′Serdadu′ Indonesia ini Penjaga Benteng Pertahanan di Panti Jompo Jerman di Tengah Pandemi | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 25.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

'Serdadu' Indonesia ini Penjaga Benteng Pertahanan di Panti Jompo Jerman di Tengah Pandemi

Lansia tergolong rentan terhadap virus corona. Namun sebuah panti jompo di Bonn, Jerman berhasil menghadang sebaran virus corona. 'Serdadunya': pemuda Indonesia. apa langkah yang dilakukan? 

Air mata Uwe Kaufmann menetes, melihat cucunya yang berusia 10 tahun bernyanyi untuknya lewat fasilitas video Skype. Terakhir kakek berusia 76 tahun itu bertemu sang cucu pada hari Natal 2019. Kala itu cucu, anak dan menantu mengunjunginya di sebuah anti jompo di Bonn untuk merayakan Natal bersama-sama. Mereka berjanji bertemu kembali di Hari Paskah, namun tertangguh akibat wabah corona.  

“Anak dan cucu saya tinggalnya di München. Mereka biasanya mengunjungi saya dengan naik kereta ke Bonn. Tapi kini tidak bisa lagi, entah sampai kapan,” ujar Uwe yang sudah empat tahun terakhir tinggal di panti jompo di Bonn, setelah istrinya meninggal dunia.  

“Sejak diumumkan pembatasan keluar rumah oleh pemerintah, saya sudah tidak boleh meninggalkan panti jompo. Jadi tidak bisa jalan-jalan keluar seperti biasa,” ungkap  Uwe. Sebulan berlalu, belum lagi ada perubahan kebijakan dari panti jompo terkait pembatasan keluar rumah. Meski jumlah orang berusia lanjut yang terkena virus corona masih tinggi, di panti jompo tempatnya tinggal, tidak seorang pun terjangkit virus tersebut. 

Kelompok berisiko 

Lebih dari sebulan ini, banyak hal berbeda di panti-panti jompo. Kunjungan dilarang, acara atau kegiatan dibatalkan, upaya isolasi diri dilakukan dengan ketat untuk melindungi lebih dari 800.000 warga lansia yang tersebar di sekitar 11.700 panti jompo di Jerman. Hingga pertengahan bulan April, Robert Koch Institute  (RKI) masih menginformasikan bahwa usia rata-rata orang yang meninggal dunia di Jerman akibat virus corona adalah 80 tahun. 

Angka kematian di Jerman: 66 persen adalah laki-laki, dan 34 persennya perempuan, dengan usia rata-rata 82 tahun, demikian menurut analisis oleh Robert Koch Institute hingga akhir bulan lalu. Pasien tertua yang sudah meninggal berusia 99 tahun dan tinggal di panti jompo di Würzburg.  

Salah seorang petugas di rumah jompo di Kota Bonn, Jerman, Paradiscoco Pakpahan menuturkan, karena tingginya angka kematian di kalangan lansia di panti-panti jompo lain setelah sebaran virus corona, panti jompo tempatnya bekerja menerapkan tingkat keamanan yang sangat  tinggi.  

Bukan hanya mengisolasi para lansia, para karyawan pun didisiplinkan: “Rutinitas kami selama sebulan ini hanya panti jompo dan rumah, sama sekali tidak ke mana pun kecuali harus ke supermarket. Itu pun harus hati-hati sekali, karena jika ada satu karyawan kena, bukan tidak mungkin yang lain juga kena dan berpotensi cepat menyebar di kalangan lansia. Maka kami berhati-hati sekali dalam menjaga higienitas,” paparnya.              

Paradiscoco Pakpahan, bekerja di panti jompo

Pekerja Indonesia di rumah jompo Jerman, Paradiscoco Pakpahan

Tidak ada lagi pertemuan rutin antar karyawan di tempatnya bekerja, “Semua berhenti dulu, berusaha komunikasi satu sama lain dengan cara aman, berjarak,” ujar Paradiscoco lebih lanjut. 

Semua karyawan di tempatnya bekerja juga menjalani tes corona. “Untung semua hasilnya negatif. Jika  sampai ada karyawan yang batuk atau pilek apalagi demam, tentu tidak boleh sama sekali kerja,” tandasnya. 

Sementara itu, petugas lainnya, Yogi Prayogo yang juga berasal dari Indonesia, menambahkan  saat ini yang utama baginya bisa menjaga kesehatan dan keselamatan diri sendiri, “Karena kalau kita sendiri tidak fit atau sakit, bekerja juga tidak akan maksimal dan bahaya bagi para lansia. Dan pasti selanjutnya adalah kesehatan dan keselamatan para pasien.”  

Yogi mengaku sempat sangat khawatir bekerja di lingkungan yang sangat sangat berisiko di kala pandemi, “Tapi aku selalu berusaha bekerja sebaik dan semaksimal mungkin supaya krisis ini juga cepat berlalu,” paparnya.  

Mengatasi stres 

“Awalnya tidak mudah menjelaskan pada para lansia mengapa mereka harus diisolasi. Ada yang memberontak, namun setelah diberi pengertian, atau diajak melihat berita di televisi, stres mereka berkurang,” ujar Paradiscoco.  

“Biasanya mereka sekali-sekali jalan-jalan atau makan berlima, berenam, sekarang sendiri-sendiri. Bukan hanya mereka yang stres, karyawan pun mungkin juga stres, tapi kami kembali lagi ingat, bahwa pembatasan ini penting untuk keselamatan semua,” tutur Paradiscoco, yang berasal dari Sumatera Utara. 

Berharap pandemik segera berakhir 

Dari balik jendela kamarnya di panti jompo, Uwe Kaufmann menatap jalanan. “Sepi sekali ya,” ujarnya  sambil menelepon. “Di sana juga juga pasti sepi, ya?” tanyanya balik. “Saya tiap hari menghibur diri dengan melihat pemandangan di luar dan kadang bertelepon.” 

Saat ini hanya satu harapannya terbesar, pandemi corona segera berlalu, sehingga ia bisa berjumpa kembali dengan anak-cucunya, serta  segera mengunjungi lagi makam istrinya dengan membawa bunga.