1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Pendeta Perempuan dan Jalan Kasih Merawat Toleransi

25 Desember 2025

Dari penyintas persekusi menjadi perawat harmoni. Pendeta Obertina memilih jalan damai, merawat toleransi lintas iman di Bandung, di tengah tren intoleransi yang terus meningkat.

https://p.dw.com/p/55QAT
Pendeta Obertina Modesta Johanis menyampaikan khotbah dari mimbar
Pelayanan Pendeta Obertina menjadikan gereja sebagai ruang aman bagi kelompok minoritas dan penyintas kekerasan berbasis identitas.Foto: Obertina Johanis

Pendeta Obertina Modesta Johanis tidak asing dengan pengalaman diskriminasi. Sejak kecil, ia dan keluarganya mengalami langsung diskriminasi berbasis agama dan identitas. Salah satu contohnya sewaktu bersekolah di Bogor, ia kerap dikucilkan karena penampilan fisiknya.

"Secara fisik kan aku juga terlihat berbeda dari anak-anak lain di sekitar rumah, ya kulitku ya rambutku. Jadi ya diledekin itu sudah makanan sehari-hari kami," kata dia kepada DW Indonesia. Dia dan keluarganya merantau ke Bogor pada tahun 1977 dari Ambon, Maluku.

Ini hanya salah satu contoh diskriminasi yang terpaksa harus ia telan selama tumbuh dewasa. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya sebagai pemimpin gereja. Bagi Obertina, iman tidak berhenti pada mimbar, melainkan hadir dalam keberpihakan pada mereka yang tersingkir, terkucil, dan terluka.

Itu pula yang dialami Yunita, salah satu anggota komunitas yang dibentuk oleh Pendeta Obertina, Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub).

Obertina Johanis berbagi pengalaman dan pandangan dalam sebuah sesi dialog lintas iman
Jaringan Kerja Antarumat Beragama Bandung (Jakatarub) menjadi ruang dialog, pemulihan, dan solidaritas lintas agama.Foto: Obertina Johanis

Komunitas lintas iman: Merawat toleransi, mengikis rasa takut

Masih jelas di ingatan Yunita, bagaimana gedung gereja menjadi tempat perlindungan bagi keluarga dan teman-temannya di akhir tahun 1990-an. Ketika ia masih SMP, sekolahnya yang mayoritas diisi oleh anak-anak keturunan Tionghoa harus merasakan ketegangan pascakerusuhan besar yang terjadi di Indonesia

"Kalau ada apa-apa, kami belajar evakuasi dari sekolah ke gereja," kenang Yunita.

Namun di awal tahun 2000-an, rasa aman itu berubah menjadi kecemasan menyusul serangkaian bom gereja yang terjadi saat malam Natal.

"Gereja yang tadinya jadi tempat perlindungan kami jadi malah enggak aman," ujar Yunita, merujuk pada serangan terhadap beberapa tempat ibadah di berbagai kota pada periode itu.

Selama bertahun-tahun, para jemaat gereja pun harus menjalani pemeriksaan ketat setiap akan menghadiri perayaan Natal. Rasa ketidakamanan itu baru mulai mereda dalam satu dekade terakhir.

Pengalaman menjadi minoritas, baik secara etnis maupun agama, membuat Yunita tumbuh menjadi pribadi yang cenderung tertutup. Ia merasa harus selalu waspada dan berhati-hati dalam menceritakan siapa dirinya kepada orang lain. "Saya hanya menjawab singkat ketika ditanya soal agama, dengan rasa enggak enak," kata dia kepada DW Indonesia. 

Titik balik dalam hidupnya terjadi lewat pertemuan dengan Pendeta Obertina Modesta Johanis di sebuah kegiatan lintas iman, Youth Interfaith Camp. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub) dan gereja yang dipimpin Obertina. Yunita tidak hanya menemukan komunitas, tetapi juga tempat toleran yang menerima identitasnya tanpa syarat.

"Di situ, saya akhirnya berani mengakui siapa saya. Tanpa rasa takut," kata Yunita. Ruang aman itu, menurutnya, membantu mengikis rasa tidak berdaya yang bertahun-tahun ia pendam.

Pintu yang terbuka bagi sesama manusia

Menurut Pendeta Obertina, dalam beberapa tahun terakhir, interaksi sosial lintas agama di Bandung semakin terlihat, mulai dari kerja bakti hingga kegiatan sosial yang melibatkan rumah ibadah berbeda.

Di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Dayeuhkolot, Bandung, Obertina dikenal sebagai pendeta perempuan yang membuka pintu gereja bagi siapa saja. Perempuan korban kekerasan, penyintas persekusi, hingga kelompok minoritas gender menemukan ruang aman untuk didengar dan didampingi.

Pendampingan itu tidak selalu berbentuk ritual keagamaan, tetapi juga mewujud dalam advokasi kasus, pendampingan psikososial, hingga membangun jejaring bantuan lintas komunitas.

Pendeta Obertina memilih untuk tidak mewariskan trauma masa kecil kepada generasi setelahnya, termasuk kepada anak-anak dan jemaat yang ia layani.

"Trauma tidak bisa dilawan dengan kebencian," kata Obertina dalam wawancara terpisah. Baginya, jalan damai justru dimulai dari keberanian membuka dialog dan merawat relasi dengan mereka yang berbeda. 

Obertina pun aktif dalam berbagai inisiatif lintas iman di Bandung, termasuk melalui Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub). Di jejaring ini, dialog antaragama dibangun lewat kegiatan seperti Youth Interfaith Camp. Di sini, para peserta dari berbagai latar belakang belajar untuk memahami pengalaman satu sama lain.

Pendeta Obertina Modesta Johanis memimpin sesi yang membahas kekerasan terhadap perempuan dan anak
Pendeta Obertina menegaskan bahwa menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan tanggung jawab moral sekaligus panggilan iman bagi gereja.Foto: Obertina Johanis

Tantangan intoleransi di tengah kota heterogen

Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, berpendapat bahwa heterogenitas di wilayah urban semestinya mendorong praktik hidup yang lebih egaliter, tapi kenyataannya justru kerap memicu gesekan identitas. "Keindonesiaan seharusnya melampaui suku, agama, dan asal daerah. Namun, tata kebhinekaan kita masih rapuh, terutama ketika identitas mayoritas merasa berhak atas privilese (hak istimewa)," ujar Halili.

Gambaran itu tercermin dalam data SETARA Institute. Sepanjang tahun 2024, tercatat 260 peristiwa dengan 402 tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) di Indonesia, meningkat dibandingkan 217 peristiwa dan 329 tindakan pada tahun 2023.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah pelanggaran tertinggi, yakni 38 peristiwa, diikuti Jawa Timur dan DKI Jakarta. Angka tersebut menunjukkan bahwa intoleransi kerap menguat justru di wilayah dengan tingkat keberagaman dan interaksi sosial yang tinggi.

Hambatan administratif dihadapi pengurus GKP Dayeuhkolot, tempat Obertina melayani. Setelah delapan tahun, nasib izin mendirikan bangunan (IMB) yang mereka ajukan masih juga belum jelas.

"Bangunannya sudah ada sejak lama, jauh sebelum aturan terbaru. Tapi proses perizinan seperti tidak pernah benar-benar selesai," ujar Obertina.

Kasus GKP Dayeuhkolot mencerminkan bagaimana regulasi dan lemahnya kehadiran negara dapat berujung pada pembatasan praktik keberagaman. Temuan SETARA Institute juga menunjukkan meningkatnya tindakan intoleransi oleh masyarakat, sementara diskriminasi oleh aktor negara tetap berlangsung dalam sejumlah kasus.

Merawat damai dalam balutan kasih Natal

Di tengah segala tantangan itu, Obertina tetap ingin berbagi, terutama menjelang perayaan Natal. Baginya, Natal bukan hanya perayaan keagamaan, melainkan momen untuk mempraktikkan kasih secara konkret kepada siapa saja. Di GKP Dayeuhkolot, perayaan Natal kerap disertai dengan penggalangan donasi untuk disalurkan ke panti asuhan muslim di sekitar gereja.

"Natal itu tentang berbagi kehidupan, bukan sekadar merayakan identitas," ujarnya.

Saat banjir melanda kawasan Dayeuhkolot, pelataran gereja pun dibuka menjadi dapur umum. Sebagian besar jemaat perempuan ikut memasak dan mendistribusikan makanan bagi ratusan warga terdampak, tanpa menanyakan latar belakang agama atau keyakinan. Ada juga pemeriksaan kesehatan dan pembagian sembako untuk warga.

"Damai itu harus diusahakan, dirawat, dan dipraktikkan," kata Obertina. Menurutnya, Natal menjadi momen pemulihan, bukan hanya bagi jemaat gereja, tetapi juga bagi relasi sosial yang selama ini rapuh oleh prasangka.

Melalui pendampingan penyintas, dialog lintas iman, dan aksi sosial yang melibatkan berbagai kelompok, Obertina ingin memastikan agar tak ada lagi luka intoleransi yang diwariskan ke generasi berikutnya. "Damai itu bukan sesuatu yang datang sendiri. Ia dibangun lewat perjumpaan dan keberanian untuk saling mendengar," ujarnya.

Editor: Melisa Ester Lolindu, Arti Ekawati

Fika Ramadhani Fika Ramadhani, jurnalis multimedia untuk Deutsche Welle Program Indonesia.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait