Beasiswa DAAD Memberikan Kesempatan untuk Penelitian dan Kuliah Gratis di Jerman | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 26.08.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kuliah di Jerman

Beasiswa DAAD Memberikan Kesempatan untuk Penelitian dan Kuliah Gratis di Jerman

Ingin kuliah dan melakukan penelitian di Jerman dengan beasiswa? Bisa! Salah satunya adalah dengan beasiswa dari DAAD. Ikuti cerita Fathoni A. Musyaffa, penerima beasiswa DAAD di Bonn, Jerman.

Kuliah di luar negeri memang mahal, namun bukan berarti tidak mungkin. Banyak jalan untuk bisa berkuliah di luar negeri, salah satunya melalui beasiswa. Pemerintah Jerman melalui lembaga DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) memberikan beasiswa kepada warga dunia yang ingin kuliah di Jerman. Di Indonesia, DAAD memiliki kantor perwakilan di Jakarta yang memudahkan berbagai konsultasi dan informasi terkait beasiswa untuk warga negara Indonesia.

Fathoni A. Musyaffa adalah salah satu penerima beasiswa dari DAAD. Mahasiswa program S3 asal Kediri ini sedang melakukan penelitian di jurusan Informatika, Universitas Bonn. Ia menceritakan pengalamannya kepada DW.

DW: Melamar beasiswa untuk studi di Jerman dengan berbagai macam persyaratannya mungkin bagi kebanyakan orang adalah sesuatu yang rumit. Apa yang membuat kamu pantang menyerah dalam menghadapi tantangan kerumitan proses pelamaran beasiswa?

Fathoni A. Musyaffa: Persyaratan yang lebih butuh komitmen sebenarnya bagi saya bukan persyaratan administratif, tapi lebih ke memahami bidang riset yang akan saya tekuni. Niatnya lebih ke belajar, jadi dapat beasiswa atau tidak, saya tetap dapat manfaat dari proses belajar, terutama di bidang Informatika yang perkembangannya sangat cepat.

Menurut pengalamanmu, apakah ada hal yang membatasi seseorang, dalam hal ini warga negara Indonesia, untuk melamar beasiswa studi di Jerman, khususnya beasiswa DAAD?

Tidak ada, hanya yang mungkin perlu diperhatikan adalah rentang waktu antara lulus jenjang terakhir ke jenjang selanjutnya tidak boleh lebih dari 6 tahun. Setahu saya, beasiswa DAAD tersedia untuk jenjang S2 dan S3. Untuk kuliah di Jerman di jenjang S1, seseorang harus membiayai sendiri kuliahnya dan harus melalui Studienkolleg.

Apa yang memotivasi kamu untuk menempuh studi doktoral bidang Informatika di Jerman?

Bidang riset yang saya tekuni, yakni semantic web banyak diteliti di Eropa, khususnya Jerman. Dan secara umum, di luar konteks studi di bidang saya, ada beberapa hal lain yang membuat Jerman menarik. Pertama, fasilitas publik, misalnya transportasi yang teratur dan dapat diandalkan. Tidak seperti di Indonesia di mana banyak institusi publik dan perusahaan terpusat di Jakarta, perusahaan-perusahaan besar, universitas-universitas, kantor-kantor pelayanan publik tersebar di berbagai kota di Jerman jadi kota-kota di Jerman tidak terlalu padat. Kota-kota ini juga dapat dijangkau dengan mudah menggunakan fasilitas transportasi umum. Terlebih untuk mahasiswa, kami memiliki kartu identitas mahasiswa yang bisa digunakan sebagai tiket transportasi publik.

Cakupan akses transportasi ini berbeda di tiap negara bagian. Bagi kami mahasiswa yang tinggal di negara bagian Nordrhein-Westfallen (NRW), kami bisa menggunakan tiket tersebut untuk pergi ke seluruh tempat yang bisa diakses transportasi publik di NRW. Jadi misalnya, karena saya mahasiswa di Bonn (salah satu kota di NRW), saya bisa berkunjung ke kota-kota lain di NRW (misalnya Aachen, Köln, Dortmund, Essen, Bielefeld, dll) menggunakan kartu identitas saya sebagai mahasiswa yang biasa sebut dengan Semesterticket. Tentu untuk mendapatkan Semesterticket ini kita harus membayar biaya kuliah tiap semester, tapi biaya ini murah (saat ini di Universitas Bonn biayanya kurang dari 300 Euro atau setara lima juta Rupiah per semester), jika dibandingkan dengan negara-negara lain misalnya seperti Inggris atau Amerika Serikat. Yang perlu diperhatikan, negara bagian seperti Baden Württemberg, mewajibkan biaya registrasi semester yang lebih tinggi untuk mahasiswa dari negara non Uni Eropa.

Kedua, akses ke fasilitas kesehatan yang merata berkat asuransi kesehatan yang terjangkau. Jadi, jika sakit, biaya perawatan kesehatan secara umum akan ditanggung asuransi. Tanpa asuransi di Jerman, kita tidak bisa mendapatkan izin tinggal/visa.

Ketiga, letak geografis di Eropa darat mempermudah akses untuk berkunjung ke negara-negara lain di Eropa kontinental dan ini mempermudah kolaborasi dengan research partner jika diperlukan.

Selain itu, secara budaya, Jerman berbeda dengan negara-negara Asia. Bagi saya ini menarik, karena perbedaan budaya dan pola pikir membuat kita berpikir lebih terbuka dan memberikan kemampuan untuk memandang dari banyak perspektif. Orang-orang Jerman pada umumnya open-minded. Di samping itu, di Bonn sendiri, terdapat banyak museum dan seringkali ada acara budaya yang diselenggarakan pemerintah kota.

Apa topik yang menjadi riset kamu saat ini serta bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari?

Topik riset saya adalah "web semantic, linked dan open data" yang diaplikasikan khusus untuk analisis data anggaran dan pengeluaran pemerintah. Prinsip kerja linked data adalah memberikan anotasi di tiap elemen data menggunakan pranala (URL/hyperlink) yang sudah dirancang khusus sehingga bisa dihubungkan dengan elemen data dari sumber lainnya. Dalam hal ini, misalnya, memberikan anotasi pada data yang diterbitkan oleh instansi pemerintah sedemikian rupa sehingga data tersebut bisa terhubung dengan data dari sumber informasi lainnya, seperti misalnya Wikipedia. Ketika beragam data anggaran dan pengeluaran pemerintah bisa diperoleh dan bisa diintegrasikan dengan linked data, kita bisa menjawab pertanyaan seperti: “Bagaimana perbandingan anggaran untuk pendidikan dasar di kota-kota Uni Eropa yang memiliki jumlah penduduk sekitar 300.000 jiwa dan luas area sekitar 300 kilometer persegi?”

Studi S2 kamu tempuh di Korea Selatan. Dari pengalamanmu, apa yang membedakan studi atau riset, terutama di bidang Informatika, di Asia dan di Eropa?

Pertama, metode supervisi akademik di Korea Selatan dan Jerman cukup berbeda. Di Korea Selatan, supervisi pada umumnya dilakukan secara intensif, pertemuan dengan supervisor biasanya dilakukan secara rutin dan cukup sering. Di Jerman, kita diberikan kebebasan untuk melakukan riset dan supervisi bisa jadi tidak terlalu intens, namun ini juga bergantung pada tiap kelompok riset dan profesor masing-masing.

Kedua, karena riset di Jerman juga melibatkan partner riset dengan negara-negara Uni Eropa lainnya, kesempatan kolaborasi juga lebih besar. Kesempatan untuk mengenal dan terhubung dengan kelompok riset yang sebidang menjadi lebih besar.

Apa saranmu untuk orang-orang Indonesia yang sedang giat mencari beasiswa pendidikan tinggi di Jerman?

Kenali bidang yang kita minati untuk riset dan kemudian mulai memperdalam materi yang kita minati. Selain itu, coba bergabung dengan komunitas atau milis-milis di bidang yang kita minati tadi. Dari sana, bisa kita temukan informasi lowongan beasiswa atau setidaknya kita tahu orang-orang kunci dalam bidang tadi. Ketika ada profesor yang sedang membuka lowongan program Ph.D misalnya, kita bisa menghubungi beliau dan pada titik itu kita sudah memperdalam materi yang kita minati. Hal-hal yang perlu dipersiapkan lainnya adalah mempersiapkan sertifikasi bahasa Inggris (IELTS atau TOEFL iBT), juga menjaga koneksi dengan profesor atau dosen di tempat kita studi sebelumnya. (na/ts)

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

Laporan Pilihan