Kuliah di Jerman: Tak Cukup Bermodal Otak, Perlu Juga Mental Baja | KAMPUS: Tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Jerman | DW | 21.08.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kampus

Kuliah di Jerman: Tak Cukup Bermodal Otak, Perlu Juga Mental Baja

Tiap tahun ratusan calon mahasiswa Indonesia datang ke Jerman untuk memulai studi S1. Namun tingginya angka kedatangan calon mahasiswa ini tidak sebanding dengan jumlah angka kelulusan. IWKZ Tutorium tawarkan bantuan.

Berlin - IWKZ Tutorium

Belajar bersana di Jerman lwat bimbingan belajar IWKZ Tutorium

“Adikku berangkat ke Jerrman tahun 2018  untuk studi. Setahun lebih adik saya studi persiapan masuk kuliah di Jerman, lalu dia gagal ujian dan pulang ke tanah air. Dia sulit diajak bicara soal kegagalannya itu. Adik saya itu juara kelas terus ketika di SMA dan dia rajin kursus bahasa Jerman. Setahun setelah pulang ke Indonesia, kini ia baru mau bicara lagi dan kuliah informatika di salah satu universitas di Jakarta,“ demikian Melanie Bachtiar bercerita tentang adiknya yang mengalami depresi setelah gagal masuk perguruan tinggi di Jerman. 

“Perlahan kami mengerti, pintar saja tidak cukup. Adikku waktu itu stres karena merasa sulit beradaptasi, baik karena bahasanya baru, maupun bagaimana bergaul dengan kawan, semua serba baru, dia tak kuat mental,” ujar Melanie lebih lanjut.

Sementara itu, Fadlilah Nur Hasanah bercerita bagaimana keresahannya dulu sebelum masuk Studienkolleg, “Rasanya deg-degan. Selain sebagai jembatan untuk masuk universitas, kita juga baru bisa dapat visa mahasiswa, tiket semester dan izin kerja setelah mendapat tempat di Studienkolleg, jadi belum bisa menentukan dengan jelas, di kota mana mau menetap kalau belum dapat Studienkolleg. Bisa dibilang rasanya belum bisa tenang dan pengeluaran belum bisa hemat juga saat itu,“ paparnya.

Fadlilah Nur Hasanah

Fadlilah Nur Hasanah kini sudah masuk kuliah di Saarbrücken.

“Pada saat mau masuk Studienkolleg itu saingannya cukup ketat karena jumlah pendaftar jauh lebih banyak daripada jumlah kursi Studienkolleg. Kalau sampai empat kali ujian masuk belum diterima, kita tidak bisa kuliah di sini,“ demikian kata Fadlilah. “Kalau di Indonesia, saat mau ujian masuk universitas kan banyak tersedia bimbingan belajar (bimbel). Berat untuk anak-anak yang mau ke Jerman tanpa agen. Sebenarnya setiap Studienkolleg yang mau kita daftar memberikan rambu-rambu materi yang akan diuji, juga contoh soalnya. Tapi jujur dari situ saja tidak cukup untuk mempersiapkan diri. Biasanya soal pada saat ujian jauh lebih susah daripada contohnya,“ kata Fadlilah yang datang ke Jerman tahun 2018.

Tersedia pula layanan belajar secara online

Ia merasa beruntung, bertemu kawan-kawan untuk belajar bersama di Indonesische Weisheits- und Kulturzentrum (IWKZ) atau Pusat Kearifan dan Kebudayaan Indonesia di Berlin “Nah, di Tutorium ini, kakak-kakak tutornya sudah menyediakan soal-soal yang tipikal dengan ujian masing-masing Studienkolleg berdasarkan pengalaman orang-orang sebelumnya. Diberi materi dan juga latihan soal yang lebih banyak, berbagi pengalaman, penjelasan gambaran ujian dan lainnya  sehingga kita bisa lebih baik dalam mempersiapkan ujian,“ tambah Fadlilah.

“Dari tutorium ini saya juga berkenalan teman-teman yang sama-sama mau ujian. Jadi bisa berbagi penginapan, naik kereta sama-sama, dll. Pertemanan ini juga bertahan sampai ketika sudah masuk universitas. Sampai sekarang saya masih suka tanya sama kakak tutornya kalau ada kesulitan materi di universitas. Bahkan saya diajak mengajar di IWKZ,“ papar fadlilah yang sudah lulus ujian masuk perguruan tinggi dan baru masuk kuliah di Fakultas Data Science and Artificial Intelligence, Universitas Saarland.

Koordinator Tutorium Online IWKZ Muhammad Aldo Farizky menjelaskan tutorium yang dimaksud bermula dari anak-anak Studienkolleg yang belajar bersama dan setelah dari situ dibentuklah organisasi dan diorganisir pembelajarannya,“Jadi ada kurikulumnya, runutannya, ada pengajarnya, ada tutornya dan segalam macam. Jadi awalnya mulai dari sini, bagaimana kita bisa saling bantu belajar bersama dan kita buat ini jadi terstruktur. Termasuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi.“

Pelayanan IWKZ tutorium bukan hanya bagi calon mahasiswa yang sudah ada di Jerman, namun juga bagi siswa yang masih di Indonesia atau di kota-kota lain selain Berlin. mereka bisa mengakses layanan ini via online, “Sekarang juga banyak ada trennya di mana mahasiswa berangkat secara mandiri, jadi kita mau kasih “sense of community” ini… Ada kakak-kakak kalian dan kita mau mengajarkan teman-teman ini loh tesnya seperti ini dan sekaligus juga mengenalkan komunitas yang ada di sini secara tidak langsung. Yang paling penting juga pastinya kita mau tujuan akhirnya teman-teman ini bisa lolos tes penerimaan masuk ke universitasnya, bisa lolos tesnya dan bisa kuliah,“ papar Aldo.

Mental yang kuat

Fadlilah bercerita, tantangan studi di Jerman yang pertama kali dihadapinya adalah bahasa. “Meskipun sudah kursus bahasa dan lulus Studienkolleg, tidak dipungkiri bahasa masih sering menjadi halangan. Untuk komunikasi dengan dosen dan teman-teman terkadang harus mengulang-ulang kalimat,“ demikian Fadlilah mengakui kesulitannya. 

“Kemudian butuh usaha lebih untuk berteman dan membuat kelompok belajar. Apalagi saya baru masuk semester 1 bulan April 2020 , di saat semua kuliah dijalanankan lewat online. Mempelajari materi kuliah itu sangat sulit kalau sendirian. Jadi harus berusaha kenalan sama teman-teman dan juga berusaha memulai diskusi bersama mereka,“ ujar gadis asal Yogyakarta ini lebih lanjut.

Berlin - IWKZ Tutorium - Tutor: Muhammad Aldo

Koordinator Tutorium Online IWKZ Muhammad Aldo Farizky

“Juga soal manajemen waktu. Kita diberi kebebasan untuk ambil mata kuliah dan ujian apa saja di setiap semesternya. Untuk bisa ikut ujian juga biasanya ada persyaratan seperti proyek atau tugas yang harus diselesaikan. Untuk menyelesaikan syarat ujian itu butuh waktu yang cukup banyak, belum lagi persiapan untuk ujian itu sendiri. Ditambah, keperluan sehari-hari seperti bersih-bersih, masak, cuci baju semua harus kita lakukan sendiri,“ kata Fadlilah, “Harus pintar atur waktu supaya target tiap semester kita bisa tercapai.“

Sementara itu Koordinator Tutorium Online IWKZ Muhammad Aldo Farizky mengingatkan yang menjadi tantangan sebagai perantau harus  berurusan sama urusan legalitas formal Jerman yang dikenal cukup ‘berliku-liku‘, “Jadi dalam kehidupan kuliah kita juga harus mengurusi kehidupan itu sendiri di samping yang lain-lain, mulai dari rumah, asuransi, semua dokumen yang diperlukan  untuk tinggal di Jerman.“

Tingkat kegagalan studi

Sebagaimana Fadlilah, Aldo juga merasakan sulitnya faktor bahasa ketika studi di Jerman. ”Kita kan juga baru belajar bahasa Jerman pada umumnya kita, jadi mungkin sekitar satu tahun atau dua tahun ke belakang, hal itu mungkin bisa jadi satu tantangan yang khusus dari bagaimana kita menyerap materi-materi kuliah dalam bahasa Jerman." Namun menurut Aldo tantangan-tantangan itu sebenarnya bisa diatasi. “Selama kita tangguh, ‘tahan banting’ ya lama kelamaan bisa. Tapi yang paling penting adalah untuk tidak menyerah pada saat menghadapi masalah-masalah legal formal yang tidak sederhana di Jerman,“ tegasnya. 

Mempersiapkan mental untuk studi dan hidup di Jerman menjadi kunci keberhasilan dalam belajar, demikian ditekankan Aldo. “Yang pasti, jangan sampai kuliah di Jerman hanya sekedar ikut-ikutan karena aspek paling penting untuk menghadapi tantangan kehidupan itu bukan hanya kehidupan studi saja di Jerman adalah punya mental… Yang saya amati sejauh ini kalau misalkan kemauannya murni, datang dari kita sendiri seharusnya seperti apapun tantangannya harusnya bisa ditempuh atau bisa diatasi,“ tandas tutor online ini.

Dalam keterangan Panduan Studi di Jerman yang dirilis oleh Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman, tercatat setiap tahunnya, sekitar 700 calon mahasiswa Indonesia datang ke Jerman untuk memulai studi di tingkat Strata-1 (S1). Namun demikian, tingginya angka kedatangan calon mahasiswa asal Indonesia ini tidak sebanding dengan jumlah angka kelulusan. Permasalahan yang sering dihadapi oleh para mahasiswa adalah: gegar budaya, kurangnya pemahaman mengenai sistem perkuliahan di Jerman, manajemen waktu, serta kurangnya pemahaman mengenai birokrasi administrasi yang perlu dilewati oleh orang asing untuk hidup di Jerman.