Lagu ″Hits″: Lebih Baik Reproduksi atau Bikin Baru? | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 29.08.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

interdisipliner

Lagu "Hits": Lebih Baik Reproduksi atau Bikin Baru?

Resep jitu lagu yang nantinya jadi "hits" tentu ingin diketahui banyak orang. Sekarang bahkan ada kecerdasan buatan yang bisa digunakan. Tapi apa menolong?

Gambar ilustrasi not musik

Gambar ilustrasi not musik

Siapa tidak kenal lagu yang jadi “hit“ di tangga lagu nasional atau internasional? Tapi mengapa lagu-lagu tertentu sangat disukai orang, sehingga laku keras? Itulah pertanyaan yang ingin dijawab peneliti otak dan ahli saraf Vincent Cheung. "Saya pencinta musik, dan saya ingin tahu, mengapa musik bisa begitu mempengaruhi dan menyentuh perasaan saya?"  

Cheung dan timnya menganalisa 80.000 akor dalam 745 lagu yang jadi hit di sejumlah tangga lagu AS. Sebuah program yang dibuat khusus, memperhitungkan seberapa jauh akor-akor yang muncul dalam sebuah komposisi mengejutkan atau sudah diantisipasi orang.

Kemudian serangkaian akor mereka mainkan di depan seorang responden. Jadi tanpa melodi atau lirik. Kemudian mereka menilai, sejauh mana responden menyukai apa yang ia dengar. Dalam hal ini, otak bekerja keras.

Permainan cerdas dengan harapan

Karena mendengarkan musik memberikan stimulasi pada bagian-bagan otak yang mengolah suara. Tapi bukan suara saja, melainkan juga emosi, kemampuan mengingat dan yang sudah diperlajari. Hasil tes menunjukkan: para responden menyukai rangkaian akor tertentu, yang berkaitan dengan harapan mereka.

"Ada dua jenis rangkaian akor yang disukai orang,“ papar Cheung yang bekerja di Institut Max Planck di Leipzig. Yang pertama, jika akor-akor yang muncul sesuai dengan apa yang sudah mereka duga, maka mereka akan senang jikamendengar akor yang tidak diduga muncul. Yang ke dua, jika rangkaian akor awalnya tidak memberi petunjuk ke mana arah selanjutnya, maka orang senang jika kemudian muncul akor yang sesuai harapan mereka.

Tonton video 07:09

Rumus Lagu Sukses Menurut Penelitian

Jadi lagu yang kita suka sebetulnya permainan cerdas dengan harapan kita. Jika apa yang kita harapkan tidak muncul, tapi di lain pihak kita juga tidak merasa kecewa, kita akan tetap senang. Demikian ditambahkan Vincent Cheung.   

Formula tepat dari komputer

Apakah dengan komputer orang bisa menemukan formula tepat untuk membuat komposisi musik? Itulah yang berusaha dijawab Dr. Stephan Baumann. Ia seorang ahli musik dan pakar dalam hal kecerdasan buatan. Hasil studi seperti yang dibuat Vincent Cheung pertama-tama menunjukkan bagi Baumann, bahwa akor-akor yang digunakan sangat sederhana. 

Yang paling sering adalah C-mayor. Sedangkan akor miring seperti dalam musik jazz jarang disukai. Selain itu, ada juga rangkaian akor tertentu yang amat disukai orang. Ada sekitar 50 lagu yang jadi "hit," yang menggunakan skema ini.

Sebuah band Jerman yang menyadari ini, bahkan sudah menyoroti skema ini, dengan menyatukan berbagai lagu populer yang punya skema ini, menjadi satu lagu. Band itu juga membuat videonya, di mana mereka menyoroti rumus rangkaian akor yang digunakan dalam sejumlah hit secara kritis.  

Gagal akibat tren yang berubah

Dr. Stephan Baumann yang bekerja di Pusat Penelitian Kecerdasan Buatan Jerman (DFKI) mengungkap, rumus tepat yang menjamin sebuah lagu akan sukses sudah lama dicari. Bahkan perusahaan yang memfokuskan diri pada ilmu lagu “hit“ juga sudah ada. “Tapi mereka gagal, karena sebuah lagu kerap akhirnya ditolak di konteks kebudayaan tertentu, karena tren sudah berubah dibanding satu atau dua tahun lalu." 

Ada perkataan: musik pop adalah jiwa masa tertentu! Jenis suara yang saat itu disukai orang, ditambah strategi pemasaran yang pintar, bisa membuat sebuah lagu jadi "hit". Algoritma mesin pencarian di internet juga bisa membuat sebuah gaya atau musisi tertentu dianggap keren atau "hot".  

Juga lagu-lagu bahasa Inggris yang menggunakan banyak kata "you" dalam liriknya, kerap sukses. Kemungkinannya banyak. Tapi tidak ada jaminan sukses. Karena tren dan efek pendorong lainnya tidak bisa diperhitungkan sebelumnya. 

Yang menyentuh perasaan bisa diukur

Satu hal lain juga diamati. Hal ini diduga jadi penyebab efek merinding. Iuliia Brishtel yang sedang menulis doktor di bidang kognisi, mengukur konduktivitas kulit saat orang mendengarkan musik. Ia juga menganalisa apakah ada stres atau perasaan senang timbul.

"Ada kaitan antara suara perempuan pada sebuah ini dengan melodinya. Kedengarannya merdu, menjangku hati, dan menyentuh perasaan. Dan itu juga bisa dilihat dalam pengukuran di komputer." Begitu dijelaskan Brishtel.

Apakah efek itu hanya dirasakan ia saja? Data yang menunjukkan apa yang paling menyentuh manusia secara emosional bisa didapat dari pengukuran seperti dari banyak program komputer. 

Resep yang sudah sering digunakan adalah lagu yang sudah pernah sukses, dinyanyikan lagi dengan aransemen baru. Di zaman sekarang, kecerdasan buatan sudah bisa melakukan pekerjaan itu. Lagu berjudul "Daddy´s Car" dari tahun 2016 dianggap hasil komposisi kecerdasan buatan yang pertama. 

Tugas yang juga bisa diberikan kepada komputer adalah: buat lagu baru dari 45 lagu karya The Beatles. Program-program kecerdasan buatan yang baru, bahkan sudah bisa terus-menerus memodernisir dari segi musik, berbagai hit dari masa lalu. Contohnya lagu berjudul Hotel California karya band AS, Eagles.

Sebuah “hit“ harus dihasilkan manusia

Apakah lagu-lagu karya komputer bisa jadi "hit" baru? Untuk bisa jadi "hit" tetap saja masih ada yang kurang. Demikian ditegaskan Dr. Stephan Baumann, dari DFKI di kota Kaiserslautern.

"Sudah berapa 'hit' yang ditulis dalam situasi patah hati. Atau dalam situasi depresif, di bawah pengaruh obat-obatan, atau saat orang senang luar biasa,“ dikemukakan Baumann sambil berargumentasi, “Sebuah komputer berkeringat saja tidak bisa. Perlu listrik agar bisa bekerja. Komputer tidak kenal kematian, melainkan bisa bekerja terus-menerus." 

Peneliti kecerdasan itu menambahkan: sebuah "hit" harus punya sesuatu yang menyentuh perasaan, sesuatu yang lain daripada yang lain. Sebaliknya, sebuah perhitungan Spotify menunjukkan bahwa lagu pop yang jadi "hit" semakin terdengar serupa. 

Reproduksi kesuksesan buahkan kebosanan

Sesuatu yang pernah berfungsi baik, semakin banyak diproduksi. Banyak produsen yang bekerja bersama banyak bintang, juga terus-menerus mereproduksi gaya mereka. Maka terbentuklah lingkaran yang hanya berisi hal-hal yang sudah dikenal orang, dan kecerdasan buatan memperkuat kecenderungan itu.  

Mungkin nantinya dengan cara itu akan ditemukan resep bagi “hit“ yang sempurna. Tapi jika hanya berasal dari pengukuran data, dari apa yang biasanya disukai orang, pasti lagu itu akan sangat membosankan. (ml/yp)