Ukraina Sebut Nord Stream 2 Senjata Geopolitik Berbahaya | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.08.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pipa Nord Stream 2

Ukraina Sebut Nord Stream 2 Senjata Geopolitik Berbahaya

Kanselir Jerman bertemu Presiden Ukraina membahas penyelesaian proyek pipa gas Nord Stream 2 yang memperumit hubungan kedua negara. Ukraina menghasilkan miliaran dolar karena mengizinkan gas Rusia transit di negara itu.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy

Ukraina menentang proyek pipa gas Nord Stream 2 yang mengalir dari Rusia ke Jerman

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut pembangunan proyek pipa gas Nord Stream 2 yang akan segera rampung antara Rusia dan Jerman sebagai "senjata geopolitik yang berbahaya." Pernyataan itu dilontarkan Zelenskyy saat konferensi pers bersama dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di Kyiv pada Minggu (22/08) .

"Kami melihat proyek ini secara eksklusif melalui prisma keamanan dan menganggapnya sebagai senjata geopolitik berbahaya Kremlin," kata Zelenskyy.

Dia menambahkan bahwa risiko utama akan "ditanggung oleh Ukraina", tetapi pipa itu juga akan berbahaya "untuk seluruh Eropa" karena akan "bermain di tangan Federasi Rusia," katanya.

Pipa senilai US$ 12 miliar (Rp172,8 triliun) yang terhubung di bawah Laut Baltik akan mempercepat dan menggandakan pengiriman gas alam Rusia ke Jerman, negara ekonomi terbesar di Eropa. Proyek pipa tersebut menghindari Ukraina, sehingga Kyiv tidak menerima biaya transit gas esensial.

Angela Merkel dan Volodymyr Zelenskyy berdiri di luar gedung pemerintah di Kyiv

Ukraina menentang proyek pipa gas Nord Stream 2

Merkel bertemu Zelenskyy usai bicara dengan Putin

Kanselir Jerman Angela Merkel melakukan kunjungan terakhirnya ke ibu kota Ukraina sebelum resmi pensiun pada bulan depan. Perjalanannya ke Kyiv dilakukan dua hari setelah dia bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kanselir mengatakan Berlin setuju dengan Washington bahwa "gas tidak boleh digunakan sebagai senjata geopolitik."

"Itu akan terjadi jika ada perpanjangan kontrak transit melalui Ukraina - lebih cepat lebih baik," katanya. Merkel menambahkan bahwa negosiasi untuk memperluas perjanjian transit gas sedang berlangsung.

Dia menyerukan pertemuan puncak baru antara Jerman, Ukraina, Rusia, dan Prancis.

Perjanjian Moskow saat ini dengan Kyiv berakhir pada 2024 dan kurangnya biaya transit kemungkinan akan menyebabkan masalah ekonomi yang signifikan bagi Ukraina.

Jerman telah membuat komitmen mendukung Ukraina untuk memperbarui bauran energinya dan akan mendukung pengembangan proyek-proyek terbarukan dengan total €1 miliar (Rp17,2 triliun) melalui proyek-proyek bilateral.

Apa lagi yang dibahas Merkel dan Zelenskyy?

Kedua pemimpin juga membahas konflik yang sedang berlangsung di Ukraina timur dengan separatis yang didukung Rusia. Wilayah Donetsk dan Luhansk menjadi prioritas utama, serta kesepakatan Minsk yang goyah yang dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan.

Merkel mengaku masih mendukung upaya mediasi antara Kyiv dan Moskow yang dipimpin oleh Berlin dan Paris, karena pada akhirnya mereka mengizinkan terciptanya dialog. "Tanpa itu, kami tidak akan memiliki kontak apa pun," katanya.

Namun, Merkel mengakui bahwa hingga saat ini hasilnya tidak memuaskan karena peran Rusia dalam konflik tersebut. "Oleh karena itu, kami berada dalam situasi di mana pembicaraan berjalan berputar-putar."

Merkel juga merasa pertemuan para pemimpin baru antara Rusia, Ukraina, Jerman, dan Prancis, diperlukan. Sementara Zelenskyy mendukung gagasan tersebut, dia juga meminta sekutu Barat untuk memperketat "sekrup" di Rusia.

"Selama tidak ada kemajuan, tekanan terhadap Rusia harus terus berlanjut. Kami ingin melihat upaya aktif dari mitra Barat kami," kata Zelenskyy.

Jerman telah menjadi sekutu penting bagi Ukraina sejak Moskow mencaplok semenanjung Krimea pada 2014. Namun, Kanselir Jerman telah membuat frustrasi pihak berwenang Ukraina dengan menentang pengiriman senjata ke Kyiv.

Angela Merkel dan tentara membawa karangan bunga untuk para korban invasi Jerman ke Ukraina selama perang dunia kedua

Tahun ini menandai peringatan 80 tahun invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet

Korban Perang Dunia II dikenang

Minggu pagi (22/08), Kanselir Jerman Angela Merkel mengenang para korban Ukraina dalam Perang Dunia II. Kanselir meletakkan karangan bunga di makam prajurit yang tidak dikenal itu.

Jerman menginvasi Uni Soviet, di mana Ukraina saat itu menjadi bagiannya, 80 tahun yang lalu di bawah rezim Sosialis Nasional.

ha/hp (AP, AFP, dpa, Reuters)

Laporan Pilihan