Serunya Kuliah Ilmu Sosial Budaya di Jerman | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 18.01.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kampus

Serunya Kuliah Ilmu Sosial Budaya di Jerman

Di Indonesia, Jerman mungkin terkenal sebagai negara dengan teknologi maju dan bidang studi teknik terdepan. Namun, studi sosial dan humaniora di Jerman juga tidak kalah bagusnya.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, Jerman terkenal sebagai negara dengan teknologi yang terdepan. Namun sebenarnya, Jerman juga maju dalam bidang studi ilmu sosial dan humaniora. Menurut statistik dari badan statistik nasional Jerman Statistisches Bundesamt, pada semester ganjil 2017/2018 tercatat ada lebih dari 1,3 juta mahasiswa yang kuliah ilmu sosial dan humaniora dan sekitar 769 ribu mahasiswa kuliah di fakultas teknik.

Salah satu jurusan di bidang ilmu sosial dan humaniora yang bisa dijadikan pilihan studi adalah Medien und Kulturwissenschaften atau Media dan Ilmu Budaya. Ada satu mahasiswi dari Indonesia yang kuliah di jurusan ini, yakni Caesarianda Kusumawati, atau biasa dipanggil Caesa. Pelajar asal Jakarta itu kini terdaftar sebagai mahasiswi S1 di Universitas Heinrich Heine, Düsseldorf. Bagaimana pengalamannya? Berikut bincang-bincang DW bersama Caesa.

DW: Kenapa kamu tertarik untuk kuliah di jurusan Media dan Ilmu Budaya?

Caesa: Awalnya saya ingin ambil jurusan psikologi karena saya suka mempelajari manusia, entah itu kepribadiannya, cara berpikirnya. Tetapi saat menjalani Studienkolleg di Ernst-Moritz-Arndt-Universität Greifswald, saya lebih tertarik ke jurusan media, komunikasi dan budaya. Saya banyak mendapatkan pengalaman baru tentang budaya dan juga culture sharing itu sendiri. Saya senang sekali dengan presentasi dan dulu cukup aktif dalam berdiskusi dan berpartisipasi di acara-acara kampus. Jadi saya pikir, "wah sepertinya belajar media seru juga” karena kita juga belajar bagaimana sih media itu bisa memberi pesan ke masyarakat luas dan bagaimana seorang individu mengolah pesan yang disampaikan lewat media.

Baca juga: Kiat Sukses Berkuliah Sambil Bekerja di Jerman

Apa saja yang kamu pelajari di jurusan ini?

Sejujurnya, yang dipelajari agak berbeda dari ekspektasi awal saya. Semester 1 dan 2 itu kira-kira 85-90 persen filsafat semua. Aduh, sempat ciut karena teman-teman semuanya pintar. Masuk kuliah sudah pada tahu apa yang dipelajari sedangkan saya adalah anak yang baru setahun kurang tinggal di Jerman. Saya kaget lah, ditambah mahasiswa asing di jurusan saya bisa dihitung dengan cuma sebelah tangan.

Sebenarnya saya sangat suka filsafat, tapi kan kalau dipelajari benar-benar jadi susah hehe.. Tapi lama-lama pelajarannya menurut saya jadi seru banget! Meskipun dasarnya filsafat, kami juga belajar tentang sejarah seni, estetika, antropologi, media sosial, film kritik, studi gender, feminisme, komunikasi, teater, seni kontemporer, kolonialisme dan banyak lagi.

Kita harus rajin-rajin baca teks. Satu sesi kuliah saja bisa 20-an halaman yang harus dibaca, walaupun kadang ada yang membosankan. Presentasi dan Referat hampir 2 minggu sekali. Dari mulai deg-degan sampai enggak berasa lagi. Di sini ada yang namanya Referat -- ini kita berperan sebagai dosen yang memimpin jalannya satu sesi kuliah dan diskusi, tapi sejauh ini karena saya suka, jadi semangat menjalaninnya.

Dari seluruh mata kuliah yang kamu ambil, mata kuliah apa yang paling menarik dan membuka wawasan kamu?

Basic and applied philosophy & gender studies! Mata kuliah itu akan benar-benar membuka pikiranmu. Pada dasarnya, kita belajar tentang hidup, jadi semenjak kuliah saya selalu terbiasa untuk melihat sesuatu (apapun itu) dari sudut yang berbeda karena selama belajar, kita dituntut seperti itu. Dan pandangan tersebut salah satunya membiasakan saya untuk berpikir bahwa salah dan benar itu bersifat empiris dan argumentatif, semua tergantung persepsi individu masing-masing.

Apa yang sulit dari kuliah di jurusan humaniora?

Belajar sesuatu yang bukan eksakta itu susah lho karena enggak ada yang benar dan salah. Kita harus selalu punya argumen dan think outside the box. Hukumnya pun banyak alternatifnya, jadi terkadang mungkin kesulitannya ada di mana kita harus memasang batas di setiap aspek yang kita bahas, entah itu presentasi, project, ujian lisan atau makalah. Makanya kita sangat jarang ada ujian tertulis -- mungkin kalau ada ujian tertulis kita bakal nginep di kampus berbulan-bulan.

Bagaimana dengan peluang kerja di Jerman setelah lulus dari jurusan humaniora?

Jurusan humaniora itu luas sekali, bisa kerja di institusi media (seperti misalnya, koran, majalah, radio), institusi riset, lembaga sosial, event organizer atau di perusahaan manapun, yang di mana kita membuat konsep dan ide yang akan direalisasikan dalam suatu medium. Jadi, insya Allah kalau sudah rezeki, dimana-mana peluang akan selalu ada.

Apa saranmu untuk calon mahasiswa dari Indonesia yang juga ingin kuliah di bidang humaniora di Jerman?

Open up your mind dan jangan takut; untuk mengeluarkan pendapat, untuk berbicara di depan umum, untuk berkontribusi dalam organisasi. Dan… jangan pindah jurusan di awal, karena semua jurusan di kuliah ya semester 1 dan 2 memang biasanya enggak seperti yang kita bayangkan, kalau terus menerus pindah, kamu tidak akan berhenti lari dari masalah. Semua harus dihadapi.

Baca juga: Beasiswa DAAD Memberikan Kesempatan untuk Penelitian dan Kuliah Gratis di Jerman

Bisa ceritakan tema apa yang kamu angkat untuk skripsi kamu?

Skripsi sudah dikumpulkan bulan September 2018 lalu alhamdulillah. Judulnya "Is It How I Am Meant to Look? -- Representation of Body Image on US-American Female Magazine”. Di sini saya bahas tentang budaya dan tren body image dengan basis estetika, beauty perception dan kekuatan media massa. Jadi intinya, kenapa sih masyarakat selalu punya tendensi untuk melihat yang cantik itu yang umum, yang lagi ngetrend, yang ada di media? Why they have to aim such perfection? Padahal lagi-lagi kesempurnaan itu sendiri hanya sebuah konsep dan masyarakat menjadikan tren itu sebagai barometer.

Saya sendiri percaya semua wanita itu cantik dengan caranya sendiri, bukan karena berbeda dari standar lalu dia jadi tidak cantik. Saya juga kurang suka dengan konsep tren, entah itu make-up, baju, rambut, perawatan kulit atau apapun, karena tidak semua yang mengikuti tren itu cocok. Saya percaya, kita bisa mencari kecantikan itu dalam diri kita sendiri, tidak perlu mengikuti siapapun.

(na/ts)

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

Laporan Pilihan