Kuliah Fisika Teknik di Jerman, Bermodal Pintar Tidaklah Cukup | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 25.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

DW Kampus

Kuliah Fisika Teknik di Jerman, Bermodal Pintar Tidaklah Cukup

Ragam cara ditempuh Raffly untuk menyelesaikan studi Fisika Tekniknya di Jerman: belajar bilang 'tidak' dan tegas membagi waktu, ulet mengulik software, dan terus mencoba meski berkali kali ditolak melamar pekerjaan.

 

"Saya pas SMA gak pinter-pinter amat, main bola juga gak jago-jago amat, kalau melamar ke Perguruan Tinggi Negeri gak mungkin masuk nih,"ujar Raffly Muhhamad, Mahasiswa Indonesia yang kini sedang menempuh studi magister teknik fisika di Technische Universität Berlin di Jerman. Saat itu pilihan studi ke luar negeri pun mulai diliriknya. "Australia mahal, Singapura juga, saya akhirnya lirik Jerman, karena studinya kan gratis... tapi ya biaya hidupnya gede juga" guraunya. Jerman pun jadi pilihan sebagai negeri tujuan studinya.

2013 Pertama kalinya Raffly Mohammad menginjakkan kakinya di Jerman. Saat itu ia diterima di salah satu "studienkolleg" di kota kecil Koethen untuk menjalani satu tahun persiapan studi sebelum lanjut ke universitas. Meski menghadapi banyak penolakan dari universitas, keinginannya untuk melanjutkan studi ke Ibukota Jerman, Berlin, pun tercapai. Di tahun 2014 dari Koethen dia meneruskan studi sarjananya di Technische Universität (TU) Berlin jurusan Fisika Teknik - Mekanika Fluida.

"Jalannya gak selalu mulus, keterima di TU Berlin, sebelumnya sudah banyak dapat penolakan. Cuma inget Bapak udah investasi banyak untuk studi kesini kalau gak habis-habisan sia-sia semua, dari situ bangkit lagi,"jelas Raffly.

Sembari berkuliah, ragam pekerjaan sampingan sebagai mahasiswa dilakukannya untuk bertahan hidup. Dari bekerja sebagai petugas pembersih hotel, petugas pembersih di pabrik coklat, bekerja di dapur panti jompo, bekerja di tempat percetakan, hingga bekerja start-up dilakukannya dengan giat. Menyeimbangkan antara kerja, kuliah, bersosialisasi tentu tidaklah mudah. "Saya belajar sih dari buku the art of saying no gimana nolak yang gak bukan fokus saya, yang penting saya seimbangkan kuliah, kerja, olahraga, dan ibadah," tegas Raffly.

Raffly mengakui untuk studi teknik di Jerman, bekal pintar tidaklah cukup. Mahasiswa harus tekun dan tahu betul apa fokus mereka, banyak tantangan untuk memulai kehidupan baru di suatu negara. "Kita itu harus kerja ekstra keras, dari bahasa jerman saja, bukan bahasa ibu kita kan, itu udah ekstra kerja dari dengar-paham-jawab. Belum tugas kuliahnya... Pintar aja gak cukup,"ujar Raffly.

Pertama menginjakkan kaki di Jerman Raffly mengenal sekitar 40 mahasiswa Indonesia lainnya. Tapi banyak dari mereka yang kembali ke Indonesia sebelum menyelesaikan studinya,

Raffly dan Ide Teknologi Ramah Lingkungan

Raffly baru saja memenangkan sebuah kompetisi "Pitching Nation" yang diselenggarakan Earthling Indonesia dan KBRI Berlin 14 November 2020. Kompetisi ini mengajak para kaum muda Indonesia di Jerman untuk beradu ide membangun Indonesia yang berkelanjutan. Banyak wilayah yang belum terlistriki di Indonesia dengan pusat sumber energi yang masih tersentralisasi jadi fokus perhatian Raffly.

Gagasan taman kincir angin dari Muhammad Raffly dalam Pitching Nation

Gagasan Raffly mengenai taman energi angin di kawasan terdepanl, terluar dan tertinggal-3T dalam Pitching Nation KBRI Berlin

Dengan berbekal latar belakang studi mekanika fluida dan termodinamika, Raffly pun mencoba mengikuti perlombaan tersebut. Dia mengusulkan ide pembangkit listrik tenaga angin pesisir pantai. "Lewat kincir angin sederhana gak usah yang seperti di Inggris-lah yang panjangnya 50 meter dan tinggi towernya 90 meter, ini kita coba buat pembangkit dengan bilah dua meter saja... dayanya bisa maksimal 5kW yang disesuaikan dengan kecepatan dan arah angin", jelas Raffly.

Ia berharap beberapa kincir angin di lokasi terdepan, terluar, tertinggal (3T) bisa jadi solusi elektrifikasi yang solutif. Penggunaan bahan bakar diesel sebagai sumber pembangkit listrik pun bisa dikurangi dan biaya mahal pembangunan jaringan PLN pun bisa dihindari.

Ide realistis Raffly ternyata mendapat perhatian juri. "Elektrifikasi yang belum merata masih jadi keresahan kita bersama, dalam hal ini Raffly telah mentransmisikan idenya ke dalam sesuatu yang bisa kita implementasikan," jelas salah satu dewan juri Dimas Abdirama. Raffly membawa pulang hadiah uang tunai serta berkesempatan menjadi "duta besar" selama sehari.

Magang di Perusahaan Energi Ternama Jerman

"Susah banget dapat slot untuk werkstudent (red. kerja paruh waktu sebagai mahasiswa), saya udah berkali-kali masukkan aplikasi - wawancara ditolak, lamar lagi wawancara lagi lalu ditolak lagi. Saya coba lagi tapi yang terakhir ini dibilang ada kabar buruk - ditolak lagi, tapi kabar baik ada departemen lain yang sedang nyari, langsunglah bilang oke, langsung wawancara di departemen gas turbine Siemens Energy, eh langsung cocok dan diterima," jelas mahasiswa yang berasal dari Jakarta ini.

Untuk bisa bekerja sampingan sembari kuliah di Siemens Energy, Raffly mengakui bahwa seseorang perlu membuktikan pengalaman mengerjakan proyek atau simulasi teknik. Tak harus proyek besar - bisa saja tugas kuliah, dimana tugas ini dikerjakan dengan suatu software. Software seperti Matlab, Python, atau bahkan Excel bisa membantu mempermulus lamaran pekerjaan.

"Misalkan excel saja, bukan sekedar bilang 'bisa' tapi harus bisa membuktikan sudah mengerjakan apa saja dengan excel itu," ujar Raffly dengan semangat berbagi pengalamannya. Raffly pun menyempatkan waktu mengulik software, karena pengajaran di kelas tidaklah cukup.

Sejak tujuh bulan bergabung dengan Siemens, Raffly tak habis terpukau dengan teknologi yang Siemens miliki serta proyek energi yang digarap Siemens secara internasional. "Ngobrol sama mentor saja rasanya belajar banyak sekali. Dia berbagi kisah dengan ragam proyek instalasi yang ditangani di Jerman atau di luar negeri, jenis energi diluar fossil fuel yang terus dikembangkan mereka seperti misalnya Hidrogen ... banyak sekali masukan yang bermanfaat,"kisah Raffly.

Raffly menikmati masa belajar dan bekerjanya di Siemens, meski diakuinya berkomunikasi di perusahaan besar tidaklah mudah, berbeda dengan komunikasi yang akrab dan familiar saat dulu bekerja di start-up.

Seusai studi, Raffly berharap untuk bisa melanjutkan studinya ke jenjang lebih tinggi lagi dengan peminatan metode energi terbarukan. "Lebih lanjut lagi saya ingin mengulik lebih lanjut misalnya bagaimana mengurangi efek suara bising dari kincir angin, atau banyak tema lainnya darienergi terbarukan selain kincir angin," jelas Raffly.

Laporan Pilihan