Angela Merkel: Vaksin COVID-19 Mungkin Diperlukan ′Selama Bertahun-tahun′ | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 02.02.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Angela Merkel: Vaksin COVID-19 Mungkin Diperlukan 'Selama Bertahun-tahun'

Jika vaksin tidak ampuh melawan varian virus, maka "kita mulai dari awal lagi," kata Merkel usai pertemuan dengan perdana menteri negara bagian. Ia juga sampaikan pembelaan mengapa peluncuran vaksin Eropa lebih lambat.

Kanselir Jerman Angela Merkel

Kanselir Jerman Angela Merkel

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa vaksin virus corona mungkin masih akan diperlukan hingga “bertahun-tahun yang akan datang”.

“Ini mirip dengan vaksin flu, di mana Anda melakukan vaksinasi ulang terhadap setiap mutasi baru virus,” kata Merkel di Berlin usai bertemu dengan para pejabat negara bagian dalam pembahasan kampanye vaksinasi Jerman, Senin (1/2).

Merkel menambahkan bahwa pemerintahannya telah menerima jaminan yang diperlukan terkait janji penawaran vaksinasi terhadap semua warga Jerman pada akhir musim panas.

“Pernyataan yang menyebutkan bahwa kami akan dapat menawarkan vaksinasi kepada seluruh warga negara pada akhir kuartal ketiga dapat dipertahankan,” kata Merkel. Meski ada penundaan beberapa pengiriman vaksin, Merkel yakin janji tersebut bisa terwujud karena pemerintah telah mendapat jaminan tentang stok vaksin yang akan tiba per kuartal.

Merkel mengatakan bahwa janji tersebut diterapkan meskipun dua produsen farmasi Johnson & Johnson dan CureVac tidak menerima persetujuan untuk vaksin yang mereka kembangkan. Namun, ia menegaskan bahwa jika kedua perusahaan itu mendapat persetujuan, maka akan ada pasokan vaksin yang lebih besar.

Merkel mengumumkan bahwa pemerintah federal dan negara bagian mengusulkan sebuah “rencana vaksinasi nasional” untuk mempersingkat proses imunisasi.

Merkel mengaku ada banyak alasan mengapa laju vaksinasi di Jerman lebih lambat dibandingkan dengan negara lain. Diantaranya kapasitas produksi yang relatif terbatas dibandingkan dengan AS, dan fakta bahwa Uni Eropa (UE) telah menghabiskan waktu lama untuk merundingkan masalah kekurangan vaksin.

Selain itu, UE juga tidak memilih untuk persetujuan darurat vaksin. “Untuk alasan yang baik,” kata Merkel seraya menambahkan bahwa “Bagaimanapun, ini juga tentang kepercayaan”.

Merkel besama dengan 16 perdana menteri negara bagian telah menggelar pertemuan pada Senin (1/2) untuk membahas perbaikan program vaksinasi di negara itu.

Beberapa menteri federal, dan perwakilan dari kedua produsen vaksin dan Komisi Eropa mengambil bagian dalam konferensi video. Dalam pertemuan tersebut, beberapa perdana menteri negara bagian menuntut adanya kejelasan tentang jumlah dan waktu pengiriman vaksin, menyusul munculnya kebingungan yang semakin meluas.

Peningkatan vaksin untuk Jerman dan UE

Perusahaan Jerman BioNTech dan perusahaan farmasi AS Pfizer telah berjanji mengirimkan hingga 75 juta lebih dosis vaksin COVID-19 kepada UE pada kuartal kedua tahun 2021, demikian disampaikan oleh kepala perusahaan Sierk Poetting dalam sebuah pernyataan tertulis, Senin (1/2).

Selanjutnya, BioNTech-Pfizer berencana untuk memproduksi sekitar 2 miliar dosis vaksin pada akhir tahun ini, naik dari rencana awal sebanyak 1,3 miliar. 

Sementara itu, perusahaan Jerman lainnya, Bayer, akan memperpanjang kemitraannya saat ini dengan CureVac untuk memasukkan pembuatan vaksin mRNA dari perusahaan yang lebih kecil guna melawan virus corona pada tahun 2022.

“Setelah berdiskusi dengan pemerintah Jerman, menjadi jelas bahwa kapasitas produksi vaksin saat ini perlu ditingkatkan, terutama untuk varian potensial virus SARS-CoV-2 [COVID-19],” kata Stefan Oelrich, presiden divisi farmasi Bayer kepada wartawan. Perusahaan itu berencana memproduksi 160 juta dosis di 12 bulan pertama.

Kurangi ekspektasi untuk jangka pendek

Meski begitu, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn jelang pertemuan tersebut mengatakan bahwa Jerman harus membatasi ekspektasi mereka untuk saat ini.

Jika dinilai secara realistis, akan terjadi kekurangan vaksin selama beberapa minggu lagi, kata dia seraya menambahkan bahwa progres nyata mungkin baru akan terjadi pada kuartal kedua tahun ini.

Spahn mengatakan bahwa semua sektor seperti pengadaan, produksi dan penjadwalan vaksin “dapat dilakukan lebih baik lagi”.

Perdana Menteri Negara Bagian Rhine-Westphalia Utara Armin Laschet memiliki penilaian serupa dengan Spahn. Ia menyerukan agar perbaikan dalam vaksinasi COVID-19 di Jerman menjadi “realistis”.

Laschet, yang baru-baru ini terpilih sebagai pemimpin partai CDU Merkel, mengingatkan kehati-hatian terhadap gagasan yang menyebut bahwa produksi vaksin dapat ditingkatkan hanya dalam seminggu.

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz dalam pernyataannya kepada Süddeutsche Zeitung pada Minggu (31/1) juga mengatakan bahwa diperlukan “upaya keras dari negara” agar Jerman dapat memvaksinasi semua orang pada akhir musim panas.

Institut Robert Koch (RKI) untuk pengendalian dan pencegahan penyakit menular di Jerman telha melaporkan sekitar 5.608 infeksi baru dan 175 kematian dalam 24 jam terakhir.

Dalam tujuh hari terakhir, tercatat tingkat penambahan kasus baru adalah 91 kasus per 100.000. Jerman ingin menurunkan tingkat infeksi ini di bawah 50. (gtp/pkp)

Laporan Pilihan