Kuliah Pendidikan Guru di Jerman, Apa Tantangannya? | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 06.06.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kampus

Kuliah Pendidikan Guru di Jerman, Apa Tantangannya?

Profesi seorang guru di Jerman begitu dihargai dan kredibilitasnya harus benar-benar terjamin. Sistem kuliah pendidikan keguruan bisa hampir disetarakan dengan jurusan kedokteran, farmasi atau hukum.

Sarah Farisza Andera, atau biasa disapa Sarah kini tengah menjalani kuliah jurusan pendidikan guru di Universitas Duisburg-Essen. Meskipun tidak semua universitas menyediakan jurusan ini, bukan jadi halangan bagi Sarah yang tinggal di Düsseldorf. Ia harus menempuh perjalanan dengan kereta ke kota Essen (30 menit dari Düsseldorf) setiap harinya.

Sarah mengambil pendalaman bahasa Inggris dan bahasa Perancis di jurusannya. Tidak ada syarat khusus untuk kuliah pendidikan guru selain lulus SMA di Jerman atau Studienkollegbagi mahasiswa asing. Numerus clausus (nilai minimum) untuk jurusan ini adalah 2,4 atau bisa disetarakan dengan nilai 8 di Indonesia. Sedangkan diperlukan sertifikat level B2 untuk memasuki kelas pendalaman—bagi yang belum punya, akan disediakan kursus bahasa gratis dari universitas, dan jika lulus, baru mahasiswa bisa mengikuti kelas pendalaman tersebut. Contohnya, di sini Sarah yang ingin mengambil keguruan untuk bahasa Inggris dan Prancis sudah memiliki sertifikat level B2 bahasa Inggris, namun belum memiliki sertifikat B2 bahasa Prancis, maka ia harus mengikuti kursus bahasa Prancis terlebih dahulu sembari tetap kuliah seperti biasanya.

Yang unik dari jurusan pendidikan guru di Jerman sendiri, ada 3 jenjang pendidikan yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar sebagai guru. S1 harus ditempuh selama 6 semester—jika tidak ada kendala, tapi seperti yang kita tahu, kuliah di Jerman, terutama S1 bukanlah sesuatu yang mudah. Kemudian, mahasiswa jurusan ini harus menempuh jenjang S2 selama 4 semester. Belum selesai sampai di situ, masih ada jenjang terakhir yang harus ditempuh, yaitu Refendariat. Di mana mahasiswa yang sudah lulus S2 mulai mengajar di sekolah-sekolah selama 1,5 tahun lamanya, namun masih harus didampingi oleh guru senior. Apakah setelah Refendariat seseorang bisa langsung menjadi guru? Masih belum! Mereka harus menulis ujian negara yang jika lulus, baru akan mendapat gelar sebagai guru.

Ujian negara sendiri merupakan suatu hal yang begitu sulit, tak jarang banyak yang harus mengulang tahun, dan ini terjadi baik pada mahasiswa Jerman, maupun pada mahasiswa asing.

Sebagai seseorang yang tidak mudah untuk berkenalan, apalagi terbuka dengan orang lain, profesi guru ini sebenarnya begitu menantang bagi Sarah. Karena setelah lulus dan menjadi guru, ia harus mengenal murid-muridnya secara pribadi dan akan terus menerus berkomunikasi di depan umum. Mungkin terdengar mudah bagi beberapa orang, tetapi sebagai mahasiswa asing yang nantinya akan mengajar dalam bahasa Jerman, di negara orang, dan akan mengajar bahasa asing lainnya, ini tentu menjadi tantangan yang begitu besar.

Di dalam kelas sendiri, Sarah yang masih duduk di semester kedua ini dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran menarik seperti psikologi, Sprachpraxis (kelas public speaking), ilmu mengajar, filsafat dan mata kuliah lain yang menuntut mahasiswa untuk aktif dalam berdiskusi dan presentasi. Kelas yang padat dari pagi hingga malam, membagi waktu antara kerja sambilan dan kuliah, perjalanan ke kota lain setiap hari dan waktu kuliah yang lumayan lama merupakan tantangan lainnya yang harus dijalani mahasiswi asal Jakarta tersebut.

Lalu, apa yang membuat Sarah tetap ingin menjadi guru? Sebesar apa motivasinya?

Singkat cerita, Sarah telah lulus SMA di Indonesia pada tahun 2014, namun ketika ia ikut keluarganya pindah ke Jerman, orang tuanya lebih memilih Sarah untuk mengulang SMA lagi. Ya, ia harus mengulang lagi selama 3 tahun. Tentunya sebuah perubahan besar seperti proses migrasi dan adaptasi dalam budaya yang kontras bagi seseorang dapat menyebabkan stress dan kurang percaya diri, terlebih untuk seseorang yang cenderung tertutup seperti Sarah.

Di awal masa SMA di Jerman, masalah bahasa dan adaptasi baru membuat Sarah kurang semangat menjalani sekolahnya. Seorang guru datang menghampirinya dan menanyakan apa yang ia bisa bantu. Tentu di sekolahnya banyak guru yang bertanya seperti itu, namun gurunya yang satu itu benar-benar membantunya dalam segala hal; baik soal pelajaran, mau pun bahasa. Sarah merasa banyak terbantu karenanya ia dapat bangkit sampai ia lulus Abitur (sistem UN di Jerman) dan semenjak saat itu ia bercita-cita menjadi seorang guru seperti beliau. Karena tidak sedikit anak-anak berlatar belakang migrasi seperti Sarah yang bersekolah di Gymnasium-nya, kelak Sarah ingin sekali  membantu anak-anak seperti dirinya agar mereka bisa lulus, percaya diri dan semangat untuk menjalani pendidikannya.

ck/na

*Simak serial khusus #DWKampus mengenai warga Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman dan Eropa di kanal YouTube DW Indonesia. Kisah putra-putri bangsa di perantauan kami hadirkan untuk menginspirasi Anda.

Laporan Pilihan