Inilah Keuntungan Memilih Jerman Sebagai Destinasi Studi | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 08.05.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pendidikan

Inilah Keuntungan Memilih Jerman Sebagai Destinasi Studi

Tak bisa ditampik, banyak yang mengenal Jerman sebagai negara tempat B.J. Habibie menempuh ilmu, namun masih sedikit yang melirik negara ini sebagai negara destinasi pendidikan.

"Kuliah di Jerman, sulitkah?” pertanyaan ini diajukan seorang ibu yang anaknya duduk di bangku kelas 2 SMA dan bercita-cita mengambil studi teknik aeronautika di Jerman, melanjutkan jejak B.J. Habibie yang menjadi idolanya. Dalam talkshow bertajuk "Tantangan Studi di Jerman: Prospek dan Kompetensi Calon Mahasiswa Indonesia”, yang digelar di Gedung LLDIKTI Surabaya pekan lalu, sekitar 230 peserta bisa menanyakan langsung berbagai hal yang ingin mereka ketahui terkait studi di Jerman. 

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, KBRI Berlin bersama Kemenristekdikti membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengetahui persyaratan, persiapan, tantangan dan keuntungan studi di Jerman. 

Baca juga:Kiat Sukses Berkuliah Sambil Bekerja di Jerman 

"KBRI Berlin datang dengan satu misi meningkatkan awareness masyarakat mengenai universitas Jerman sebagai destinasi studi. Kita tidak bermaksud menampikkan kualitas pendidikan di tanah air, namun agar destinasi studi anak-anak kita di luar negeri jangan hanya melulu ke Amerika, Australia atau Inggris,” kata Wakil Duta Besar RI di Berlin, Perry Pada. 

Indonesien Jakarta - Veranstaltung Studieren in Deutschland (KBRI)

Acara KBRI Berlin di Jakarta

Dr. Uwes Chaeruman dari Kemenristekdikti menyampaikan pihaknya memiliki rencana khusus kerja sama pendidikan dengan Jerman, yaitu skema nano-credentials atau nano-degree dimana mahasiswa Indonesia bisa mendapat kredit dari universitas di Jerman melalui e-learning atau distance learning tanpa harus datang ke Jerman. "Ada 4.700 perguruan tinggi di Indonesia namun disparitasnya sangat tinggi. Skema credit transfer seperti ini bisa mendorong mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan kualitas Jerman,” ujarnya. 

Makhdonal Anwar dari Badan Kerjasama Internasional Jerman (GIZ) menyebutkan bahwa pada tahun 2025 Jerman akan mengalami kekurangan 6 juta skilled workers. Ilmu yang didapat dari studi di Jerman selain dapat diterapkan di Indonesia juga dapat menjadi modal bekerja di Jerman.

Narasumber dari Universitas RWTH Aachen, Prof. Thomas Rüde, dan Hochschule Wismar, Dr.-Wolfgang Busse menyampaikan kiat-kiat sukses kuliah di Jerman. "Proses masuk dan menyelesaikan kuliah di Jerman itu memang susah, namun bisa ditaklukan dengan persiapan yang matang bahkan sejak sebelum kedatangan. Penguasaan bahasa Jerman yang baik akan membantu, tapi kultur belajar mandiri dan determinasi kuat adalah faktor utama kesuksesan,” ungkap mereka. Tuition fee yang 100% gratis, literatur dan laboratorium yang memadai, kesempatan bekerja paruh waktu, dan kesempatan mendapatkan beasiswa tambahan dari kampus adalah beberapa alasan mengapa memilih studi di Jerman.

Prof. Rüde secara khusus menyampaikan bahwa RWTH Aachen adalah universitas terbaik Jerman di bidang natural and engineering sciences dimana B.J. Habibie menimba ilmu. Namun disayangkan hingga saat ini masih belum masuk ke daftar universitas tujuan beasiswa LPDP meskipun Times Higher Ranking menempatkan RWTH Aachen di posisi 27 terbaik dunia untuk subjek engineering sciences.

Baca juga:Dolfina Mansnembra, Calon Pakar Laser dari Papua 

Narasumber dari Direktorat Konsuler dan Direktorat Perlindungan WNI Kemlu menjelaskan seluk beluk pengurusan dokumen perjalanan seperti paspor dan visa dan kehadiran negara untuk melindungi warga negara di luar negeri. Success stories dua mantan mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Jerman juga dihadirkan untuk menginspirasi para peserta yang tidak hanya berasal dari Surabaya, namun juga dari Sidoarjo, Mojokerto dan Malang, Bogor, Tangerang, bahkan Samarinda.

Talkshow ini menyediakan informasi utuh mengenai studi di Jerman baik dari pihak universitas, pejabat KBRI, mahasiswa dari masing-masing sudut pandang yang berbeda. KBRI Berlin juga secara rutin menyelenggarakan pertemuan Guter Start in Deutschland (Awal Baik di Jerman) dua kali setahun yang mengumpulkan para mahasiswa yang baru tiba untuk mendapatkan segala informasi yang diperlukan untuk mendukung suksesnya perkuliahan mereka di Jerman.

Sekitar 700 siswa datang ke Jerman untuk belajar di Perguruan Tinggi Jerman setiap tahunnya, baik melalui jalur beasiswa, agen, maupun pribadi. Saat ini tercatat 4.552 Mahasiswa dan calon Mahasiswa Indonesia di Jerman yang sedang mengikuti program Studienkolleg (Sekolah Bahasa dan Penyetaraan), S1 (Bachelor Degree), S2 (Master Degree) dan S3 (Doctor Degree).

Lebih banyak tentang tema sekolah di Jerman bisa disimak di www.dw.com/dwnesia dan kanal Youtube DW Indonesia. 

vlz/as (kbri berlin)

Laporan Pilihan