Mengenang Sutopo Purwo Nugroho, Informan Andalan Saat Bencana Melanda | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 08.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

indonesia

Mengenang Sutopo Purwo Nugroho, Informan Andalan Saat Bencana Melanda

Indonesia kehilangan sosok yang sangat berdedikasi dan diandalkan dalam penyampaian informasi kebencanaan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia setelah sempat berjuang melawan penyakit kanker paru-paru stadium 4B yang dideritanya sejak akhir 2017.

Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, Cina, Minggu (7/7).

Sutopo meninggalkan seorang istri dan dua orang putra. Jenazahnya diterbangkan dari Guangzhou menuju Jakarta pada hari Minggu (7/7) dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sasonolayu, Boyolali pada Senin (8/7).

Dalam rilis tertulis dari BNPB yang diterima DW Indonesia, Kepala BNPB, Doni Monardo mengungkapkan apresiasinya terhadap pria yang biasa disapa dengan panggilan Pak Topo itu.

Indonesien Vereidigung Doni Monardo, Katastrophenschutzbehörde, durch Präsident Joko Widodo (Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden)

Doni Monardo pada pelantikan dirinya sebagai Kepala BNPB

"Pak Topo adalah Pahlawan Kemanusiaan yang telah ikut membesarkan nama BNPB sejak dibentuk tahun 2008. Pak Topo juga telah mengharumkan nama Indonesia dalam sejumlah karyanya antara lain penghargaan tertinggi yang diterima Pemerintah RI di Baku Azerbaijan dari PBB di Bidang Inovasi Kebencanaan melalui "Petabencana", ungkap Doni.

Ucapan belasungkawa datang dari berbagai penjuru tak terkecuali Presiden Jokowi dan perwakilan negara sahabat yang tidak asing dengan etos kerja Sutopo.

Dalam cuitannya, Jokowi menyampaikan rasa kehilangannya akan sosok yang berdedikasi.

Presiden yang pada Oktober 2018 pernah bertemu langsung dengan Sutopo di Istana Kepresidenan Bogor berharap agar segala dedikasi dan amalan beliau semasa hidup diterima di sisi Allah SWT, demikian rilis pers Sekretariat Presiden yang diterima DW Indonesia.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, juga sampaikan rasa duka citanya melalui akun Twitter @DubesAustralia. Dalam cuitannya, ia ungkapkan kesedihan akan meninggalnya Sutopo yang ia gambarkan sebagai sosok yang dicintai, berdedikasi dan dikenal di Australia.

Selain Australia, Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste Peter MacArthur juga sampaikan rasa belasungkawa sekaligus kekagumannya akan kemampuan, dedikasi dan keberanian Sutopo selama menjabat sebagai juru bicara BNPB.

Totalitas bekerja meski menderita kanker

Kekaguman berbagai pihak terhadap dedikasi Sutopo memang tidak mengherankan. Meski divonis menderita kanker sejak tahun 2017, ia tidak lelah dan terus berada di garda terdepan memberikan informasi tentang bencana alam yang kerap melanda tanah air.

Di tahun 2018 misalnya. Indonesia dilanda bencana bertubi-tubi; gempa bumi di NTB, gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah dan tsunami di Selat Sunda. Sutopo yang kala itu sedang berjuang untuk melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya, tetap tampil dengan penuh totalitas memberikan informasi kebencanaan.

Di kalangan awak media, ia dikenal sebagai sosok yang selalu ada dan dapat diandalkan untuk dimintai informasi.

Wawancara di manapun dan kapan pun ia lakoni. Selain pernah melakukan wawancara dengan media di rumah, ia juga melayani awak media di halaman rumah sakit, di mal, atau bahkan di tempat pemakaman umum saat dirinya melayat, demikian informasi dari rilis BNPB.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi dari BNPB tentang pengganti Sutopo yang akan memegang jabatan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Dikutip dari Republika.co.id, Kepala Bidang Humas BNPB, Rita Rosita Simatupang, mengatakan penggantian jabatan tersebut harus melalui prosedur, mekanisme yang ada di undang-undang (UU) dan kandidat harus mengikuti fit and proper test. "Saya kurang tahu siapa yang menggantikan (jabatan) almarhum Pak Sutopo," kata Rita.

Penyebar informasi dan penangkal hoaks

Sadar bahwa masyarakat Indonesia mengandalkan dirinya sebagai sumber informasi kebencanaan yang terpercaya, Sutopo memanfaatkan akun media sosial dengan maksimal. Pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 itu memanfaatkan akun Twitternya terutama untuk penyampaian informasi terkini terkait bencana alam dan untuk menangkal hoaks.

"Saya menggunakan Twitter ada banyak hal sebenarnya. Satu yang terkait dengan kebencanaan. Sangat efektif sekali menyampaikan update-update terkini, apalagi bencana yang besar," ujar Sutopo. "Setiap terjadi bencana pasti ada hoax. Langsung saya counter, yang sifatnya bencana alam," lanjutnya, seperti dilansir Detik News.

Tapi yang paling dia sukai dari Twitter adalah, berkat platform media sosial ini, dia bisa bertemu penyanyi idolanya, Raisa. "Tanpa ada Twitter, ya tidak mungkin saya ketemu dengan Raisa. Tidak mungkin Raisa ketemu saya," ujarnya yang kemudian disambut tawa dan tepuk tangan orang-orang yang hadir di acara konferensi pers #RameDiTwitter, Desember 2018 lalu, seperti dikutip dari Detik News.

Raisa menyampaikan ungkapan bela sungkawa melalui akun Twitternya.

na/hp (dari berbagai sumber)

Laporan Pilihan