Beban Kota Paling “Terpukul“ COVID-19 di Jerman Perlahan Berkurang | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 24.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Beban Kota Paling “Terpukul“ COVID-19 di Jerman Perlahan Berkurang

Heinsberg adalah salah satu kota paling terdampak COVID-19 di Jerman. Tiga rumah sakit setempat sempat kewalahan, namun kini situasi perlahan-lahan mulai bisa teratasi dengan baik.

Tenaga kesehatan di Rumah Sakit Kota Heinsberg, sebuah kota di Jerman bagian barat berpenduduk 25.000 jiwa, mengonfirmasi mulai merawat pasien pertama COVID-19 pada akhir Februari silam. Menurut pihak rumah sakit, 17 orang dilaporkan meninggal dunia. Secara keseluruhan, total pasien meninggal dunia akibat COVID-19 di Kota Heinsberg berjumlah 58 orang.

Aiko Liedmann adalah dokter senior di unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Kota Heinsberg, satu dari tiga rumah sakit utama di kota Heinsberg. Kepada DW, Liedmann mengatakan bahwa selama tiga pekan, ia dan rekan-rekannya berjuang merawat pasien COVID-19.

Dengan banyaknya kasus disertai pengalaman, ia dan timnya kini menjadi lebih percaya diri dalam merawat pasien COVID-19. “Saya mendapat kesan bahwa lebih mudah merawat mereka sekarang,“ ujar Liedmann. Menurutnya, banyak kasus yang terungkap dengan cara yang sama. Dia mengatakan kini tenaga kesehatan “memiliki perlengkapan dan persiapan yang baik“ dan “untuk sementara waktu tidak ada laporan kematian yang terjadi“.

Sebuah bencana

Heinsberg, kota yang terletak di antara Aachen dan Düsseldorf adalah episentrum virus corona di Jerman. Stephan Pusch, pejabat pemerintahan setempat mengatakan kepada DW bahwa wabah virus corona di kota tersebut adalah sebuah bencana: skenario terburuk. Para petugas di Heinsberg kala itu pun sangat terkejut.

Liedmann mengatakan setiap pagi para tenaga kesehatan dilanda rasa cemas terkait ketersediaan alat pelindung diri (APD). Dokter dan perawat terus bekerja meski rentan tertular virus corona.

Namun, Liedmann bersyukur karena kasus di sana hanyalah kasus COVID-19 ringan. Ia sadar bahwa situasi saat ini masih “rapuh“ dan merasa gelisah dengan kondisi yang akan datang. Sebagaimana pemerintah negara-negara bagian Jerman mulai melonggarkan lockdown untuk menahan laju penyebaran virus corona, membuat Liedmann menjadi “sedikit khawatir.”

“Belajar banyak“

Label Heinsberg sebagai episentrum virus corona di Jerman, membuat banyak orang dengan penyakit lain sempat menjauhi rumah sakit kota karena takut tertular COVID-19. Namun menurut Liedmann, ketakutan dan prasangka tersebut mulai mereda. Liedmann mengaku sempat marah ketika mendengar para politisi memberikan pernyataan sensitif terkait wabah COVID-19 di Heinsberg. Pasalnya, ia mengingat betapa sulitnya merujuk pasien ketika rumah sakit kota sudah melebihi kapasitas. Rumah sakit tetangga yang dirujuk bahkan mengatakan kepadanya, “Kami tidak ingin menerima pasien viurs corona dari kalian, kami tidak ingin terkontaminasi.“

Seiring berjalannya waktu, kini rumah sakit di wilayah sekitar mulai merubah sikap mereka dan mulai mempelajari bagaimana Liedmann dan timnya menghadapi pandemi ini. “Sekarang mereka bilang: Kami bisa belajar banyak dari Anda,“ papar Liedmann.

Liedmann bangga akan pekerjaan yang ia dan timnya lakukan. Ia menghargai apresiasi warga Jerman terhadap peran tenaga kesehatan. Tapi dia menolak jika dirinya disebut sebagai pahlawan. “Kami hanya melakukan pekerjaan kami dan kami melakukannya sebaik mungkin.“

(rap/gtp)