Masjid Bertebaran, Difabel Masih Kesulitan Beribadah
16 Maret 2026
Syaiful dan motor roda tiganya sudah siap di depan rumah saat DW Indonesia bertemu dengannya di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Setiap Jumat, ia menempuh perjalanan sekitar 15 menit menuju Masjid El-Syifa, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Sudah sekitar tujuh tahun Syaiful Ahmad rutin beribadah di masjid ini, meski ada masjid yang lebih dekat dari rumahnya. Baginya, beribadah di Masjid El-Syifa lebih mudah karena menyediakan fasilitas yang ramah bagi pengguna kursi roda sepertinya.
"Membantu sekali buat kami pengguna kursi roda, misalnya enggak perlu berwudu di rumah. Saya naik turun sendiri, enggak perlu dibantu. Ya, itu gampang, nyaman," ujarnya.
Masjid El-Syifa memang menyediakan sejumlah fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas, seperti ramp (jalur landai) untuk kursi roda dan tempat wudu khusus difabel.
"Warga di sana juga paham. Kalau saya masuk ke dalam, kursi roda menginjak karpet juga enggak masalah," ujarnya.
Tidak semua masjid ramah untuk semua
Namun, bukan tanpa hambatan.
Meski bagi Syaiful fasilitas bagi difabel di Masjid El-Syifa sudah memadai, kesadaran masyarakat soal fasilitas khusus difabel masih jadi persoalan. Area parkir khusus penyandang disabilitas, misalnya, sering digunakan oleh jemaah nondifabel. Akibatnya, Syaiful kesulitan saat hendak pulang dari masjid.
"Kadang mau pulang harus menunggu orang lewat dulu...Ada satu Pak Haji yang suka bantuin. Kalau enggak ada, ya bisa lama nunggu," tuturnya.
Selain Masjid El-Syifa, Syaiful masih jarang menemukan masjid yang aksesibel baginya. Banyak masjid memilki tangga tanpa dilengkapi dengan ramp.
"Kesulitannya kalau pengguna kursi roda pasti kalau banyak tangga. Mau enggak mau minta tolong orang. Kadang terpaksa pakai air botol mineral buat wudu. Itu pun salatnya di luar, di teras. Enggak bisa masuk ke dalam," katanya.
Pengalaman serupa, meski tidak sama, juga dialami Rieka. Ia masih sulit menemukan masjid yang ramah bagi individu Tuli.
Kondisi ini membuat perempuan ini kesulitan saat menjalani ibadah di masjid, terutama saat menyimak khotbah. Untuk mengetahui isi khotbah, ia biasanya membaca catatan jemaah lain.
"Sebelah saya, ada akhwat (teman perempuan) yang mencatat di buku, saya minta izin baca. Saya kurang suka memakai aplikasi voice-to-text di ponsel karena jarak suara jauh atau suaranya kecil. Jadi, tidak menangkap kalimat dengan betul," ujarnya saat dihubungi DW Indonesia lewat aplikasi perpesanan.
Menurut Rieka, ada beberapa fasilitas yang dibutuhkan individu Tuli dalam agar bisa beribadah dengan nyaman, seperti juru bahasa isyarat (JBI), monitor yang dilengkapi dengan teks, serta petugas masjid yang memahami komunikasi dasar dalam bahasa isyarat.
Selain itu, Rieka juga menyoroti persoalan lain terkait akses beribadah bagi Tuli. Ia mengatakan masih banyak individu Tuli yang belum bisa membaca Al-Qur’an karena minimnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) khusus Tuli.
"Banyak Tuli yang belum memahami agama (doa, bacaan salat, membaca Iqra dan Al-Qur'an) karena minimnya akses informasi, tidak ada TPQ khusus Tuli (guru khusus yang mengajar)."
Jalan panjang menuju masjid inklusif
Cerita Syaiful dan Rieka menjadi potret minimnya masjid yang ramah penyandang disabilitas di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama, seperti dilansir Tempo, terdapat 19.169 masjid dan musala yang ramah anak dan penyandang disabilitas. Jumlah itu baru sekitar tiga persen dari total 703.837 masjid dan musala di Indonesia.
Padahal, berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) per tanggal 27 Agustus 2025, jumlah penyandang disabilitas yang tercatat secara nasional mencapai 15.262.488 orang.
Untuk menjawab kesenjangan tersebut, Kementerian Agama telah meluncurkan program 1.000 Masjid Inklusif pada Mei 2025. Program ini bertujuan menjadikan masjid sebagai ruang ibadah yang ramah bagi semua jemaah, termasuk penyandang disabilitas, lansia, serta perempuan dan anak.
Lewat program ini, Kementerian Agama memberikan bantuan dana rintisan sebesar Rp15 juta untuk masjid dan Rp10 juta untuk musala. Dana tersebut digunakan untuk membangun fasilitas dasar seperti ramp, toilet dan tempat wudu ramah difabel, kursi salat, serta kebutuhan lain yang menunjang aksesibilitas.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama RI, Arsad Hidayat, mengatakan hingga saat ini lebih dari 500 masjid dan musala telah menerima bantuan melalui program tersebut.
Di sisi lain, Arsad juga menuturkan bahwa upaya mendorong masjid yang inklusif juga menemui sejumlah tantangan, salah satunya konsep masjid inklusif yang belum banyak dipahami.
"Budaya masyarakat belum seluruhnya terbangun terkait dengan masjid inklusif, sarana inklusif, sarana yang ramah. Saya pikir ini butuh waktu," ujarnya.
Untuk itu, Kementerian Agama memiliki program pembinaan bagi pengurus masjid sehingga gagasan masjid inklusif dalam dipahami dan diimpelementasi pada masjid yang dikelola.
Di samping itu, terbatasnya anggaran pemerintah juga menjadi persoalan lain. Menurut Arsyad, pada tahun 2026 anggaran kemasjidan berfokus pada bantuan masjid yang terdampak bencana di tiga provinsi di Sumatra, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
"Kami melihat bahwa masjid (di tiga provinsi) itu harus segera difungsikan apalagi Ramadan dan Syawal. Mereka enggak mungkin juga hidup tanpa rumah ibadah. Saya pikir ini menjadi prioritas kami di tahun 2026."
Di samping itu, Arsad menekankan bahwa bantuan dana dari pemerintah untuk masjid inklusif bersifat rintisan. Artinya, anggaran ini tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masjid dalam menyediakan fasilitas yang inklusif secara berkelanjutan.
"Masjid inklusif pastinya nanti, ya dalam tanda kutip, memang perlu ada dukungan biaya. Sebagai contoh, kalau kita sudah pada tahapan menggunakan juru bahasa isyarat. Saya pikir itu juga menjadi tantangan tersendiri, sementara pemerintah dalam hal ini terbatas," katanya.
"Di mata Tuhan kita semua sama"
Dalam wawancara dengan DW Indonesia, Arsad Hidayat juga menyebutkan bahwa inisatif dari masyarakat juga telah mendorong bertambahnya jumlah masjid inklusif di Indonesia.
"Saya optimistis ke depan karena semakin lama kan masyarakat juga semakin terdidik, semakin pintar. Apalagi generasi sekarang ya, generasi gen Z dan generasi di bawahnya sangat toleran. Mereka sangat punya perhatian khusus dengan masalah inklusivitas ini," katanya.
Sementara itu, Syaiful dan Rieka berharap masjid bisa semakin aksesibel bagi penyandang disabilitas sehingga mereka merasa lebih diterima di lingkungan masjid.
"Walaupun kami punya keterbatasan, kami mau (kalau) beribadah ke masjid ya disamakan dengan yang nondisabilitas. Tidak ada bedannya, kan di mata Tuhan kita semua sama," tutur Syaiful.
Athif Aiman turut berkontribusi dalam artikel ini
Editor: Tezar Aditya