Sekjen PBB Antonio Guterres: Tak Ada “Vaksin” untuk Planet Ini | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 03.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Perubahan Iklim

Sekjen PBB Antonio Guterres: Tak Ada “Vaksin” untuk Planet Ini

Rekor kenaikan suhu, kekeringan parah, dan pemanasan suhu laut yang cepat memastikan bahwa emisi masih terus meningkat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengajak dunia berkoalisi untuk capai netralitas karbon.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres membahas soal ancaman perubahan iklim yang mengerikan, pada Rabu (02/12), lewat pidatonya tentang keadaan planet di Universitas Columbia di New York, Amerika Serikat.

"Keadaan planet ini rusak, umat manusia mengobarkan perang terhadap alam," kata Guterres. "Alam selalu menyerang balik, dan melakukannya dengan kekuatan dan amarah,” tambahnya.

Mengacu pada laporan sementara “Keadaan Iklim Global 2020” yang dirilis Rabu (02/12) oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organizations/WMO), Guterres menegaskan kembali bahwa suhu dalam dekade terakhir adalah yang terpanas dalam sejarah.

Dikatakannya bahwa lapisan es menurun, permafrost mencair, kebakaran hutan dan lahan yang luas dan badai yang belum pernah terjadi sebelumnya hanyalah sebagian dari akibatnya.

"Hentikan perampasan," lanjut Guterres, mengacu pada penggundulan hutan yang juga memicu perubahan iklim. "Dan mulailah penyembuhan.”

Menurutnya, kebijakan iklim saat ini telah gagal menjawab tantangan tersebut. Dia mengatakan bahwa emisi pada tahun 2020 tercatat 60% lebih tinggi daripada tahun 1990.

"Kita sedang menuju kenaikan suhu 3 sampai 5 derajat celcius (pada tahun 2100),” sebutnya.

Namun, sekjen WHO itu melihat harapan untuk tahun 2021, dengan mengatakan inilah saatnya untuk "membangun koalisi global menuju netralitas karbon."

Antonio Guterres

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengajak dunia untuk ''menyembuhkan'' Bumi

Misi ini membutuhkan target nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050. Lebih dari 110 negara telah berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon.

Misi ini mendorong energi terbarukan dan menghentikan pembiayaan dan subsidi bahan bakar fosil secara bertahap.

“Tidak ada “vaksin” untuk planet ini,” ujarnya, terkait perlunya membangun gerakan aksi penanganan iklim global.

Rekor enam tahun terpanas

Laporan kondisi iklim WMO yang dirujuk oleh Guterres menegaskan bahwa 2020 menjadi tahun terpanas kedua, jika dibandingkan dengan periode yang setara di masa lalu.

Serangkaian gejala planet bumi yang memanas termasuk, seringnya terjadi kekeringan parah, badai besar yang tak tertandingi, es lautan yang mencair, hujan lebat dan banjir di seluruh Asia dan Afrika, serta gelombang panas laut yang luas. Namun, 2016 tetap menjadi tahun terpanas dalam sejarah hingga saat ini.

Empat tahun kemudian, suhu memanas ini terus berlanjut, meskipun fase cuaca La Nina yang lebih dingin terjadi pada bulan September, dan El Nino – kondisi suhu air laut di Samudra Pasifik memanas – menjadi relatif lemah.  

Suhu rata-rata global untuk Januari hingga Oktober 2020 adalah sekitar 1,2 derajat celcius, yang berarti di atas suhu rata-rata tahun 1850–1900.

"Dengan 2020 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas dalam catatan, dan enam tahun terakhir 2015-2020, kemungkinan besar menjadi enam tahun terpanas dalam catatan," kata laporan iklim WMO.

Suhu di Arktik Siberia lebih dari 5 derajat celcius di atas rata-rata pada tahun 2020. Suhu mencapai 38 celcius di Verkhoyansk pada akhir Juni, diketahui sebagai suhu tertinggi di utara Lingkaran Arktik.

“Kami melihat suhu ekstrem baru di darat, laut dan terutama di Kutub Utara,” kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas.

"Kebakaran hutan melanda wilayah yang luas di Australia, Siberia, Pantai Barat AS dan Amerika Selatan, mengirimkan gumpalan asap ke seluruh dunia,” tambahnya. 

Karhutla Siberia

Foto kebakaran hutan dan lahan di Siberia tahun ini

Di masa pandemi, gas rumah kaca tetap meningkat

Lockdown yang diterapkan untuk mencegah penyebaran virus corona hanya menghasilkan "pengurangan emisi sementara" pada tahun 2020, menurut laporan itu.

Gas rumah kaca yang sebagian besar dihasilkan oleh pembakaran dari bahan bakar fosil mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2019. Tingkat karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O) meningkat ke level yang lebih tinggi dari tahun 2018 (2,6 bagian per satu juta), dibandingkan peningkatan dari dua tahun sebelumnya.

"Data real-time dari lokasi tertentu, termasuk Mauna Loa (Hawaii) dan Cape Grim (Tasmania) menunjukkan bahwa tingkat CO2, CH4 dan N2O terus meningkat pada tahun 2020," kata laporan itu. 

Gejala pemanasan global yang semakin parah

Laporan tersebut juga mencatat bahwa permukaan laut telah naik lebih tinggi dari tahun ke tahun, sebagian akibat peningkatan pencairan lapisan es di Greenland dan Antartika.

Sementara itu, lebih dari 80% wilayah lautan telah mengalami setidaknya satu gelombang panas pada tahun 2020. Dan 43% wilayah lautan mengalami gelombang panas laut yang tergolong "kuat". Selain itu, suhu panas laut pada tahun 2019 tercatat yang tertinggi

Hujan deras dan banjir besar melanda sebagian besar wilayah Afrika dan Asia pada tahun 2020, terutama di sebagian besar Sahel, negara-negara di the Greater Horn Afrika, anak benua India, dan daerah sekitarnya, Cina, Korea, dan Jepang. Dengan 30 badai (per 17 November 2020), musim badai Atlantik utara mencatat jumlah badai tertinggi yang pernah ada.

Efek badan Iota

Badan Iota menyebabkan banyak kematian dan kehancuran tahun ini

Kekeringan parah memengaruhi sebagian besar bagian Amerika Selatan pada tahun 2020, dengan daerah yang terkena dampak parah termasuk Argentina utara, Paraguay dan daerah perbatasan barat Brasil.

"Peristiwa iklim dan cuaca telah memicu perpindahan penduduk yang signifikan dan sangat memengaruhi orang-orang yang rentan mengungsi, termasuk di kawasan Pasifik dan Amerika Tengah," kata laporan iklim. (pkp/ha)

Laporan Pilihan