis kedua vaksin yang meluas, bisa menciptakan kelompok jutaan manusia yang memiliki cukup antibodi untuk memperlambat serangan virus corona agar tidak jatuh sakit, tai tidak cukup kuat untuk memusnahkan virusnya. "Ini bisa menjadi resep ideal untuk terciptanya varian yang kebal vaksin" kata pakar virologi Florian Krammer dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai dalam jurnal ilmiah Science.

Namun ilmuwan lain memiliki pendapat berbeda.  Pakar evolusi mikrobiologi Andrew Read dari Pennsylvania State University menyebutkan, lebih menguntungkan jika lebih banyak orang yang secepatnya mendapat vaksinasi dosis pertama. "Dua kali lebih banyak orang yang memiliki separuh imunitas, harusnya lebih baik dibanding hanya separuh kuantitas dengan imunitas penuh," papar Read.

Apakah perlu update vaksin musiman?

Untungnya beberapa jenis vaksin tidak kehilangan keampuhannya, akibat evolusi normal virusnya. Contohnya vaksin cacar atau campak Jerman tidak mengembangkan mutasi yang bisa lolos dari imunitas yang dipicu vaksinasi. Dalam beberapa dekade terakhir, hanya sedikit virus yang mengembangkan resistensi.

Namun ada kekecualian, misalnya pada virus infuenza, yang terus menerus melakukan mutasi, hingga tiap musim harus dikembangkan vaksin yang sesuai.

Jika SARS-CoV-2 berperilaku serupa virus flu, artinya vaksin corona harus terus menerus diaktualisasi. Update semacam itu untuk vaksin berbasis mRNA menurut BioNTech-Pfizer bisa dilakukan dalam hitungan minggu. Tapi produksi, uji klinis dan regulasinya tentu memerlukan waktu cukup panjang. Padahal saat ini pusat imunisasi di seluruh dunia, mengharapkan secepatnya mendapat suplai vaksin anti corona.

Alexander Freund (as/rap)