Menjadi Bagian dari Keluarga Jerman Lewat Program Au Pair | KAMPUS: Tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Jerman | DW | 06.04.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kampus

Menjadi Bagian dari Keluarga Jerman Lewat Program Au Pair

Au Pair sering disalahpahami sebagai pengasuh anak. Namun, sebenarnya seorang Au Pair adalah bagian dari keluarga dan menjadi kakak dari anak-anak 'host family'. Itulah peran yang dijalani Herwina, Au Pair asal Jakarta.

Siang hari di Pülheim, kota kecil berjarak sekitar 15 menit perjalanan kereta dari Köln. Herwina, pemudi asal Jakarta berjalan santai melewati pintu masuk taman kanak-kanak "Arche". Kehadirannya di sana adalah untuk menjemput Kian Hübner, anak kedua dari apa yang disebut sebagai "Gastfamilie” dalam bahasa Jerman atau "host family” dalam bahasa Inggris. Belum ada padanan yang tepat untuk istilah ini, namun kata "keluarga angkat” mungkin bisa digunakan untuk mengacu pada keluarga di mana kini Herwina tinggal di Jerman.

Köln Au Pair-Mädchen Herwina aus Indonesien (privat)

Menjemput Kian dari TK adalah tugas Herwina selama menjadi Au Pair di keluarga Hübner.

Keluarga Hübner adalah "Gastfamilie” Herwina, dan perempuan berusia 23 tahun itu adalah seorang Au Pair untuk keluarga Hübner. Istilah Au Pair merujuk pada anak-anak muda usia 18-26 tahun, yang berada di negara asing dalam jangka waktu tertentu untuk tinggal bersama keluarga angkat. Au Pair dianggap sebagai anggota penuh keluarga selama masa tinggal. Oleh karena itu, Au Pair membantu keluarga dalam pengasuhan anak dan dapat diminta untuk memikul beberapa tugas rumah tangga yang ringan. Sebagai imbalan, keluarga angkat menyediakan tempat tinggal gratis serta uang saku. Jadi, perlu diingat bahwa Au Pair bukanlah pekerja rumah tangga atau pengasuh anak.

Di pagi hari Herwina menghadiri kelas bahasa Jerman tingkat lanjut di Volkhochschule Köln, dan di siang hari, atau tepatnya pukul 13.00, ia menjemput Kian dan pulang ke rumah bersama, yang dilanjutkan dengan bermain dan menemani Lou, kakak Kian yang berumur 7 tahun, belajar.

Ingin menjadi bagian dari masyarakat Jerman

Sebelum ke Jerman, Herwina telah mengenyam pendidikan S1 jurusan Pendidikan Bahasa Jerman, Universitas Negeri Jakarta. Ia memiliki keinginan yang sangat besar untuk bisa merasakan bagaimana menjadi bagian dari masyarakat Jerman. Melamar beasiswa pun ia lakukan, namun kandas. Wina tak kehilangan akal. Ia mencoba peruntungannya pada program Au Pair. "Saya telah mempelajari bahasa dan budaya Jerman di tempat saya kuliah. Saya tertarik dan merasa mampu untuk mengikuti program ini," katanya.

Hal yang ia lakukan pertama kali setelah memutuskan untuk menjadi Au Pair adalah membuat akun di Au Pair World. Situs ini adalah platform semacam Facebook, namun dikhususkan untuk Au Pair yang mencari host family atau sebaliknya. Herwina mengerahkan segala kemampuannya untuk membuat tampilan akun Au Pair World-nya meyakinkan host family. "Aku buat akun sekitar bulan Mei. Sejak saat itu, aku rajin mengirim pesan kepada host family. Tiap hari 10 pesan," kenangnya. Ia kerap mendapat balasan, namun hingga tahap lanjutan video call ada hal-hal yang baik Herwina atau host family tidak bisa sepakati, seperti misalnya biaya tiket pesawat. "Aku mencari keluarga yang bersedia untuk bayar semuanya. Jadi aku enggak usah mengeluarkan biaya."

Köln Au Pair-Mädchen Herwina aus Indonesien (DW/Nurzakiah Ahmad)

Herwina menemani kakak Kian, Lou, menyelesaikan pekerjaan rumah.

Bulan September 2018 pencariannya pun membuahkan hasil. Herwina mengenal keluarga Hübner. Mereka melakukan satu kali video call dan beberapa waktu kemudian Herwina dikirimi kontrak dan berbagai dokumen lain yang ia perlukan untuk mengurus visa di Kedutaan Besar Jerman, Jakarta. Awal Oktober Herwina terbang ke Jerman dan akan tinggal bersama keluarga Hübner selama satu tahun, atau tepatnya dari Oktober 2018 hingga Oktober 2019.

Siri Hübner, ibu di Gastfamilie, di mana Herwina tinggal, mengungkapkan apa yang membuat ia memilih Herwina untuk menjadi Au Pair di keluarganya. "Komunikasi yang sangat baik. Tentu ada banyak calon Au Pair yang mengirim pesan pada saya. Dan saya pun tidak mengutamakan satu negara. Saya punya feeling yang bagus pada Wina dan saya putuskan berdasarkan feeling saja dan ternyata keputusan saya adalah keputusan yang tepat," ungkap Siri yang sangat senang akan hadirnya Herwina yang bisa membantunya dalam menjaga kedua anaknya, yang berusia 7 dan 4 tahun.

Dengan menjadi bagian dari keluarga Hübner, Herwina berharap apa yang ia inginkan dari program ini bisa ia capai. "Harapan saya adalah untuk lebih memperdalam bahasa Jerman, dalam arti bisa berkomunikasi lebih baik lagi dalam bahasa Jerman dan tentunya bisa mengenal lebih dalam tentang cara hidup dan budaya orang Jerman,” jelasnya.

Tidak perlu agen

Menjadi Au Pair adalah salah satu cara untuk bisa ke Jerman dan menjadi bagian dari masyarakatnya. Banyak orang yang begitu ingin ke Jerman, sehingga mengacuhkan hal-hal penting yang harus diperhatikan atau menggunakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, seperti misalnya jasa agen Au Pair.

Menurut Herwina, agen Au Pair sangat tidak diperlukan. "Kita bisa mengurus semuanya sendiri, seperti misalnya dengan membuat akun di Au Pair World. Ada agen yang bahkan meminta seorang calon Au Pair untuk membayar berjuta-juta agar bisa menjadi Au Pair di Jerman." Hal ini tentu bisa dihindari dengan benar-benar mencari informasi sedalam mungkin jika sudah berkeputusan bulat ingin menjadi Au Pair di Jerman (atau di negara yang diinginkan).

Selain itu, komunikasi dengan calon Gastfamilie juga harus dijalin dengan sebaik mungkin. Saat komunikasi pertama kali "harus sedetail mungkin membicarakan tentang apa yang nanti akan dikerjakan dan didapatkan selama mengikuti program Au Pair di Jerman. Dan yang paling penting menurut saya adalah harus lebih dalam lagi mempelajari bahasa dan budaya Jerman, agar ketika nanti sudah berada di Jerman, kita akan lebih meminimalisir kesulitan-kesulitan yang nantinya akan kita hadapi di negara asing," tambahnya.

Peluang untuk melanjutkan kuliah

Salah satu persyaratan untuk bisa menjadi Au Pair adalah kemampuan bahasa. Seseorang diharapkan sudah memiliki kemampuan bahasa dasar (level A1) negara di mana ia akan melakukan Au Pair. Oleh karena Herwina sudah mengenyam pendidikan S1 Bahasa Jerman, maka tentu kemampuan bahasanya sudah melebihi A1.

Namun, ia masih ingin terus memperdalam bahasa Jermannya hingga ke tingkat di mana ia bisa kuliah. Program Au Pair hanya bisa diikuti selama satu tahun di satu negara. Oleh karena itu, "rencana ke depan aku adalah untuk terus memperdalam bahasa Jerman untuk mendapatkan sertifikat C1 dan mencari peluang untuk mendapatkan kesempatan mengikuti program kuliah S2."

na/ts

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

Laporan Pilihan