1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Penumpang melakukan boarding untuk Fake Flight di bandara Taipei
Boarding untuk Fake Flight di bandara TaipeiFoto: Reuters/Ann Wang
Ekonomi

Kiat Maskapai Penerbangan di Masa Corona: Jual "Fake Flight"

Andreas Spaeth
19 Agustus 2020

Industri penerbangan harus kreatif selama masa pandemi corona. Beberapa maskapai penerbangan sekarang menawarkan berbagai kreasi barunya: dari penerbangan tanpa mengudara sampai menu pesawat untuk dibawa pulang.

https://www.dw.com/id/kiat-maskapai-penerbangan-di-masa-corona-jual-fake-flight/a-54610963

Larangan perjalanan yang diberlakukan selama masa pandemi corona memaksa maskapai penerbangan memutar otak, untuk tetap bisa menjual tiket dan menghasilkan uang. Lumpuhnya industri penerbangan tidak hanya menghantam maskapai, melainkan juga jaringan industri pendukungnya, seperti industri katering yang khusus menyuplai makanan untuk penerbangan.

Di lain pihak, penumpang yang setia dan terbiasa bepergian dengan pesawat juga merasa kehilangan. Terutama suasana dalam pesawat terbang, yang bagi banyak orang memiliki kesan tersendiri. Situasi inilah yang dimanfaatkan beberapa maskapai.

Ada maskapai penerbangan yang kini menawarkan ''penerbangan palsu'' atau ''fake flight''. Maksudnya, semua prosedur penerbangan tetap berlaku bagi penumpang, seperti pemeriksaan barang, proses check-in, sampai masuk kedalam pesawat dan mencari tempat duduk sesuai nomor kursi. Hanya saja, pesawat itu tidak akan lepas landas dan hanya melakukan simulai.

Penumpang Fake Flight dalam pesawat di bandara Taipei
Penumpang Fake Flight di bandara TaipeiFoto: Reuters/Ann Wang

Suasana lepas landas dengan ''Fake Flight''

Pada bulan Juli, sudah ada tiga "fake flights” yang bisa dipesan di bandara Taipei, ibukota Taiwan. Sudah ada sekitar 7.000 orang yang memesan tiket. Tapi karena kapasitas pesawat terbatas, dilakukan pengundian untuk 60 penumpang pada setiap penerbangan dengan pesawat Airbus A330.

“Para peserta menjalani pemeriksaan keamanan, pemeriksaan identifikasi dan prosedur imigrasi lainnya, kemudian mereka benar-benar naik pesawat untuk merasakan asyiknya boarding,” kata Tng Hsu, staf bandara di Taipei dengan penuh antusias. Pesawat itu memang tidak mengudara dan selama “fake flight” tetap berada di kawasan parkir bandara.

Bulan Agustus, maskapai penerbangan Eva Air juga menawarkan penerbangan khusus bertepatan dengan Hari Ayah di Taiwan. Pesawat dengan nomor penerbangan 5288 itu siap menampung penumpang dengan motto: "Aku sayang Ayah". Ini bukan penerbangan palsu, tetapi penerbangan keliling pulau Taiwan.

Seluruh 309 kursi di Airbus A330 dengan corak khusus Hello Kitty itu terjual habis hanya dalam beberapa menit. Penerbangan dimulai dengan lepas landas dari Bandara Internasional Taoyuan Taipei, lalu pesawat terbang melingkar di sekitar pulau dan memasuki wilayah udara Jepang sebelum kembali ke lokasi awal. Durasi perjalanan udara itu sekitar tiga jam. Harga tiketnya sekitar 180 sampai 210 dolar AS. Selama perjalanan, penumpang disajikan menu pesawat dari koki terkenal, Motoke Nakamura.

Menu pesawat untuk dibawa pulang

Perusahaan katering penerbangan juga muncul dengan model bisnis baru: menu pesawat “to go”. Salah satunya Gate Gourmet yang berbasis di Swiss - perusahaan katering penerbangan terbesar di dunia.

Bulan Juni, cabang perusahaan di Australia mulai menawarkan menu pesawat yang bisa dipesan secara online. Ada 10 jenis menu yang bisa dipesan dengan harga sekitar 10 sampai 15 dolar AS. Makanan itu sudah dibekukan, dan di rumah bisa dipanaskan lagi dalam microwave dan siap disantap.

Menunya mulai dari kari daging sapi dengan nasi atau ayam parmigiana dengan kentang goreng, seperti menu pesawat yang umumnya dihindangkan di udara.

Maskapai penerbangan Air Asia bertindak lebih jauh lagi dengan membuka sebuah restoran di Kuala Lumur, yang khusus menyajikan hidangan terlaris dari menu pesawat.

"Kami melihat minat yang besar untuk penawaran menu pesawat di luar penerbangan, dan ini adalah jawaban kami untuk permintaan itu," kata manajer Catherine Goh, yang berencana untuk membuka cabang lain di bawah merek “Santan”.

Menu terlairs Air Asia hingga kini adalah Nasi Lemak Pak Nasser, yang disajikan dengan pasta cabai, kacang tanah, ikan teri, dan telur rebus. Hampir tiga juta porsi bisa dijual dalam setahun dalam pesawat. Sekarang, hidangan ini disajikan untuk konsumsi di darat dengan harga di bawah 4 dolar.

(hp/pkp)