1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Warga Hong Kong ramai mengantre membeli alat tes antigen mandiri (28/02)
Warga Hong Kong ramai mengantre membeli alat tes antigen mandiri (28/02)Foto: Vincent Yu/AP Photo/picture alliance
KesehatanHong Kong

Warga Hong Kong Panik Jelang Tes Massal COVID-19

1 Maret 2022

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengimbau warganya agar tetap tenang dan tidak panik, serta tidak tersesatkan oleh rumor yang tak benar. Hong Kong saat ini tengah menyiapkan fasilitas isolasi di kawasan industri Tsing Yi.

https://www.dw.com/id/warga-hong-kong-panik-jelang-tes-massal-covid/a-60954850

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Selasa (01/03) meminta warganya agar tetap tenang dan tidak panik menyusul adanya wacana pengujian COVID-19 massal dan kemungkinan lockdown.

Imbauan ini ia sampaikan setelah warga Hong Kong berbondong-bondong memborong habis bahan kebutuhan pokok di pasar swalayan dan menimbun bahan-bahan pokok tersebut.

Media lokal melaporkan, tes COVID-19 wajib yang akan dimulai setelah tanggal 17 Maret memicu kekhawatiran banyak orang, mereka akan dipaksa untuk melakukan isolasi mandiri dan anggota keluarga dengan hasil tes positif akan dipisahkan.

Lam mengimbau masyarakat "untuk tidak menjadi mangsa rumor untuk menghindari ketakutan yang tidak perlu digoreng." Ia menegaskan, pasokan makanan dan barang tetap normal.

"Masyarakat tidak perlu khawatir, harus tetap waspada dan memperhatikan informasi yang disebarluaskan oleh pemerintah agar tidak disesatkan oleh rumor yang tidak benar," ujar Lam.

Uji Covid-19 selama 9 hari

Otoritas Hong Kong berencana untuk menguji 7,4 juta orang di sana sebanyak tiga kali selama sembilan hari. Pemerintah merekomendasikan agar orang-orang agar tetap tinggal di rumah selama periode tes Covid-19 tersebut. Pengecualian akan dibuat bagi mereka yang membeli makanan, mencari perawatan medis dan melakukan kegiatan sosial.

Meski begitu, dilaporkan puluhan orang mengantre untuk masuk ke apotek dan bank, sementara banyak rak-rak di pasar swalayan yang kosong karena orang-orang memborong bahan kebutuhan pokok sebanyak yang mereka mampu.

Dilaporkan jalanan dan mal-mal di jantung kota, serta area bisnis dan distrik keuangan terpantau sangat sepi di mana biasanya sangat sibuk di jam makan siang.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Hong Kong Sophia Chan mengatakan, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk memberlakukan penguncian ketat seperti yang dilakukan Cina sebagai upaya untuk mengekang penyebaran virus corona varian Omicron.

"Dari perspektif kesehatan masyarakat, untuk menghadirkan efek terbaik dari pengujian wajib menyeluruh, kita perlu mengurangi mobilisasi orang sampai batas tertentu," jelas Chan, Senin (28/02), dikutip dari kantor berita AFP.

Hong Kong siapkan fasilitas isolasi 

Pada hari Senin (28/02), Hong Kong mencatat rekor kasus harian COVID-19 dengan 34.466 kasus baru. Angka kematian juga mengalami peningkatan, hingga fasilitas penyimpanan jenazah di rumah sakit dan rumah duka telah mencapai batas maksimum.

Lam mengatakan, pihaknya tengah berusaha melawan waktu untuk "membuat sebuah keajaiban" di area industri di kota itu. Wilayah industri Tsing Yi yang terletak di barat laut kota, tengah disulap menjadi tempat isolasi yang dapat sekitar 3.900 kamar untuk menampung orang yang terinfeksi dengan gejala ringan berat, ringan, hingga tak bergejala.

Pembatasan yang dilakukan Hong Kong selama dua tahun terakhir sejatinya cukup efektif dalam meredam penyebaran virus corona, tetapi pemerintah menilai memerlukan terobosan baru dalam mencegah penyebaran varian Omicron yang sangat cepat.

rap/as (Reuters, AP, AFP)