1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Rosa Noviasari dengan kawan-kawan mahasiswa saat tampil di Unisba, April 2019
Rosa Noviasari dengan kawan-kawan mahasiswa saat tampil di Unisba, Bandung April 2019Foto: Rosa Noviasari

Seni Musik dan Jerman Sebagai Jendela Berkarya

Rosa Noviasari
5 Februari 2021

Menurut saya, menjadi mahasiswa yang kritis bukan hanya terbuka dalam menerima informasi, tetapi juga mengolah informasi yang kita dapatkan dan menjadikannya sebuah karya tulis. Oleh Rosa Noviasari.

https://www.dw.com/id/seni-musik-dan-jerman-sebagai-jendela-berkarya-mahasiswa-indonesia/a-56458135

Halo, perkenalkan nama saya Rosa Noviasari. Seorang mahasiswa semester 5 di Universitas Pendidikan Indonesia. Menjadi mahasiswa yang berkarya selama kuliah adalah cita-cita saya. Pengalaman ini berawal di semester 3, ketika saya mengontrak mata kuliah seni musik untuk anak usia dini. Pastinya bingung menebak strategi yang tepat dan menarik untuk diterapkan ketika saya akan menjadi guru paud dan harus mengajarkan seni musik kepada anak kelak. Tapi kekhawatiran itu saya abaikan, karena ilmu akan datang kepada siapapun yang ingin belajar. Mata kuliah ini diampu dosenku yang lulusan Jerman dan memiliki latar pendidikan yang keren!

Indonesien Rosa Noviasari
Rosa NoviasariFoto: Rosa Noviasari

Beliau pernah bercerita pengalaman kuliahnya dulu saat S2 dan S3 di Jerman yang didapat dengan beasiswa. Beliau belajar banyak hal mengenai musik semasa ia kuliah di Jerman, tentunya. Tapi yang selalu beliau ingatkan kepada kami sebagai mahasiswanya yaitu untuk menghargai waktu. Pernah satu kali saya telat ketika mata kuliah seni musik, dan saya langsung dinasihati tentang pentingnya waktu oleh beliau. "Ibu waktu dulu kuliah di sana (Jerman), selalu berusaha untuk datang ke kelas tepat waktu, dan memanfaatkan waktu luang ketika beres kuliah dengan kegiatan positif. Soalnya orang-orang di Jerman itu sangat tepat waktu juga menghargai waktu.”

Beliau tak hanya sekedar berbagi cerita, tapi berbagi ilmu. Bagaimana menjadi mahasiswa yang berusaha maksimal dalam setiap usahanya, dan menjadi seorang guru yang baik dan ramah dengan anak usia dini. Selama perkuliahan bersama beliau, saya merasa metode yang disampaikan sangatlah baru dan inovatif. Kami belajar mengaransemen secara sederhana lagu anak-anak sehingga lagu tersebut menjadi lagu yang baru, mengenal dan menciptakan ritme yang kreatif dari alat perkusi, mengolah vokal untuk bernyanyi, mempelajari kunci gitar dasar untuk memainkan lagu anak-anak, mengekspresikan sebuah lagu melalui gerak tubuh, menonton beberapa video ketika beliau mengajarkan seni musik untuk anak usia dini di Jerman, hingga mengikuti workshop internasional yang beliau selenggarakan dengan mengundang dosen dari Jerman secara langsung. Sungguh menjadi pengalaman baru ketika kuliah yang mengesankan!

Acara di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Januari 2019
Acara di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Januari 2019Foto: Rosa Noviasari

Mahasiswa berkarya untuk tampil maksimal

Akhirnya mata kuliah seni musik ini akan ditutup dengan sebuah pagelaran seni musik dari setiap kelas. Pada pagelaran ini saya berkesempatan menjadi pemeran sekaligus ketua pelaksana. Berusaha menampilkan yang terbaik, kami berlatih secara maksimal dari apa yang telah kami pelajari selama perkuliahan. Perencanaan tema, cerita, dan lagu yang akan dibawakan dipersiapkan hingga kami sepakat untuk mengangkat tema budaya Indonesia yang ditemukan melalui petualangan bocah cilik ke luar angkasa karena bocah cilik ini tidak bersyukur hidup di bumi.

Pagelaran berlangsung lancar dan meriah dengan rampak gitar yang disajikan sebagai pembuka acara. Setelah rampak gitar, penonton langsung menyaksikan penampilan pertama dari kelas lain dengan judul Aladinda. Kemudian disambung oleh penampilan kelas saya yang berjudul Petualangan Bocah Cilik. Lagu yang kami tampilkan di pagelaran tidak hanya lagu anak-anak yang sudah terkenal saja, tapi beberapa lagu yang pernah kami aransemen ikut ditampilkan secara live music dan diiringi oleh keyboard.

Tidak hanya berhenti sampai pagelaran, saya merasa jika lagu-lagu ciptaan kami layak untuk dilombakan. Maka dari itu saya memutuskan mengikuti sebuah lomba cipta gerak dan lagu anak nasional yang diselenggarakan Universitas Islam Bandung dalam rangka Gebyar PGPAUD UNISBA 2019. Sebelum mengikuti lomba, saya bersama rekan grup saya mempersiapkan instrumen dan gerakan yang akan kami sesuaikan dengan lagu kami. Kemudian kami melakukan proses recording dan filming yang hasilnya akan dikirim kepada pihak panitia. Setelah mendapat kabar dari panitia, ternyata kelompok saya lolos seleksi dan menjadi finalis yang nantinya akan menampilkan hasil gerak dan lagu yang sudah kami ciptakan.

Di Universitas Islam Bandung, April 2019
Di Universitas Islam Bandung, April 2019Foto: Rosa Noviasari

Mengembangkan potensi seni

Saya dan rekan grup saya sadar bahwa karya kami belum terlihat maksimal di hadapan juri. Namun kami tidak bersedih dan tetap semangat karena sudah diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang memberikan pengalaman dan ilmu bagi kami. Kami bersyukur sudah mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari dosen kami, dan semangat yang beliau berikan kepada kami agar tidak mudah menyerah dan selalu memberikan usaha yang terbaik. Kelak kami akan ikut serta dalam lomba cipta lagu lainnya hingga kami menjadi juara! Aamiin.

Saya merasakan bangga saat melihat video dosen saya menjadi guru seni musik saat beliau kuliah di Jerman. Sebelum belajar mata kuliah ini dengan beliau, saya hanya membayangkan nantinya akan mengajarkan lagu anak-anak saja jika diminta mengajarkan seni musik untuk anak usia dini.

Tapi setelah hampir satu semester belajar dengan beliau saya akhirnya memahami kalau mengajarkan seni musik bukan hanya bernyanyi saja, tetapi bagaimana guru dapat mengembangkan potensi seni pada anak melalui kegiatan bermusik.

*Rosa adalah seorang mahasiswa jurusan PGPAUD di Universitas Pendidikan Indonesia yang senang mempelajari budaya dari Jerman.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)