“Perlindungan Anak Saat Wabah Corona Juga Berarti Perlindungan Kesehatan” | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 30.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Jerman

“Perlindungan Anak Saat Wabah Corona Juga Berarti Perlindungan Kesehatan”

Menteri Urusan Keluarga Jerman mengatakan bahwa memperhatikan kesejahteraan anak dan keluarga yang berjuang hadapi krisis akibat wabah corona lebih penting daripada sekadar pembukaan kembali pertandingan sepak bola.

Menteri Urusan Keluarga Jerman, Franziska Giffey, menyerukan pemerintah untuk lebih berfokus pada upaya menemukan "solusi langkah demi langkah bagi anak-anak.” Pernyataan ini muncul seiring keputusan Jerman untuk melonggarkan aturan pembatasan aktivitas di ruang publik, termasuk penutupan sekolah dan taman kanak-kanak untuk memperlambat penyebaran wabah corona. Dengan adanya pelonggaran aturan, beberapa siswa di Jerman akan kembali belajar di sekolah minggu depan.

"Saya ingin kita menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara tentang bagaimana nasib anak-anak selama krisis daripada tentang kapan pertandingan Bundesliga akan kembali digelar,” kata Giffey pada Rabu (29/04).

Lebih lanjut, Giffey mengatakan fakta bahwa sistem perawatan kesehatan Jerman tidak kewalahan dalam menangani pasien virus corona adalah pencapaian yang luar biasa. Namun ia menambahkan bahwa seharusnya Jerman memberikan lebih banyak perhatian bagi kesejahteraan anak dan keluarga.

"Di satu sisi, kita berbicara tentang cara melindungi kesehatan, tetapi kita juga perlu berbicara tentang melindungi anak-anak,” ujar Giffey. "Perlindungan anak adalah perlindungan kesehatan.”

"Kesejahteraan anak-anak tergantung pada bagaimana cara menjaga kesehatan dan kehidupan yang terbilang muda ini. Itulah mengapa, ini perlu menjadi bagian dari cara kita menyeimbangkan keputusan tentang bagaimana langkah ke depannya.”

Antisipasi peningkatan laporan KDRT

Hampir semua anak di Jerman harus tetap berada di rumah karena pembatasan sosial akibat wabah corona. Terkait hal ini, banyak pekerja spesialis kesejahteraan anakmengatakan akan ada kecenderungan peningkatan kasus kekerasan terhadap mereka.

Menteri Giffey mengatakan bahwa saat ini, data terkait peningkatan kekerasan dalam rumah tangga dan semacamnya belum tersedia di Jerman. Namun ia menjelaskan, dari hasil percakapan dengan sejawat dari negara lain dan pakar kesejahteraan anak, terungkap bahwa laporan kekerasan dalam rumah tangga memang cenderung tertunda pada situasi krisis.

"Kami perkirakan ada banyak kasus konflik dalam keluarga yang tidak muncul sekarang, tetapi baru ketahuan belakangan,” ungkap Giffey.

Ia menambahkan bahwa lembaga perlindungan anak dan remaja serta pusat-pusat yang menawarkan dukungan bagi perempuan yang mengalami kekerasan harus mempersiapkan diri dalam menghadapi peningkatan laporan kasus KDRT.

Kementerian Keluarga Jerman juga telah meluncurkan inisiatif yang bertajuk "Lebih Kuat dari Kekerasan.” Kampanye ini memberikan peluang bagi para korban kasus kekerasan untuk mencari bantuan secara online melalui video atau obrolan lewat internet. Kementerian juga telah meningkatkan jumlah layanan pusat panggilan telepon untuk pengaduan, kata Giffey.

"Karena pada kenyataannya pusat pengaduan ini menerima lebih banyak telepon, kita dapat berasumsi bahwa banyak (kekerasan) terjadi,” ujar Giffey sambil menegaskan bahwa sulit untuk tahu secara pasti tanpa adanya data yang tersedia.

"Tetapi tetap saja, saya percaya kita harus waspada dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kegelapan.” (ae/ml) 

Laporan Pilihan