Khawatir Tekanan Rusia Pascaperang di Afganistan, Ukraina Berupaya Galang Dukungan AS | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.09.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ukraina

Khawatir Tekanan Rusia Pascaperang di Afganistan, Ukraina Berupaya Galang Dukungan AS

Presiden Ukraina berkunjung ke Washington untuk bertemu dengan Joe Biden. Lawatan ini diyakini sebagai upaya untuk menggalang dukungan melawan agresi Rusia yang dikhawatirkan meningkat pascaperang di Afganistan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Joe Biden, Rabu (01/09)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Joe Biden, Rabu (01/09)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berencana meminta dukungan terkait modernisasi militer kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Rabu (01/09). Hal ini dilakukan menyusul munculnya kekhawatiran akan meningkatnya tekanan dari Rusia setelah penarikan pasukan AS dari Afganistan.

Para pejabat Rusia sebelumnya telah menyatakan bahwa apa yang terjadi di Afganistan adalah pelajaran bagi Ukraina, yang dinilai mengandalkan Barat dalam perang tujuh tahun mereka melawan kelompok separatis yang terkait dengan Moskow. Namun, Biden di sisi lain bersikeras bahwa mundurnya pasukan AS dari Afganistan adalah untuk mengakhiri distraksi berbiaya mahal guna menghadapi ancaman yang lebih besar, yakni Rusia dan Cina.

Zelensky sebelumnya telah berkunjung ke Pentagon pada Selasa (31/08), beberapa jam setelah pasukan terakhir AS lepas landas meninggalkan Kabul. Dalam kesempatan itu, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan kepada Zelensky bahwa AS berkomitmen untuk terus menuntut Rusia agar "berhenti mengabadikan konflik” di Ukraina timur dan meninggalkan Krimea, semenanjung yang direbut Rusia dari Ukraina pada tahun 2014.

"Kami akan terus membantu Anda dalam menghadapi agresi Rusia ini,” kata Austin.

Austin juga menyoroti paket bantuan baru senilai $60 juta untuk militer Ukraina. Menurutnya, AS telah berkomitmen sebesar $2,5 miliar untuk pertahanan Ukraina sejak 2014, yaitu ketika Rusia melakukan intervensi karena Ukraina semakin mendekat ke Barat.

Ukraina galang dukungan AS

Saat berbicara pada Selasa malam, Zelensky mengatakan bahwa dirinya lebih ingin memperhatikan kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh Ukraina, termasuk kebutuhan pasukannya di Laut Hitam. Menurutnya, lebih dari 13.000 orang telah tewas akibat konflik di kawasan itu.

"Kami tidak punya waktu untuk memikirkan strategi. Kami harus menyediakan perlindungan sebanyak mungkin untuk benar-benar mencegah semakin kuatnya agresi [Rusia],” kata Zelensky.

"Ukraina membutuhkan armada modern dan untuk ini kami membutuhkan mitra,” katanya. "Saya ingin mendiskusikan ini dengan Presiden Biden,” tambahnya.

Pada awal tahun ini, Rusia telah mengumpulkan sekitar 100.000 tentara di perbatasan Ukraina dan di Krimea, memicu kekhawatiran akan terjadinya invasi di awal masa jabatan Biden.

Pasukan Rusia kemudian dilaporkan mundur pada bulan April. Namun, sebagian besar peralatan militer mereka masih tetap berada di sana. Sementara itu, Zelensky juga sempat menyuarakan kekhawatiran terkait September yang "berbahaya” ketika Rusia menggelar latihan militer dengan Belarus.

Zelensky mengatakan Ukraina saat ini masih bergantung pada peralatan Soviet yang sudah tua. Itulah sebabnya, ia ingin Ukraina menjadi mitra produksi yang lebih besar dengan Amerika dan bekerja sama lebih erat dalam keamanan siber dan mencegah disinformasi.

"Kami tidak meminta hadiah apa pun,” kata Zelensky. "Kami membutuhkan peluang untuk para spesialis kami.”

Situasi Afganistan peringatan bagi Ukraina?

Menurut Alyona Getmanchuk, direktur New Europe Center di Kiev, Ukraina sejatinya jauh lebih sedikit bergantung pada dukungan Barat dibanding bekas pemerintah Afganistan.

Meski begitu, penarikan pasukan Amerika dari Afganistan telah memicu lonceng alarm di seluruh Ukraina dan menjadi peringatan bagi mereka yang percaya bahwa dukungan Barat yang berkelanjutan dapat diandalkan tanpa batas waktu, demikian tulis Getmanchuk dalam sebuah blog untuk Dewan Atlantik yang berbasis di Washington.

gtp/hp (AFP)

 

Laporan Pilihan