1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perubahan Iklim Memicu Banjir Bandang di Jerman?

Monir Ghaedi | Ajit Niranjan
16 Juli 2021

Banjir besar telah menyebabkan kerusakan di beberapa bagian Eropa barat termasuk Jerman. Dan telah merenggut puluhan nyawa. Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim memiliki peran di dalamnya.

https://p.dw.com/p/3wYLr
Sedikitnya 20 orang tewas akibat banjir di negara bagian Nordrhein-Westfalen
Sedikitnya 20 orang tewas akibat banjir di negara bagian Nordrhein-WestfalenFoto: Christoph Hardt/Future Image/imago images

Hingga Jumat (16/07), sedikitnya 67 orang dilaporkan tewas dan puluhan orang lainnya hilang di Jerman, Belgia, Swiss, dan Belanda dalam bencana banjir bandang yang melanda Eropa barat. Hujan lebat menyebabkan sungai dan waduk meluap dan membanjiri jalan, menyapu mobil, dan merusak bangunan di kawasan tersebut.

Selama beberapa minggu terakhir, kondisi cuaca di Jerman bak roller coaster. Sempat dilanda gelombang panas dan kekeringan, kini negara yang terletak di jantung Eropa ini tengah dilanda badai dan hujan lebat.

Pada hari Rabu (14/07) dan Kamis (15/07), fenomena itu diselingi oleh bencana banjir di beberapa wilayah di Jerman barat dan negara-negara tetangga. Para ahli mengatakan cuaca ekstrem seperti itu biasanya hanya terjadi sekali dalam satu generasi tetapi mungkin akan terjadi lebih sering di masa depan (dengan intensitas yang lebih besar), sebuah pertanda bahwa perubahan iklim telah berdampak pada kehidupan manusia.

Air yang meluap dari Sungai Ahr merusak infrastruktur jalan di kota Schuld, Jerman, pada Kamis (15/07)
Air yang meluap dari Sungai Ahr merusak infrastruktur jalan di kota Schuld, Jerman, pada Kamis (15/07)Foto: Wolfgang Rattay/REUTERS

Apakah kondisi cuaca ini normal bagi Jerman?

"Biasanya, kita hanya melihat cuaca seperti ini di musim dingin," kata Bernd Mehlig, seorang pejabat lingkungan dari negara bagian Nordrhein-Westfalen (NRW) kepada media penyiaran publik WDR. NRW - negara bagian di barat Jerman - merupakan wilayah yang paling parah dilanda hujan. "Sesuatu seperti ini, dengan intensitas seperti ini, benar-benar tidak biasa di musim panas," tambahnya.

Sementara itu, saat berbicara kepada WDR pada Kamis (15/07), juru bicara tim krisis kota Hagen di negara bagian NRW, memperkirakan bahwa ketinggian air akan mencapai tingkat yang tidak terlihat lebih dari empat kali dalam satu abad, dengan beberapa bagian kota dilaporkan tidak dapat diakses dan terisolasi karena terendam banjir.

"Ini adalah normal baru," ungkap Johannes Quaas, ahli meteorologi di Universitas Leipzig. "Perubahan iklim juga mengubah definisi cuaca normal. Kita perlahan mendekati normal baru yang mencakup pola curah hujan yang berbeda."

Apakah perubahan iklim memperburuk banjir?

Meningkatnya suhu membuat peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih kuat. Ketika udara memanas, udara mengandung lebih banyak uap air, sebuah fenomena yang ditemukan para ilmuwan pada abad ke-19.

Peningkatan suhu satu derajat Celcius meningkatkan kapasitas udara untuk menahan kelembaban sebesar 7%. Meningkatnya suhu global juga menyebabkan penguapan air yang lebih cepat di darat dan di laut, yang kemudian menyebabkan peristiwa curah hujan dan badai yang lebih ekstrem.

"Curah hujan yang kita alami di seluruh Eropa selama beberapa hari terakhir adalah cuaca ekstrem yang intensitasnya diperkuat oleh perubahan iklim - dan akan terus menguat dengan lebih banyak pemanasan," kata Friederike Otto dari Institut Perubahan Lingkungan di Universitas Oxford.

"Sebagai negara industri, Jerman memanas dua kali lebih cepat dari tingkat pemanasan global," kata Johannes Quass. "Itu berarti kemungkinan hujan lebat 20% lebih tinggi dibandingkan dengan abad ke-19 dan 10% lebih tinggi daripada ketika saya lahir, sekitar empat dekade lalu."

Banjir merusak bangunan di kota Schuld, Jerman, pada Kamis (15/07)
Banjir merusak bangunan di kota Schuld, Jerman, pada Kamis (15/07)Foto: Wolfgang Rattay/REUTERS

Ketika tanah dan sistem drainase tidak dapat menyerap air dengan cepat karena faktor-faktor seperti pembangunan perkotaan, limpasan air permukaan akan dapat berkembang menjadi banjir bandang yang sangat deras dan menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Memprediksi cuaca ekstrem tidaklah sulit tetapi masih hampir tidak mungkin untuk secara akurat memprediksi di mana tepatnya badai akan menjatuhkan hujan dalam jumlah besar dan daerah mana yang akan terkena paling parah, kata Quass. Menurutnya hal tersebut mempersulit masyarakat untuk bersiap menghadapi bencana dan mengurangi dampak kerugian.

Selain itu, dengan rusaknya vegetasi tertentu dan penghalang tanah lainnya sebagai akibat dari perubahan suhu dan pola cuaca, banyak zona banjir alami yang menghilang.

"Selama kita terus mengeluarkan CO2, kemungkinan besar kita akan terus mendapati hujan lebat seperti itu," pungkas Quass.

(Ed: rap/gtp)