1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Belajar Bahasa Jerman bersama Peter Maffay dan Lagu "Du"

Eka Novita Damayanti
29 Januari 2021

Semua hambatan tak menyurutkan langkah saya belajar Bahasa Jerman, meski hanya dilengkapi buku paket dan kamus saku. Apalagi ada Bapak Hutahaean, guru Bahasa Jerman kami. Oleh Eka Novita Damayanti.

https://p.dw.com/p/3oRqd
"Deutsch lernen mit Peter Maffay und Nena"
Foto: Privat

Saya melewati masa kanak kanak saya dengan bahagia pada sekitar tahun 80an. Saya adalah anak yang aktif, banyak mengikuti kegiatan di lingkungan sekolah maupun masyarakat, seperti pramuka, renang, menari, menulis dan menyanyi, meskipun saya tahu suara saya pas pasan, tidak menyurutkan semangat saya.

Saya sering mengikuti lagu-lagu barat nostalgia yang sering diputar ayah saya di tape recordernya. Dengan serius saya mengikuti suara si penyanyi dan bergaya seolah sedang show tunggal, meskipun saat itu saya tidak mengerti arti sepatah katapun dari lagu yang saya nyanyikan. Maklum, pada masa itu, pelajaran bahasa asing baru mulai diajarkan pada jenjang sekolah menengah pertama dan untuk Bahasa Jerman, baru diajarkan pada jenjang sekolah menengah atas.

Dari sekian banyak lagu, ada sebuah lagu yang sering saya nyanyikan. Yang liriknya kurang lebih begini:

Du bist alles was ich habe auf der Welt

Du bist alles was ich will

Du... Du allein kannst mich versteh'n

Du... Du darfst nie mehr von mir geh'n

Ibulah yang memberitahu saya lagu yang sering saya nyanyikan dengan penjiwaan berbahasa Jerman. Mulanya saya tidak yakin, tapi setelah beliau bilang dulu pernah belajar di SMA, baru saya percaya. Haha...

Sayangnya, ketika saya tanya apa maksud lagu itu, ibu tidak mengerti. Sudah lama sekali. "Sudah banyak lupa.” kata beliau, kecuali satu kata yang diingatnya: Du (kamu).

Pemusik Jerman Peter Maffay, pelantun lagu "Du"
Pemusik Jerman Peter Maffay, pelantun lagu "Du", tampil dalam sebuah konser tahun 1986.Foto: picture-alliance/dpa/H. Galuschka

Menginjak usia remaja, kami sekeluarga pindah rumah ke suatu daerah pinggiran Jakarta. Kami tinggal bersebelahan dengan keluarga yang punya anak yang usianya beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya ingat anaknya sering memutar lagu lagu barat yang hits pada masa itu. Saya sering menghambur ke dapur dan mencuri dengar (menikmati) dari jendela yang terbuka. Kebetulan saya sudah belajar bahasa asing di sekolah, jadi sedikit banyak sudah mengerti arti dari lagu lagu itu, namun ada sebuah lagu yang sama sekali tak saya mengerti. Tidak satu katapun. Setiap kali lagu itu diputar, saya berlari ke dapur. Berusaha lebih dekat dengan arah datangnya suara. Nihil saya tetap tidak mengerti.

Mungkin tetangga melihat ulah saya dan iba, sehingga suatu hari tanpa diminta, dia meminjamkan kasetnya itu pada saya. "Bawa saja dulu.” katanya. Saya kegirangan. Tentu saja. Langsung saya putar lagi dan lagi lagu yang sama sampai saya sedikit hapal. Kurang lebih liriknya seperti ini:

Hast du etwas Zeit fuer mich

Dann singe ich ein Lied fuer dich

Von 99 Luftballons

Auf ihrem Weg zum Horizont

Denkst du vielleicht g'rad an mich.

Dari teman di sekolah, saya tahu bahwa penyanyi lagu 99 Luftballoons adalah Nena, dari Nena Band, dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jerman. Kali ini saya lebih beruntung dari sebelumnya karena selain dalam bahasa Jerman, lagu yang sama juga ada versi bahasa Inggrisnya, 99 Red Ballons, sehingga saya jadi lebih mengerti sedikit maksud lagu tersebut.

Nena menjadi populer tahun 1980-an dengan lagunya "99 Luftballons"
Nena menjadi populer tahun 1980-an dengan lagunya "99 Luftballons"Foto: picture-alliance/dpa/H. Dürrwald

Belajar di SMA dengan Bapak Hutahean

Masuk SMA, keingintahuan saya akan sosial budaya Jerman semakin besar. Terinspirasi oleh seorang teman, saya menyurati Kedubes Jerman di Jakarta. Intinya ingin tahu lebih banyak tentang sosial budaya Jerman. Sebagai balasan, saya mendapat poster pemandangan di Jerman dan cetakan yang membuka cakrawala saya tentang negara mereka. Senangnya.... bukan kepalang.

Maka saat pemilihan jurusan di kelas II, saya memilih jurusan A3 (sosial). Sebenarnya saya bisa memilih jurusan A4 yang lebih fokus belajar tentang bahasa, namun saat itu bahasa asing yang dipelajari (selain Bahasa Inggris) bukanlah Bahasa Jerman.

Apakah saya menjalani semuanya tanpa kendali? Tidak juga. Saya berusaha keras belajar dengan segala keterbatasan yang ada. Penggunaan Internet masih sangat terbatas kala itu. Belum banyak juga buku pelajaran dan bahan cetakan berbahasa Jerman.

Namun semua tak menyurutkan langkah saya belajar meski hanya dilengkapi buku paket, catatan dan sebuah kamus saku Bahasa Jerman Lengkap yang sebenarnya tidak lengkap juga. Apalagi ada Bapak Hutahaean, guru Bahasa Jerman kami waktu itu, yang pernah berkata di depan kelas kalau nilai Bahasa Jerman kami bagus, beliau bersedia merekomendasikan nama kami untuk studi ke Jerman.

Saya menyimpan baik baik semua perkataan beliau, bahkan sampai hari ini. Walhasil, sayalah si nilai terbaik setiap kali ulangan, dan setiap ulangan pula beberapa teman akan mengambil posisi mendekat dengan mata lekat menatap kertas ulanganku. Saya menulis, mereka menulis juga sama persis jawaban saya. Saya menghapus, mereka pun demikian. Saya melamun merangkai inspirasi, mereka menatap saya dengan mata tak berkedip menunggu jawaban.

SMAN 39 tempatku belajar bahasa Jerman
SMAN 39 tempatku belajar bahasa JermanFoto: Privat

Sejujurnya saya tidak terlalu pintar sekali, dalam beberapa ulangan jawaban saya juga sering salah. Namun kesalahanku memang tidak terlalu fatal. Salah urutan kata, kurang huruf dan sebagainya. Saya hanya mengikuti intuisi saja yang kebetulan memang sering benar.

Bahasa yang cukup sulit

Betapapun Bahasa Jerman adalah pelajaran yang dikategorikan sulit, namun usia belia kami kala itu, membuat kami bisa menikmatinya dengan cara kami sendiri. Tak jarang kami menggunakan kata atau penggalan kalimat Bahasa Jerman di kelas, seperti:

Langsam! (Lama banget sih lo!) kalau kesal karena lama menunggu teman.

Du bist gemein (Jahat banget sih elo ke gua!)

Atau Du gehorst mir (kamu adalah milikku) di samping Ich liebe dich yang sudah sangat kondang itu.

Sampai pada saat kelulusan, saya mendapat nilai baik untuk Pelajaran Bahasa Jerman di ijazah. Ingin sekali melanjutkan studi di Fakultas Bahasa Jerman di Universitas Indonesia atau Universitas Padjajaran, sayang orangtua tidak setuju, ahirnya saya kuliah di fakultas lain dan di universitas lain pula.

(Bandung, 2018, Berpose depan Gedung Sate, setelah sambangi Goethe Institute, Bandung)

Namun demikian, saya masih mengikuti akun Goethe Institut di Facebook, dan saat berlibur ke Bandung tahun 2018 silam, saya juga mengunjungi pusat kebudayaan Jerman itu untuk melihat lihat dan membaca beberapa buku di sana.

Sama sekali saya tidak bermaksud menyalahkan siapapun. Saya percaya, segala sesuatu yang terjadi pada kita sudah digariskan Sang Pencipta dan kita hanya tinggal menjalankannya saja. Betapapun kita berusaha, kalau Tuhan tak berkehendak, maka tidak akan terjadi.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin menyampaikan Terima kasih banyak kepada Bapak Hutahaean, guru Bahasa Jerman SMAN 39 Jakarta, yang telah mengajar saya dan teman teman. Kabar terakhir yang saya dapat dari seorang teman, Bapak Hutahaean ini sampai saat ini masih aktif mengajar Bahasa Jerman di sekolah saya dulu. Semoga Tuhan yang Maha Esa selalu melindungi dan memberkati Bapak. Amin...

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)