1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Scholz: Keanggotaan NATO Swedia 'Diproses Lebih Cepat'

17 Agustus 2022

Kanselir Olaf Scholz meyakini aksesi NATO ke Finlandia dan Swedia akan diproses lebih cepat. PM Swedia Magdalena Andersson mengatakan perang di Ukraina telah mendorong perubahan besar di Stockholm dan Berlin.

https://p.dw.com/p/4Fd6Y
Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson
Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson di Stockholm, Selasa (16/08)Foto: Henrik Montgomery/TT/AP/picture alliance

Kanselir Jerman Olaf Scholz pada hari Selasa (16/08) mengatakan bahwa ia mengharapkan kemajuan pesat dalam tawaran aksesi NATO ke Finlandia dan Swedia.

Ditanya saat di Swedia apakah dia mengharapkan perlawanan berkelanjutan dari Turki atas tawaran Stockholm untuk bergabung dengan NATO, Scholz mengatakan, "Saya sangat yakin bahwa itu sekarang diproses dengan sangat cepat."

"Di Finlandia dan Swedia, kami mendapatkan dua sekutu berharga, yang akan memperkuat kemampuan pertahanan NATO dan oleh karena itu keamanan kolektif kami," kata Scholz di Stockholm bersama Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson.

Swedia dan Finlandia, yang netral selama Perang Dingin, mendaftar untuk bergabung dengan NATO setelah invasi Rusia ke Ukraina. Namun, Turki menolak tawaran tersebut, dengan alasan kedua negara menyembunyikan apa yang dianggapnya "teroris" dari Turki, ini merujuk pada suku Kurdi atau sekutu Fethullah Gulen, lawan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

PM Andersson mengatakan pemerintahnya akan tetap berpegang pada ketentuan nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Turki mengenai masalah ini. Dia memberi contoh seorang pria yang diekstradisi ke Turki karena dicurigai melakukan penipuan pekan lalu, dengan mengatakan keputusan itu dibuat "sesuai dengan hukum Swedia dan internasional, dan kami akan terus bekerja seperti itu."

Perang di Ukraina mendorong 'keputusan bersejarah' di Swedia dan Jerman

Scholz mengatakan invasi Rusia telah menunjukkan bahwa aturan dalam beberapa dekade terakhir telah diabaikan begitu saja. Dia bahkan menggunakan frasa Jerman yang secara kasar, diterjemahkan sebagai "perubahan zaman" (Zeitenwende) yang juga dia gunakan ketika mengumumkan perubahan kebijakan pertahanan Jerman segera setelah invasi.

"Kami tidak bisa lagi memastikan bahwa apa yang diterapkan pada dekade-dekade sebelumnya, bahwa batas wilayah tidak boleh diubah dengan kekerasan, dan bahwa seseorang tidak mencoba menyerang tetangganya untuk mengambil sebagian wilayahnya masih berlaku," kata Scholz.

Dia menantikan Swedia dan Finlandia bergabung dengan NATO, seraya mengatakan "kami membutuhkan mereka," ujar Scholz. Ia menambahkan hal ini akan membuat hubungan bilateral menjadi lebih dekat.

Andersson mengatakan bahwa di "masa-masa kelam" bagi Ukraina dan Eropa, "kerja sama dan persatuan Eropa adalah aset terkuat kami."

"Persatuan yang ditunjukkan negara-negara Eropa dalam menanggapi perang ini penting dan mengesankan. Kami dengan cepat memutuskan sanksi terhadap Rusia, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam lingkup dan ukuran mereka, kata Andersson.

"Dan kedua negara kami dan negara-negara Eropa lainnya membuat keputusan bersejarah, seperti memilih untuk mengirim dukungan militer ke Ukraina dan memperkuat pertahanan kami sendiri," tambahnya.

Keterampilan yang bisa digunakan kembali

Kedua pemimpin tersebut berulang kali mengacu pada hubungan kerja masa lalu mereka yang kuat, sejak saat mereka menjadi menteri keuangan kedua negara.

Andersson bahkan menyindir bahwa "bukan hal yang buruk" bagi dua mantan menteri keuangan untuk memimpin pemerintah Jerman dan Swedia saat ini, ketika menyebutkan bagaimana pasangan tersebut telah membahas dampak ekonomi dari perang dan faktor-faktor terkait lainnya.

"Pasokan energi dan ketidakpastian telah menyebabkan kenaikan harga, kami belum mengalaminya dalam beberapa dekade terakhir, dan itu berdampak pada ekonomi di Eropa dan juga secara global," kata Andersson.

Pemerintah Scholz pada hari Senin (15/08) menghadapi lebih banyak pengeluaran dan perlu menyiapkan langkah-langkah bantuan karena retribusi 2,4 sen per kilowatt jam untuk gas bagi konsumen diumumkan demi menangani kenaikan biaya. Swedia dan Jerman mengalami inflasi tahun ke tahun lebih dari 7%, angka yang tidak pernah dialami kedua negara dalam beberapa dekade.

Andersson memperingatkan bahwa sementara konsumen saat ini merasa terjepit dan membutuhkan bantuan, dalam beberapa kasus karena fenomena yang diharapkan para ekonom akan terbukti bersifat sementara, penting juga bagi pemerintah untuk bertindak secara bertanggung jawab dan berpikir jangka panjang ketika memutuskan bagaimana mencoba membatasi dampaknya dari meningkatnya biaya hidup.

Kedua pemimpin juga mengatakan bahwa masalah pengiriman gas yang disebabkan oleh perang telah menjadi catatan perlunya Eropa untuk membatasi ketergantungannya pada bahan bakar fosil.

bh/ha (AFP, dpa, Reuters)