Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Bumi dalam Beberapa Dekade Terakhir | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.11.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Perubahan Iklim

Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Bumi dalam Beberapa Dekade Terakhir

KTT Perubahan Iklim COP26 tengah berlangsung, dengan fokus membahas masalah krisis iklim global. Berikut fakta yang dihimpun DW tentang bagaimana kondisi Bumi berubah dalam beberapa dekade terakhir.

Dalam satu abad terakhir, emisi CO2 dari kegiatan industri telah berdampak pada kondisi Bumi

Dalam satu abad terakhir, emisi CO2 dari kegiatan industri telah berdampak pada kondisi Bumi

Para pemimpin dunia bertemu untuk ke-26 kalinya untuk membahas penyebab dan dampak perubahan iklim dalam KTT iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia. Lima pertanyaan dan jawaban di bawah ini akan menunjukkan seberapa banyak kondisi planet kita telah berubah.

#1 Wilayah mana yang paling banyak menghasilkan CO2?

Banyak pemerintahan berjanji untuk mengubah skema ekonomi mereka menjadi netral karbon dalam 10 hingga 30 tahun ke depan. Emisi karbon di Eropa dan Amerika mulai stabil, sementara emisi di Asia dan Afrika meningkat, infografik berikut menunjukkan seberapa besar perubahan haluan ekonomi yang dibutuhkan oleh netralitas karbon.

Infografik emisi global CO2

Infografik emisi global CO2

Negara-negara di Asia mengalami pertumbuhan populasi yang sangat besar selama beberapa dekade terakhir, dan makin banyak populasi akan mengarah pada konsumsi sumber daya yang lebih besar.

Sementara dilihat dari perspektif CO2 per kapita, gambarannya sangat berbeda. Faktor populasi menyoroti dua negara Barat seperti AS dan Australia, serta negara-negara di bagian lain dunia, termasuk Rusia, Arab Saudi, Oman, Qatar, dan Mongolia sebagai pembanding.

Infografik emisi CO2 per kapita

Infografik emisi CO2 per kapita

Berbicara tentang siapa yang harus berkontribusi paling besar untuk pengurangan emisi, para ahli berpendapat bahwa tidak semua negara dapat dianggap sama rata bertanggung jawab, dan bahwa kekuatan ekonomi dan kekayaan suatu negara harus diperhitungkan.

Memilah negara dalam kelompok pendapatan, menunjukkan hubungan antara tingkat pendapatan yang lebih tinggi dan median emisi per kapita yang lebih tinggi. Ini juga mengungkapkan bagaimana negara-negara dalam setiap kelompok sangat bervariasi, dan bahwa semakin tinggi kelompok pendapatan, semakin luas penyebaran di seluruh spektrum emisi.

Negara-negara berpenghasilan tinggi dengan emisi tinggi, seperti Qatar, mengeluarkan lebih banyak CO2 per kapita daripada negara-negara seperti Jerman dan Prancis, meskipun mereka berada dalam kelompok pendapatan yang sama.

Infografik emisi CO2 per kapita dan pengelompokan negara berdasar pendapat

Infografik emisi CO2 per kapita dan pengelompokan negara berdasar pendapat

Dan meskipun negara-negara seperti India dan Cina memiliki peringkat rendah dalam emisi per kapita, langkah dan tindakan mereka masih memiliki dampak besar, mengingat jumlah populasi mereka yang sangat besar.

#2 Dari mana sumber utama emisi gas rumah kaca?

Merujuk korelasi antara kekuatan ekonomi dan emisi CO2,  tidak mengherankan jika sektor industri bertanggung jawab atas sumbangan terbesar (35%) dari keseluruhan emisi gas rumah kaca (GRK) — termasuk metana dan dinitrogen oksida — yang dilepaskan ke atmosfer.

Infografik sumber emisi gas rumah kaca

Infografik sumber emisi gas rumah kaca

Dengan persentase 20%, pertanian, kehutanan dan perubahan penggunaan lahan secara kolektif merupakan sumber emisi GRK terbesar kedua.

Selama dua dekade terakhir, jumlah tutupan pohon tahunan yang hilang secara bertahap meningkat. Rusia, Brasil, dan Amerika Serikat (AS) adalah pendorong deforestasi terbesar di dunia pada tahun 2020.

Infografik laju deforestasi tahunan

Infografik laju deforestasi tahunan

Namun, dibandingkan dengan dekade 1990-2000, laju deforestasi telah melambat.

Infografik laju hilangnya hutan dalam dekade

Infografik laju hilangnya hutan dalam dekade

Deforestasi tidak hanya bermasalah karena CO2 yang sebelumnya disimpan di dalam tanah dan pohon-pohon itu sendiri dilepaskan ke atmosfer, tetapi juga karena hutan dan tanah adalah "penyerap karbon" yang menyerap CO2 dari atmosfer — menjadikannya senjata yang berharga dalam memerangi perubahan iklim.

#3 Bagaimana perkembangan emisi CO2 beberapa abad terakhir?

Emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil telah meningkat sejak awal periode industrialisasi. Namun, di saat manusia memproduksi karbon dioksida dengan tingkat yang lebih tinggi, Bumi menyerapnya lewat "penyerap karbon" alami, seperti hutan dan lautan.

Akan tetapi ketika umat manusia mulai memproduksiCO2 dan gas rumah kaca lainnya lebih banyak daripada yang dapat diserap oleh ekosistem planet secara alami, makin banyak emisi tersebut terperangkap di atmosfer.

Infografik buangan dan penyerapan emisi karbon

Infografik buangan dan penyerapan emisi karbon

#4 Sudah seberapa hangat dunia saat ini?

Peningkatan volume partikel CO2 memerangkap panas sinar matahari di atmosfer, bertindak seperti rumah kaca di mana ia menjadi lebih hangat dan lebih hangat. Dibandingkan dengan abad ke-20 — dan khususnya lima tahun terakhir — suhu global rata-rata telah meningkat hampir 1 derajat Celcius.

Infografik suhu Bumi

Infografik suhu Bumi

Perubahan ini diukur dengan menghitung perbedaan antara suhu yang diamati pada waktu dan tempat tertentu dan rata-rata suhu historis untuk tempat yang sama. Peningkatan suhu 1 derajat adalah rata-rata global dari variasi tersebut. Perbedaannya bisa jauh lebih besar di tingkat lokal.

Dalam contoh yang lebih konkret, suhu rata-rata bulan Agustus di kota Portland di barat laut AS adalah sekitar 20 derajat Celcius dari tahun 1991 hingga 2020. Dengan pemanasan global, Portland mengalami hari-hari yang lebih panas dari rata-rata. Pada 13 Agustus tahun ini misalnya, rata-rata suhu harian mencapai 30 derajat Celcius, yang merupakan anomali suhu ekstrem.

Pada minggu yang sama, suhu yang tidak biasa juga tercatat di negara-negara lain antara lain Spanyol, Tunisia, Rusia, India, Kamboja, Australia, dan Argentina.

Infografik suhu negara-negara di dunia

Infografik suhu negara-negara di dunia

Peningkatan suhu seperti itu mendorong naiknya anomali suhu Bumi dan akan memiliki efek yang berpotensi luas, seperti munculnya titik panas ekstrim hingga gagal panen dan peningkatan peristiwa berbahaya seperti badai dan banjir. Kenaikan permukaan air laut adalah salah satu dampak yang paling nyata. Suhu yang lebih panas mencairkan lapisan es dan gletser dan menambah volume total air di lautan.

#5 Seberapa tinggi kenaikan permukaan laut yang sudah kita alami?

Menurut data yang dikumpulkan oleh Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), badan penelitian iklim pemerintah Amerika Serikat, permukaan laut telah naik hampir 25 sentimeter dalam 140 tahun terakhir. Sekitar sepertiga dari peningkatan itu terjadi hanya dalam 25 tahun terakhir saja.

Infografik kenaikan muka air laut

Infografik kenaikan muka air laut

Permukaan air laut meningkat di seluruh dunia, khususnya di wilayah Kutub Utara, yang memanas lebih cepat daripada wilayah lain.

Sifat termal air yang memungkinkannya mengembang saat lebih hangat juga berkontribusi pada naiknya permukaan laut.

Infografik kondisi lapisan es di Kutub Utara

Infografik kondisi lapisan es di Kutub Utara

Sementara sebagian besar samudra dan lautan di dunia mencatat tingkat kenaikan permukaan air laut dibanding di masa lalu, beberapa wilayah dilaporkan lebih terdampak daripada yang lainnya.

Alat pengukur pasang surut di Kanada barat dan Cile utara misalnya, mendeteksi laut yang stabil atau bahkan surut, sedangkan negara-negara pulau di Pasifik selatan dan Samudra Hindia menyaksikan peningkatan yang mengkhawatirkan, yang dinilai dapat menyebabkan negara-negara kepulauan di kawasan tersebut benar-benar tenggelam.

(Ed: rap/as)

Laporan Pilihan