1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialHong Kong

Siap Emigrasi, Warga Hong Kong Pelajari Keterampilan Baru

16 September 2022

Beberapa perusahaan swasta di Hong Kong menawarkan serangkaian pelatihan dasar, mulai dari perbaikan rumah hingga tata rambut. Banyak yang mengikuti kursus ini sebagai bekal sebelum mengadu nasib di luar negeri.

https://p.dw.com/p/4GxFo
Kursus tata rambut
Seorang siswa mengikuti kursus keterampilan tata rambut di Hong KongFoto: Bertha Wang/AFP

Di Hong Kong, beberapa perusahaan menawarkan serangkaian kursus kilat seperti cara merenovasi rumah hingga tata rambut. Penawaran ini ada karena munculnya gelombang orang yang meninggalkan Hong Kong ketika Cina tidak menoleransi setiap perbedaan pendapat dan menerapkan aturan ketat pandemi yang berdampak pada kemerosotan ekonomi.

Eric Pun, termasuk di antara belasan orang yang belajar cara mengebor, sebuah upaya untuk memperoleh sejumlah keterampilan baru sebelum berangkat ke luar negeri. Bagi Pun, seorang perawat berusia 35 tahun yang beremigrasi ke Australia bersama keluarganya, mengikuti kelas perbaikan rumah merupakan langkah praktis untuk mempersiapkan mental untuk hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya.

Kursus instalasi listrik
Siswa mempelajari keterampilan dasar kabel listrikFoto: Bertha Wang/AFP

Renobro merupakan salah satu dari segelintir perusahaan yang menawarkan kursus renovasi rumah. Dengan tarif HK$1.980 (Rp3,7 juta), pelatihan tersebut sudah dipesan penuh beberapa minggu sebelumnya, menurut salah satu pendiri dan instruktur perusahaan, Lau Chun-yu.

"Lebih dari seribu orang telah berpartisipasi dalam kursus kami," kata Lau. "Ketika kami pertama kali memulai, kami tidak menyangka begitu banyak orang akan beremigrasi."

Lau mengatakan murid-muridnya, yang sebagian besar berusia tiga puluhan dan termasuk dokter dan guru, berlomba melalui silabus satu hari dengan lebih dari 40 keterampilan, seperti mendempul, memasang plester, dan memasang kembali peralatan.

"Sebagian besar dari mereka tidak siap, tapi ... mereka berharap untuk dapat pergi secepat mungkin," katanya, mengutip kekhawatiran bahwa negara-negara asing dapat memperketat kontrol imigrasi dalam jangka panjang.

Kursus renovasi rumah
Lau Chun-yu (kiri tengah), salah satu pendiri Renobro, yang mengajarkan keterampilan mendempul kepada siswa yang mengikuti kelas perbaikan rumahFoto: Bertha Wang/AFP

Pindah bersama keluarga

Hong Kong saat ini sedang mengalami eksodus talenta lokal dan asing. Banyak warga menolak tindakan keras Beijing terhadap perbedaan pendapat menyusul protes besar disertai kekerasan tiga tahun lalu. Aturan ketat nol-COVID juga tetap berlaku 2,5 tahun setelah pandemi, membatasi kehidupan sehari-hari dan mengisolasi kota secara internasional.

Angka sensus terbaru menunjukkan rekor penurunan populasi Hong Kong, yang merosot 1,6 persen menjadi 7,29 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angkatan kerja juga anjlok ke 3,75 juta, terendah dalam hampir satu dekade.

Banyak dari warga Hong Kong yang pergi adalah keluarga dengan anak-anak usia sekolah. Berdasarkan angka resmi yang dirilis awal bulan ini, ada 70 kelas yang berkurang di sekitar 60 sekolah dasar pada tahun ajaran ini. Lebih dari 4.000 guru telah meninggalkan pekerjaan mereka pada tahun ajaran lalu.

Kursus tata rambut
Tiffany Leung (kiri), yang berencana untuk bermigrasi ke luar negeri, menerima sertifikat kelulusan di kelas keterampilan tata rambutFoto: Bertha Wang/AFP

Inggris menjadi salah satu tujuan paling populer bagi warga Hong Kong setelah mengumumkan skema visa yang menyediakan jalur menuju kewarganegaraan, dengan alasan Beijing telah mengabaikan janji pra-serah untuk mengizinkan warga mendapatkan kebebasan dan otonomi utama. Sejauh ini lebih dari 140.000 orang telah mendaftar di bawah skema Inggris sejak diluncurkan pada Januari 2021.

Pilihan umum lainnya mencakup Kanada, Australia, dan Amerika Serikat, mencerminkan gelombang emigrasi serupa yang terjadi menjelang penyerahan Hong Kong tahun 1997 dari Inggris.

Pentingnya memiliki keterampilan

Terlepas dari optimisme mereka untuk hidup di luar negeri, banyak calon emigran mengatakan kepada AFP bahwa mereka khawatir tentang prospek pekerjaan dan ingin mempelajari lebih banyak keterampilan sebagai asuransi.

Kimi Chau, 35, mengikuti serangkaian kelas tata rambut sebagai persiapan kepindahannya ke Inggris bersama suami dan anaknya yang berusia lima tahun. "Saya ingin sudah memiliki keterampilan untuk sebuah pekerjaan setelah saya tiba. Jika saya bisa belajar lebih banyak keterampilan sebelum saya pergi dan jika ada kesempatan untuk membuka bisnis, saya akan lebih percaya diri,” katanya.

Chau mengatakan kekhawatirannya tentang sistem pendidikan Hong Kong di tengah perubahan iklim politik mendorongnya untuk pergi. "Karena saya punya anak, saya tidak butuh waktu lama untuk memutuskan."

Instruktur Jason Yip mengatakan industri tata rambut memiliki ambang masuk yang relatif rendah dan warga Hong Kong bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat, seraya menambahkan bahwa sekitar sepertiga dari murid-muridnya berencana untuk beremigrasi.

Yip menambahkan bahwa banyak muridnya menghargai dimensi sosial dari tata rambut, sebagai cara untuk tetap dekat dengan anggota keluarga dan untuk terhubung dengan orang-orang Hong Kong yang berpikiran sama.

ha/hp (AFP)