Pernah Dianggap Gila, Kakek Sadiman Berhasil Ubah Perbukitan Gersang Menjadi Hijau | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 03.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Penghijauan

Pernah Dianggap Gila, Kakek Sadiman Berhasil Ubah Perbukitan Gersang Menjadi Hijau

Meski pernah dianggap gila oleh warga sekitar, pejuang lingkungan Sadiman telah mengubah bukit-bukit tandus menjadi hijau setelah 24 tahun berusaha hingga akhirnya menyediakan sumber daya air di desa tempat dia tinggal.

Sadiman

Sadiman, seorang ecowarrior berusia 69 tahun, berdiri di dekat sebuah bukit yang merupakan area pertama yang ia tanam kembali dengan pepohonan pada 20 tahun lalu (13/03)

Dikenal sebagai 'mbah' atau 'kakek', Sadiman, 69 tahun, bekerja tanpa henti menanam pohon di sebuah perbukitan di Wonogiri,  Jawa Tengah.

"Saya berpikir, jika tidak menanam pohon beringin, daerah ini akan menjadi kering,” kata Sadiman, yang kerap kali mengenakan topi khasnya dan baju safari.

"Menurut pengalaman saya, pohon beringin dan pohon ficus bisa menyimpan banyak air.”

Akar panjang dari sekitar 11 ribu pohon beringin dan ficus yang ditanam Sadiman di lahan seluas dari 250 hektar, mampu membantu menampung air tanah dan mencegah erosi.

Berkat usahanya, sejumlah mata air muncul di area yang tandus dan gersang. Meski dahulu hanya sedikit yang mengapresiasi usaha Sadiman, kini air sudah mengaliri rumah-rumah warga desa dan lahan pertanian setempat.

Tonton video 01:45

Sadiman, Pejuang Lingkungan yang Mengubah Perbukitan Gersang Menjadi Hijau

Manfaat untuk banyak orang

"Orang-orang mengejek saya karena membawa bibit pohon beringin ke desa, mereka merasa tidak nyaman karena yakin ada makhluk halus di pohon itu,” ucap Sadiman.

Salah seorang warga desa, Warto mengungkapkan ada beberapa orang yang mengira Sadiman gila karena menukar kambing dengan bibit pohon beringin. "Dulu masyarakat bilang dia orang gila, punya kambing ditukar bibit beringin, tetapi hasilnya sekarang (warga) mendapatkan air buat mencukupi beberapa desa," kata Warto.

Sadiman juga mendanai usahanya melalui pembibitan tanaman seperti cengkeh dan nangka yang bisa dia jual atau barter.

Kurangnya curah hujan di daerah tempat Sadiman menanam pohon menjadi kendala bagi petani untuk panen, tetapi sekarang, sumber air yang melimpah membuat petani bisa panen dua atau tiga kali dalam setahun. "Saya berharap masyarakat di sini bisa hidup sejahtera dan hidup bahagia. Dan jangan membakar hutan terus menerus,” tambah Sadiman.

ha/yp (Reuters)

Laporan Pilihan