Dunia Bersiap Vaksinasi COVID-19, Namun Produksi dan Pengiriman Jadi Tantangan | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 24.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Vaksin COVID-19

Dunia Bersiap Vaksinasi COVID-19, Namun Produksi dan Pengiriman Jadi Tantangan

Persetujuan regulasi vaksin COVID-19 telah meningkatkan harapan dunia dalam mengalahkan pandemi pada tahun depan. Tetapi produksi dan proses pengiriman vaksin akan menjadi tantangan selanjutnya.

Simulasi vaksin COVID-19 di Meksiko

Seorang tenaga medis melakukan simulasi membawa vaksin COVID-19, sebelum memulai proses vaksinasi Pfizer-BioNTech COVID-19 di Meksiko

Pada awal pekan ini, Eropa memberikan lampu hijau untuk vaksin COVID-19 dari Pfizer dan mitranya BioNTech yang menunjukkan kemanjuran 95 persen dalam percobaan besar. Sebelumnya, Inggris dan Amerika Serikat (AS) telah memberikan persetujuan terlebih dahulu.

Persetujuan vaksin yang cepat, setahun setelah virus corona terdeteksi di Wuhan, Cina, adalah bukti upaya besar global yang dilakukan untuk mengatasi pandemi yang telah menewaskan lebih dari 1,7 juta orang.

Para ilmuwan mengidentifikasi kandidat vaksin yang menjanjikan hanya dalam hitungan minggu dan jutaan dosis sudah diluncurkan dari pabrik.

Vaksin COVID-19 tiba di Singapura (21/12)

Pengiriman pertama vaksin COVID-19 tiba di Singapura (21/12)

Vaksin ketiga dari AstraZeneca juga telah terbukti mencegah COVID-19, meskipun pertanyaan tentang tingkat kemanjurannya membuat mereka harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan beberapa regulator.

"Belum pernah terjadi sebelumnya ketika Anda memiliki tiga vaksin potensial yang dikembangkan dalam waktu singkat, dan semuanya menjanjikan," kata Marcel Tanner, Presiden Akademi Seni dan Sains Swiss dan anggota Satgas Sains COVID-19 Swiss.

Inokulasi telah dimulai di Inggris dan AS, dengan pengiriman ke Kanada, Israel, dan Meksiko. Negara-negara UE mengatakan proses vaksinasi akan dimulai beberapa hari setelah Natal, sementara Swiss dan Qatar mengesahkan vaksin Pfizer BioNTech pada akhir pekan ini.

Kotak berisi vaksin Moderna

Kotak yang berisi vaksin Moderna disiapkan untuk dikirim ke pusat distribusi McKesson di Olive Branch, Mississippi, AS (20/12)

Meski begitu, Kepala Eksekutif perusahaan farmasi Jerman BioNTech, Ugur Sahin, memperkirakan masyarakat akan berurusan dengan wabah COVID-19 sporadis untuk dekade berikutnya. Namun terbantu dengan beberapa vaksin yang diyakini dapat menghindari penutupan bisnis dan rumah sakit yang kelebihan beban.

"Musim dingin ini tidak akan berdampak pada jumlah infeksi, tetapi kami harus memberi dampak sehingga musim dingin berikutnya akan menjadi normal baru," kata Sahin.

Vaksin untuk seluruh warga dunia

Lebih dari 100 kandidat vaksin lainnya tengah dalam pengerjaan. Pakar vaksin mengatakan beberapa suntikan akan diperlukan untuk memberikan dosis yang cukup untuk menyuntikkan seluruh orang di dunia, baik yang kaya maupun yang miskin.

Federasi Produsen dan Asosiasi Farmasi Internasional berharap 10 vaksin telah mendapatkan persetujuan pada pertengahan 2021, termasuk dari perusahaan AS Johnson & Johnson dan Novavax dan CureVac Jerman.

Persediaan terbatas

Namun tantangan besar tetap ada, termasuk meningkatkan produksi. Pfizer berharap menghasilkan 50 juta dosis untuk tahun 2020, setengah dari target aslinya. Sementara Moderna telah menjanjikan 20 juta inokulasi AS tahun ini.

Manufaktur akan dipercepat pada 2021, dengan produksi gabungan berpotensi mencapai 1,8 miliar dosis.

"Tidak akan ada cukup vaksin untuk beredar dalam waktu yang lama ... mungkin hingga 2022," kata Tom Frieden, Mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

Ada beberapa kendala terkait penyimpanan dan proses pengiriman vaksin Pfizer BioNTech yang harus disimpan pada suhu sangat rendah.

Meskipun uji coba telah menunjukkan teknologi mRNA baru yang digunakan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna tampak aman, masih ada banyak orang yang meragukannya.

Distribusi vaksin Moderna

Distribusi vaksin Moderna ke McKesson di Olive Branch, Mississippi, AS (20/12)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 60 persen orang perlu mendapatkan vaksinasi. Negara-negara berkembang yang berharap mengakses vaksin melalui skema global yang didukung WHO mungkin harus menunggu, karena negara-negara yang lebih kaya telah memesan lebih awal.

Sejauh ini, negara Barat sebagian besar berfokus pada vaksinasi tenaga medis dan penghuni panti jompo. 80% dari 300 ribu kasus kematian akibat COVID-19 di AS adalah orang yang berusia di atas 65 tahun, kata CDC.

"Vaksinasi mungkin mengatasi krisis perawatan kesehatan COVID-19, namun jika ada skeptisisme vaksin, tidak akan ada kekebalan kelompok yang tercapai," kata Christian Muenz, profesor imunobiologi virus dari Universitas Zurich.

Untung-untungan?

Sejauh ini, Rusia telah menginokulasi 200 ribu lebih orang dengan suntikan Sputnik-V, yang menurut pengembangnya 91,4 persen terbukti manjur. Negara tersebut juga telah menandatangani kesepakatan produksi vaksin, termasuk dengan India.

Di Cina, kandidat vaksin Sinovac dan dua dari China National Pharmaceutical Group (Sinopharm) saat ini berada dalam uji coba tahap akhir. Tenaga medis dan pejabat di daerah perbatasan menjadi prioritas golongan yang mendapatkan suntikan vaksin.

Vaksin Sinopharm terdaftar di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Sementara Sinovac memiliki kesepakatan untuk memasok Brasil, Turki, dan Indonesia. Vaksin Cina lainnya, termasuk dari CanSino Biologics, juga sedang dalam uji coba tahap akhir.

Namun, tidak semua proyek vaksin mencapai sasarannya. Sanofi dan GlaxoSmithKline menunda kandidat vaksin mereka setelah gagal melindungi orang yang lebih tua. Sebuah proyek vaksin buatan Australia juga gagal. Level kemanjuran vaksin AstraZeneca yang hanya 62% masih menuai tanda tanya.

Eric Topol, pendiri Scripps Research Translational Institute yang berbasis di California, AS, mengatakan vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna akan menjadi vaksin pendahulu yang sulit untuk diikuti.

"Kami tidak dapat menerima 62 persen jika bisa mendapatkan 95 persen," kata Topol.

ha/pkp (Reuters)

Laporan Pilihan