Wabah Corona Merebak, Masjid di Istanbul Ini Jadi Supermarket Amal | Mukalama | DW | 30.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

Wabah Corona Merebak, Masjid di Istanbul Ini Jadi Supermarket Amal

Masjid-masjid di Turki diliburkan seiring merebaknya wabah corona. Namun sebuah masjid di Istanbul kini berubah fungsi menjadi supermarket amal.

Dari masjid jadi 'supermarket amal'.

Masjid Dedeman di Istanbul

Masjid Dedeman adalah salah satu dari lebih dari tiga ribu masjid di Istanbul. Karena pandemic corona, masjid itu telah ditutup untuk jamaah sebagaimana ribuan masjid lainnya di seluruh negeri. Tapi imam di masjid tersebut telah mengubah rumah ibadah ini menjadi bank makanan gaya 'supermarket' untuk membantu mereka yang membutuhkan, terutama yang secara ekonomi terkena imbas pandemi.  

Sudah sekitar sebulan lamanya masjid ini membuka pintunya bagi mereka yang membutuhkan makanan sehari-hari. Bantuannya menjangkau lebih dari 100 orang per hari. Sejauh ini sudah sekitar 1200 orang tertolong oleh kegiatan amal tersebut.  

Memasok barang kebutuhan warga  

Pintu masuk ke ruang salat utama masjid Dedeman telah diubah menjadi sebuah toko. Ketika pasokan mengalir, imam dan tim sukarelawannya memboyong barang dan setelah membongkar paket, membawanya ke rak-rak yang ditempatkan di pintu masuk masjid.  

Rak-rak dipenuhi dengan berbagai macam makanan kemasan, termasuk minyak goreng, pasta, beras, tepung, lentil, gula, teh dan produk susu seperti susu, keju, dan mentega.  

Di ‘supermarket amal’ ini, ada pula permen dan mainan untuk anak-anak. Para sukarelawan tidak ragu untuk mengingatkan warga  bahwa jika mereka memiliki anak, mereka dapat mengambil hadiah khusus bagi anak-anak.  

Inspirasi dari batu amal 

Abdulsamet Cakir, imam Masjid Dedeman di distrik Sariyer Istanbul, adalah orang di balik gagasan ini untuk membantu kaum miskin melalui tempat ibadah. Dia memimpin tim sukarelawannya dari menurunkan pasokan dari mobil dan menempatkannya di rak, lalu kemudian mengirimkannya kepada yang membutuhkan.  

Imam Cakir mengatakan dia terinspirasi oleh budaya sumbangan era Ottoman yang disebut "batu amal". Konon, dulu ada pilar batu yang ditempatkan di berbagai lokasi kota di mana orang kaya akan memberikan amal kepada yang termiskin dari yang mereka miskin.  

Yang dibantu harus diverifikasi dulu  

Makanan datang ke masjid terutama dari para penyumbang di dalam dan di luar Turki. Masjid tidak menerima uang tunai, tetapi mereka menerima paket makanan. Banyak penyumbang yang secara pribadi datang untuk mengirimkan barang-barang makanan.  

Sebuah daftar telah ditempel di dinding masjid tempat orang-orang yang membutuhkan menuliskan nama dan nomor telepon mereka. Imam kemudian memverifikasi mereka dari sumber-sumber resmi dan kemudian timnya mengirimi mereka pesan pendek lewat SMS untuk mengatur pengambilan bahan makanan mereka.  

Ada prosedur tertentu untuk diikuti untuk mendapatkan bantuan dari Masjid Dedeman. Tetapi jika seseorang yang sangat membutuhkan pasokan makanan bisa mendekati masjid untuk memohon bantuan darurat. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan mendasar, para relawan melakukan tindakan yang diperlukan.  

Beberapa orang juga menyumbangkan pakaian dan barang-barang lainnya seperti sepatu. Ajaran Islam mengatakan, amal selama bulan suci Ramahan mendapat lebih banyak berkah untuk pemberi sumbangan. Masjid juga menerapkan aturan jarak fisik dengan memungkinkan maksimal dua orang mengenakan masker dan sarung tangan memasuki masjid, lalu mengambil apa yang mereka butuhkan. (ap/rzn)

 

 

Laporan Pilihan