WTO Tanpa Pimpinan, AS Ancam Keluar Kalau Wakilnya Tidak Jadi Dirjen | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.09.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Internasional

WTO Tanpa Pimpinan, AS Ancam Keluar Kalau Wakilnya Tidak Jadi Dirjen

WTO belum berhasil memilih ketua baru setelah Roberto Avezedo resmi meletakkan jabatan 31 Agustus 2020. AS menuntut hak tradisionalnya mengisi jabatan dirjen WTO, atau mengancam keluar dari organisasi itu.

Kantor Pusat WTO di Jenewa, Swiss (Getty Images/AFP/F. Coffrini)

Kantor Pusat WTO di Jenewa, Swiss

Pimpinan Organisasi Perdagangan Dunia WTO, Roberto Azevedo, resmi mengundurkan diri hari Senin (31/8). Hingga kini WTO belum berhasil memilih ketua baru, yang biasanya ditetapkan berdasarkan konsensus. Padahal WTO sedang menghadapi krisis terbesar dalam 25 tahun sejarahnya. Ketika perekonomian global dilanda krisis akibat pandemi corona, WTO justru lumpuh oleh sengketa perdagangan global, terutama antara AS dan Cina, yang memblokir semua upaya penengahan.

Washington bahkan sekarang mengancam akan keluar dari WTO, kalau wakilnya tidak menjadi pimpinan.

"AS menuntut agar Dirjen yang baru memiliki keprihatinan yang sama dengan AS, terutama tentang berbagai kekhawatiran yang terkait Cina," kata Manfred Elsig, profesor hubungan internasional di World Trade Institute di Bern, Swiss, kepada kantor berita AFP. "Mengingat bahwa Dirjen biasanya dipilih melalui konsensus, sikap keras ini mempersulit pemilihan."

Dirjen WTO Roberto Azevedo membuat pengumuman mengejutkan bulan Mei lalu ketika dia mneyatakan akan mengakhiri masa jabatan keduanya di organsaisi internasional itu akhir Agustus 2020, setahun lebih dini sebelum masa jabatannya berakhir. Selama ini, ada delapan nama yang disebut-sebut mencalonkan diri sebagai penggantinya, tiga orang Afrika, dua orang Eropa, dua orang Asia, dan satu orang dari Amerika Latin.

Roberto Azevedo, Dirjen WTO yang mengundurkan diri (picture-alliance/Keystone/S. di Nolfi)

Roberto Azevedo secara mengejutkan mengumumkan mundur, setahun sebelum masa jabatannya resmi berakhir

Pimpinan interim WTO diperebutkan antara Brussel dan Washington

WTO dijadwalkan akan memulai tiga putaran konsultasi bulan depan, di mana semua negara anggota secara rahasia menyuarakan preferensi mereka terhadap para calon. Proses tersebut biasanya akan berakhir dengan penetapan ketua baru berdasarkan konsensus. Tetapi ketegangan internasional yang meningkat membuat pemilihan itu jadi tidak tentu. Negara anggota bulan lalu gagal memilih seorang penjabat Direktur Jenderal dari antara empat wakil direktur - sesuatu yang biasanya merupakan proses yang mudah.

Uni Eropa dan AS memperebutkan posisi pejabat pelaksana WTO. Uni Eropa mencalonkan Karl Brauner dari Jerman, tetapi Amerika Serikat mengajukan wakilnya, Alan Wolff. Menurut para pengamat, seharusnya posisi pejabat pelaksana bisa ditetapkan dengan cepat karena hanya keputusan administratif. Namun perebutan politik begitu sengit dan "belum pernah terjadi sebelumnya", kata pejabat WTO yang tidak mau disebut namanya.

Elvire Fabry, seorang peneliti di lembaga Jacques Delors, mengatakan bahwa "veto AS" terhadap Kalr Brauner terutama terkait dengan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk "meningkatkan permainan kekuasaan terhadap Uni Eropa".

Washington mungkin mengharapkan periode interim "lebih lama dari yang diperkirakan, dan tidak ingin mengizinkan orang Eropa untuk masuk dalam posisi itu."

Para kandidat yang mencalonkan diri untuk memimpin WTO (picture-alliance/dpa/KEYSTONE/S. Di Nolfi)

Para kandidat yang mencalonkan diri untuk memimpin WTO

Pemilihan Pimpinan WTO Menunggu Pilpres di AS

Para kandidat sendiri sekarang mulai bersuara. "Saya yakin dengan proses seleksi internal dan berharap ini ditutup pada waktu yang tepat," kata Liam Fox dari Inggris kepada AFP melalui email. Kandidat Kenya Amina Mohamed dalam sebuah wawancara menegaskan bahwa dia melihat "tidak ada alasan untuk meragukan bahwa jadwal (yang sudah diumumkan) tidak akan terwujud."

"Sulit untuk mengukur ancaman kekuatan berbahaya yang diberikan AS dalam proses ini, untuk mengetahui seberapa jauh mereka dapat dan ingin ikut campur dan mengacaukan sesuatu," kata Sebastien Jean, kepala pusat penelitian Prancis CEPII.

"Ada perasaan bahwa Amerika Serikat mungkin akan tetap pasif dan menunjukkan sedikit niat baik hingga 3 November," katanya. Para pengamat menilai, pemilihan pimpinan WTO baru akan lancar setelah 20 Januari 2021, ketika presiden AS berikutnya sudah dilantik.

Banyak pihak mengatakan, proses pemilihan Dirjen WTO tidak pernah begitu dipolitisasi seperti saat ini. Beberapa pengamat menyarankan WTO untuk meninggalkan tradisi pengambilan keputusan lewat konsensus, yang selama ini dipegang, dan digantikan dengan metode pemungutan suara.

Tahun 1999, anggota WTO juga pernah gagal mencapai konsensus untuk memilih Direktur Jederal baru dengan suara bulat. Akhirnya dua calon utama diberi jabatan bergilir, masing-masing untuk tiga tahun.

hp/vlz (afp, rtr, ap)

Laporan Pilihan