Cara Dunia Cegah Perang Harga Vaksin COVID-19: Bagaimana dengan Indonesia? | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 05.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

Cara Dunia Cegah Perang Harga Vaksin COVID-19: Bagaimana dengan Indonesia?

Sebuah organisasi skala dunia merumuskan cara guna mencegah perang harga vaksin COVID-19 dengan mekanisme yang menguntungkan negara-negara yang kurang mampu dan tidak merugikan produsen vaksin. Bagaimana Indonesia?

 Eijkman Institut jadi salah satu yang mengembangkan vaksin.

Berburu dengan waktu, mencari vaksin yang tepat

Ketika Jonas Salk menemukan vaksin polio tahun 1953, Jonas Salk tidak mematenkan vaksin polio tersebut. Dalam sebuah wawancara, Jonas Salk berkata, “Tidak ada paten. Apakah matahari bisa dipatenkan?” Jika Jonas Salk mematenkan vaksin polio, Forbes menghitung kekayaannya bisa bertambah 7 juta dollar AS.

Kini dunia yang didekap pandemi COVID-19 sejak enam bulan silam berharap banyak pada penemuan revolusioner seperti vaksin polio, vaksin COVID-19. Dunia membutuhkan vaksin COVID-19 namun kehadiran sosok terpuji sebagaimana Jonas Solk dulu, bisa dipastikan hampir mustahil.

Negara-negara di dunia tidak punya posisi tawar untuk menentukan harga vaksin yang sebagian besar diproduksi oleh industri farmasi skala bisnis. Siapa pun yang bisa menemukan vaksin COVID-19 yang lolos uji dan efektif akan punya kuasa menentukan harga vaksin.

Harga vaksin berjenjang?

Guna mencegah terjadinya perang harga vaksin COVID-19 dan menjamin ketersediaan vaksin, Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi, GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunization) -sebuah lembaga kemitraan publik dan swasta skala dunia yang sejak tahun 2000 fokus pada vaksinasi anak-anak di seluruh dunia- merumuskan mekanisme yang menguntungkan negara-negara yang kurang mampu namun tidak merugikan produsen vaksin yang bersedia bekerja sama dalam Inisiatif COVAX.

Inisiatif COVAX terdiri dari Aliansi Vaksin GAVI, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations atau Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), Badan Kesehatan Dunia, WHO dan Yayasan Bill dan Melinda Gates akan memberikan insentif dana untuk industri farmasi produsen vaksin COVID-19. Jika vaksin sudah ditemukan dan mendapat persetujuan WHO maka vaksin akan dijual dengan mekanisme harga berjenjang. Negara penghasilan rendah dan menengah akan mendapat vaksin dengan biaya lebih rendah dibandingkan negara penghasilan tinggi untuk produk yang sama.

Pada Juli silam, GAVI menyatakan ada 92 negara penghasilan rendah dan menengah yang bisa mendapatkan vaksin COVID-19 pada saat bersamaan dengan negara kaya. Dalam situs resmi www.gavi.org, Inisiatif COVAX memastikan tidak ada negara yang tertinggal untuk mengakses vaksin saat vaksin ditemukan. Karena itu negara kaya diimbau untuk mendanai pengadaan vaksin di negara berkembang. Tahun 2021 akhir diharapkan tersedia dua miliar dosis vaksin yang dapat dibagikan kepada 20% populasi terutama pekerja kesehatan dan kelompok penduduk paling rentan terpapar COVID-19, di 92 negara golongan ekonomi lemah dan menengah yang bergabung dalam Inisiatif COVAX.


@monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.
 

Penulis: Monique Rijkers

Indonesia termasuk dalam 92 negara yang bisa mendapatkan akses vaksin dengan harga yang lebih murah. Tentu ini kabar baik karena Indonesia bisa menghemat anggaran dan mendapat vaksin sesuai standar WHO.

Pada 25 Agustus silam sebanyak 172 negara membahas Inisiatif COVAX, 80 negara penghasilan tinggi yang mampu mendanai produksi vaksin akan menopang ongkos vaksin untuk 92 negara penghasilan rendah dan menengah. 80 negara yang berkomitmen, di antaranya: Argentina, Brasil, Kanada, Finlandia, Yunani, Israel, Jepang, Yordania, Selandia Baru, Norwegia, Qatar, Arab Saudi, Singapura, Swiss, Uni Emirat Arab dan Inggris.  

Implementasi inisiatif COVAX

Berdasarkan informasi terakhir (akhir Juli 2020) ada sembilan vaksin yang masuk dalam daftar vaksin yang didukung pendanaan CEPI (Inisiatif COVAX) untuk riset dan pengembangan yakni:

  • Inovio, Amerika Serikat
  • Moderna, Amerika Serikat
  • CureVac, Jerman
  • InstitutPasteur/Merck/Themis,Perancis/Amerika/Austria
  • AstraZeneca/Universitas Oxford, Inggris
  • Universitas Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok
  • Novavax, Amerika Serikat
  • Clover Biopharmaceutical, Republik Rakyat Tiongkok
  • Universitas Queensland/CSL, Australia

GAVI menyebut ada sembilan calon vaksin yang sedang dievaluasi untuk bergabung dengan Inisiatif COVAX. Dari daftar tersebut, vaksin produksi Sinovac dan Sinopharm belum ikut serta dalam Inisiatif COVAX. Bisa jadi Sinovac termasuk dalam daftar sembilan kandidat vaksin yang ingin bergabung dengan Inisiatif COVAX.

Produsen vaksin yang berada di luar Inisiatif COVAX bisa menentukan harga vaksin sendiri dan negara yang tertarik membeli vaksin terikat pada kesepakatan harga yang ditentukan perusahaan farmasi yang tentunya lebih berorientasi bisnis karena biaya penelitian vaksin sangat besar.

Inisiatif COVAX sudah dinikmati oleh Institut Serum India (SII) yang mendapat modal di muka sebesar $150 juta AS (Rp 2,2 triliun) dari Yayasan Bill dan Melinda Gates agar bisa memproduksi vaksin COVID-19 dalam skala besar untuk didistribusikan di bawah mekanisme Inisiatif COVAX dengan harga tidak lebih dari 3 dollar  AS per dosis mengacu pada informasi terakhir 7 Agustus 2020.

Institut Serum India akan memproduksi 100 juta dosis vaksin AstraZeneca/Oxford dan Novavax yang sedang dikembangkan untuk India dan 92 negara lain. Jika dibandingkan dengan harga vaksin produsen lain seperti, harga vaksin AstraZeneca/Oxford memang paling terjangkau. Vaksin Sinopharm per dosis $144 AS, Moderna $32-37 AS dan Pfizer $20 AS.

Inisiatif COVAX dan Indonesia

Meski vaksin belum ditemukan, Indonesia sudah membuat kesepakatan dengan Sinovac, produsen vaksin asal China untuk pasokan, produksi lokal dan lisensi teknologi CoronaVac, calon vaksin yang dinonaktifkan guna melawan COVID-19.

Hitung-hitungan Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir, kebutuhan biaya untuk pengadaan vaksin sebanyak 320-380 juta dosis mencapai hampir 66 triliun rupiah, sudah termasuk alat suntik dan sumber daya manusia. Harga vaksin Sinovac di Indonesia akan berkisar antara $25 - $30 AS atau sekitar Rp 365.000 hingga Rp 438.000 untuk dua kali suntik, maka harga per dosis sekitar $15 AS.

Jika mengacu pada mekanisme Inisiatif COVAX maka sebetulnya Indonesia bisa membeli vaksin yang kelak disetujui WHO dengan harga siap pakai sebesar $3 AS per dosis atau sekitar 45 ribu rupiah. Bandingkan dengan harga bahan baku vaksin dari Sinovac sebesar $8 AS per dosis. Selisih harga bahan baku vaksin dengan yang dijual ke 92 negara mencapai $5 AS, cukup besar jika jumlah dosis mencapai puluhan juta.

Negara kita bisa menikmati fasilitas vaksin dengan harga lebih rendah daripada harga jual di negara penghasilan tinggi karena negara-negara seperti Australia, misalnya sudah menyatakan komitmennya dengan gelontoran dana mencapai $80 juta Australia untuk ketersediaan vaksin COVID-19 di negara-negara kawasan Pasifik dan Asia Tenggara (Indonesia, Timor Leste, Laos, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Filipina) melalui Inisiatif COVAX. Donor seperti Australia ini yang sangat membantu Inisiatif COVAX yang imbasnya bisa dirasakan oleh kita di Indonesia.

Dalam hal ini, berada dalam Inisiatif COVAX adalah salah satu pilihan logis guna memastikan Indonesia punya vaksin COVID-19 dengan biaya lebih murah. Indonesia bisa menghindari kesepakatan bisnis yang cenderung berat sebelah karena perusahaan farmasi akan menyepakati harga dengan Inisiatif COVAX, bukan dengan Indonesia sebagai negara pembeli. Pada November 2019, Indonesia memanfaatkan mekanisme pengadaan vaksin pneumonia multidosis dengan harga murah sehingga menghemat anggaran mencapai Rp 7 triliun untuk mencukupi kebutuhan vaksin selama lima tahun. Penghematan sebanyak itu bisa terjadi karena kerjasama dengan GAVI.

Saat ini Indonesia sudah membuat kesepakatan pengadaan 50 juta dosis vaksin dengan Sinovac dan 10 juta dosis vaksin dengan G-42, perusahaan Uni Arab Emirat dan Sinopharm. Kebutuhan vaksin untuk seluruh penduduk Indonesia sangat besar karena itulah Indonesia perlu berhati-hati menggunakan dana untuk memborong vaksin. Indonesia masih bisa memanfaatkan mekanisme pengadaan vaksin COVID-19 melalui Inisiatif COVAX. Kerjasama antara COVAX dengan Institut Serum India yang menerima dana untuk pengadaan vaksin dapat dicontek. BUMN farmasi Indonesia dapat menjajaki prospek ini melalui Diplomasi Vaksin dengan orientasi alih teknologi.

Ibarat menaruh telur, Indonesia perlu menaruh telur bukan pada satu-dua keranjang. Namun menempatkan telur pada banyak keranjang pun butuh strategi. Jika Inisiatif COVAX menjamin harga vaksin berjenjang (harga lebih rendah daripada harga vaksin di negara penghasilan tinggi), alangkan baiknya jika Indonesia menyatakan komitmennya terlibat dalam Inisiatif COVAX. Seandainya dari sembilan kandidat vaksin Inisiatif COVAX mematok harga tak lebih dari $3 AS per dosis tentu lebih terjangkau buat negara kita. Itupun jika uji klinis calon vaksin itu sukses. Jika vaksin Inisiatif COVAX tidak ada yang sukses untuk digunakan pada manusia, Indonesia tidak kehilangan banyak duit.  Rasa-rasanya, pesan  moral “teliti sebelum membeli” tak pernah usang, termasuk dalam situasi darurat seperti saat ini. Trengginas itu perlu dan bagus tetapi jangan sampai tersandung dan jadi kasus

 

@monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.
 
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis
 
*Bagi komentar Anda dalam kolom di bawah ini.