Johnson & Johnson Hentikan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Setelah Peserta Sakit Misterius | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 13.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

Johnson & Johnson Hentikan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Setelah Peserta Sakit Misterius

Perusahaan Johnson & Johnson mengatakan untuk sementara menghentikan uji klinis tahap tiga vaksin Covid-19, karena salah satu pesertanya mengalami sakit yang ''tak dapat dijelaskan''.

Foto ilustrasi vaksin

Foto ilustrasi vaksin

"Kami telah menghentikan sementara pemberian dosis lebih lanjut dalam semua uji klinis kandidat vaksin Covid-19 kami, termasuk uji coba tahap 3, karena (muncul) penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta studi," kata perusahaan Johnson & Johnson (J&J) dalam sebuah pernyataan yang dirilis Senin (12/10).

Itu berarti, pendaftaran bagi 60.000 pasien untuk peserta uji klinis ditutup untuk sementara dan saat ini sedang dibentuk komisi keselamatan pasien yang independen.

J&J mengatakan bahwa munculnya "kejadian serius yang merugikan", seperti kecelakaan atau penyakit, adalah "bagian yang diharapkan dari setiap studi klinis, terutama studi besar". Menurut pedoman perusahaan, jika hal itu terjadi maka uji klinis akan dihentikan sementara untuk menentukan apakah kasus itu terkait dengan obat yang sedang diuji coba, serta apakah penelitian dan uji klinis kemudian akan dilanjutkan.

Ilustrasi foto vaksin AstraZeneca

Uji klinis vaksin dari perusahaan AstraZeneca juga pernah dihentikan karena peserta jatuh sakit

Uji klinis vaksin pada kera tanpa masalah

Untuk program uji klinis tahap 3, J&J telah mulai merekrut peserta sejak akhir September, dengan tujuan mendaftarkan sampai 60.000 relawan di lebih dari 200 lokasi di AS dan di seluruh dunia. Negara lain tempat uji klinis sedang berlangsung selain AS adalah Argentina, Brasil, Chili, Kolombia, Meksiko, Peru dan Afrika Selatan.

J&J menjadi pembuat vaksin kesepuluh yang secara global sedang melakukan uji coba fase tiga, untuk memerangi pandemi Covid-19. Pemerintah AS telah memberi J&J dukungan finansial sekitar USD 1,45 miliar (Rp 21 triliun) di bawah program Operation Warp Speed yang dicanangkan pemerintahan Trump.

Pengujian praklinis pada monyet rhesus macaque yang dipublikasikan di jurnal ilmiah "Nature" menunjukkan bahwa pengujian itu telah memberikan monyet tersebut perlindungan lengkap atau hampir lengkap terhadap infeksi virus di paru-paru dan hidung.

Bukan pertama kali, uji klinis terpaksa dihentikan

Vaksin corona J&J didasarkan pada dosis tunggal adenovirus penyebab pilek, dimodifikasi sehingga tidak bisa lagi mereplikasi diri, lalu dikombinasikan dengan bagian dari virus corona yang disebut protein lonjakan yang digunakannya untuk menyerang sel manusia.

Pengembangan vaksin corona J&J menggunakan teknologi yang sama yang digunakan dalam vaksin Ebola terbaru, yang pada Juli lalu mendapat persetujuan pemasaran dari Komisi Eropa.

Pada bulan September, uji coba vaksin virus corona yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford juga dihentikan untuk sementara, setelah seorang peserta Inggris menderita "penyakit yang tidak dapat dijelaskan".

Vaksin AstraZeneca ini adalah salah satu proyek yang paling maju, yang telah diuji coba pada puluhan ribu relawan di seluruh dunia. Uji klinis dilanjutkan awal bulan ini di Jepang, tetapi tidak di Amerika Serikat.

hp/pkp  (rtr, afp, ap)

Laporan Pilihan